Monday, August 15, 2022

Sengon Genjah Panen Umur 2,5 Tahun

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Jika anggota staf teknis di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Mawi, tak memangkas batang – ia 4 kali memotong – tinggi tanaman kian menjulang. Mawi mesti memangkas sengon Paraserianthes falcataria karena tanaman itu tumbuh dalam rumah kaca. ‘Setiap kali pucuk tanaman menyentuh atap, saya selalu memangkas,’ kata Mawi. Tinggi rumah kaca berukuran 7,1 m x 4,7 m itu mencapai 5 meter, menaungi 4 pohon sengon yang tumbuh seragam. Padahal, lazimnya diameter batang sengon berumur sama maksimal 2 cm dan tinggi 2 meter.

Pertumbuhan pohon anggota famili Fabaceae itu memang terbilang supercepat. Pertumbuhan pohon melesat karena pemulia sengon dari Pusat Penelitian Bioteknologi, Dr Enny Sudarmonowati, menyisipkan gen pohon poplar dalam sengon. Poplar Populus alba memang sohor sebagai pohon yang pertumbuhannya cepat, yakni 7 meter per tahun. Pohon-pohon sengon yang tersisipi gen poplar itu kini masih menjalani uji stabilitas DNA dan tahap Lapangan Uji Terbatas (LUT).

Peneliti itu tergerak untuk merekayasa sengon genjah karena kebutuhan kayu yang kian meningkat. Celakanya, hutan yang selama ini menjadi sumber pemasok kayu banyak mengalami kerusakan dan deforestasi alias penggundulan. Setiap tahun laju deforestasi hutan di Indonesia mencapai 7,8-juta ha.

Tiga bulan

Menurut Enny Sudarmonowati sengon transgenik ini membutuhkan tahap uji lapangan terbatas sebelum para pekebun dapat membudidayakan sengon genjah. Pertumbuhan supercepat menyebabkan  para pekebun dapat menuai kayu pada umur 2,5 tahun. ‘Kalau biasanya tanaman sengon baru bisa dipanen pada umur 5 tahun, maka tanaman transgenik ini bisa segera dipanen pada umur 2,5 – 3 tahun,’ kata Enny.

Enny merekayasa sengon bongsor itu sejak 1992 dengan memperbanyak tanaman melalui teknologi kultur jaringan. Doktor Filsafat alumnus University of Bath, Inggris, itu menyisipkan gen selulase (PaPopCel1) dari pohon poplar melalui bakteri Agrobacterium tumefaciens. Tentu saja ia telah menghilangkan virulensi – kemampuan bakteri untuk menimbulkan penyakit – pada Agrobacterium tumefaciens.

Langkah berikutnya ia memasukkan kultur jaringan sengon ke dalam cairan bakteri selama 5 – 10 menit. Enam bulan berselang, ia memindahkan sengon seukuran kelingking ke rumah kaca. Media tanam berupa tanah. PaPopCel1 memang mampu meningkatkan panjang dan diameter batang. Daun pun lebih lebar dan berwarna hijau tua sehingga kemampuan fotosintesis sengon bisa lebih cepat. Sengon bergen poplar itu mulai menunjukkan perbedaan tumbuh pada umur 3 bulan. Ketika itu ukuran daun lebih lebar dan batang tumbuh menjulang hingga 60 cm. Pada umur sama tinggi sengon ‘konvensional’ paling hanya 50 cm.

Ahli sengon dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Iskandar Zulkarnain Siregar, mengatakan sengon bongsor itu berpotensi memenuhi kebutuhan kayu yang semakin meningkat. ‘Namun, kita masih harus melihat bagaimana tahap uji lapangan penanaman sengon transgenik itu,’ kata Zulkarnain. Ia berharap sengon itu adaptif di lahan marginal yang miskin air dan resistan terhadap serangan hama serta penyakit. Sedangkan pekebun sengon di Temanggung, Jawa Tengah, Agus Sumarno dan Dian Hadiyanto, menyambut gembira kehadiran sengon genjah. ‘Meski ragu bisa dijual dengan harga yang sama, tetapi saya ingin mencoba sengon jenis baru itu, ‘ kata Dian.

Bioetanol

Kualitas kayu sengon transgenik secara umum setara dengan sengon biasa. Dengan bobot jenis 0,4 dan tingkat kerapatan 460 – 650 kg/m3, sengon jenis ini dapat dipakai untuk industri furnitur dan pulp. ‘Kami belum menguji daya tahan terhadap hama sengon karena masih fokus pada tahap uji lapangan mendatang,’ tutur Enny.

Kelebihan sengon hasil rekayasa Enny Sudarmonowati bukan hanya pada pertumbuhan. Menurut Enny sengon itu juga berkadar selulosa lebih tinggi (54,6) dan rendah lignin. Selulosa yang lebih tinggi memudahkan proses hidrolisis. Artinya, meningkatkan kadar rendeman pembuatan bioetanol. Dengan sengon konvensional, produsen memerlukan 6,12 kg bahan baku untuk menghasilkan 1 liter bioetanol.

Kadar Selulosa

Komponen

Sampel Sengon

Kontrol

Transgenik

Selulosa

52,6

54,4

Lignin

26,5

25,3

Hemiselulosa

21,0

20,3

Menurut periset bioetanol asal kayu dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Wasrin Syafii, lignin berbentuk kristal menghambat proses fermentasi selulosa. Untuk mengatasinya produsen bioetanol menyingkirkan lignin melalui proses delignifikasi. Kandungan lignin lebih sedikit membuat proses delignifikasi pun lebih cepat. ‘Penggunaan klorin yang bersifat karsinogenik dalam proses delignifikasi dapat diminimalisir karena secara alami lignin di dalamnya telah berkurang,’ kata peneliti yang meraih gelar profesor riset pada 28 Mei 2010 itu.

Enny mengatakan tingginya kadar selulosa berkat kehadiran hormon xyloglukanase dari pohon poplar asal Jepang. Gen itu membuat sengon berkadar selulosa lebih tinggi daripada tanaman kontrol. Keistimewaan itu menempatkan sengon bongsor juga potensial sebagai bahan baku bioetanol.

Saat ini proses perbanyakan sengon transgenik masih melalui metode kultur jaringan untuk mendapatkan benih yang seragam. ‘Perbanyakan vegetatif mungkin  dilakukan jika telah sampai pada tahap uji lapangan,’ ujar Enny. Semua itu berawal dari jasa baik gen poplar asal Jepang yang memang sohor sebagai pohon genjah. (Endah Kurnia Wirawati)


  1. Sengon umur 6 bulan yang telah dipangkas 2 – 3 kali karena hampir menyentuh atap rumah kaca
  2. Kayu sengon dipakai untuk industri furnitur dan pulp
  3. Sengon ‘konvensional’ panen pada umur 5 – 6 tahun, sengon transgenik 2,5 – 3 tahun

Foto-foto: Ari Chaidir & Endah Kurnia

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img