Friday, January 16, 2026

Peluang Bisnis Lidah Buaya

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Bisnis lidah buaya segar dan olahan berpotensi bagus di masa mendatang. Supardi, pekebun lidah buaya di Kabupaten Bogor mengaku belum mampu memenuhi permintaan lidah buaya.

Supardi menanam lidah buaya di lahan seluas 0,5 ha berpopulasi 1.000 tanaman. Setiap pekan Supardi memanen 300—500 kg lidah buaya untuk para pelanggannya. Produksinya itu belum mampu memenuhi permintaan lidah buaya setiap bulan.

“Permintaan per bulan bisa 10 ton, tetapi sulit mencari lahan untuk perluasan kebun,” kata Supardi.

Sementara itu, pekebun lidah buaya di Kalisuren, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Yohanes Irwanto Ngkai, mengatakan pasar memerlukan lidah buaya berkualitas bagus.

Yohanes membuka kebun 7.000 m² pada Januari 2020. Sebelumnya Yohanes memiliki kebun lidah buaya 1,4 hektare (ha) di Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Namun ia membongkar kebun sewaan itu karena pemilik lahan ingin menggunakan tanah itu. Lahan di Parung tersisa 3.000 m² .

“Saya buka di Kalisuren agar pasar tetap bisa dipenuhi. Tanaman juga kami pindah,” kata Yohanes yang memanen perdana daun lidah buaya pada 12 bulan setelah tanam.

Kini Yohanes memanen 3—5 ton lidah buaya setiap bulan. Harga lidah buaya Rp8.000 per kg sehingga omzet Yohanes Rp24 juta—Rp40 juta. Sayang, ia menolak menyebutkan biaya produksi lidah buaya.

Lidah buaya hasil produksinya itu dibeli oleh 4 pemasok yang melayani pasar swalayan hinga industri olahan. Mereka datang bergantian ke kebun setiap pekan sehingga panen di kebun nyaris setiap 2 hari sekali.

Pembelian 150—200 kg setiap datang tergantung jumlah permintaan atau spesifikasi yang tersedia di kebun. Menurut Yohanes pasar swalayan modern membutuhkan daun berbobot lebih dari 700 g, pabrik olahan (lebih dari 500 g), dan industri rumahan menerima daun berbobot kurang dari 500 g.

Di Kabupaten Bogor bukan hanya Supardi dan Yohanes yang mengebunkan lidah buaya. Ada Weli Kusmiati yang memiliki 6 kebun di Parung dengan luasan bervariasi yang totalnya 2 ha.

“Kami harus mulai dari nol karena banyak lahan yang sudah panen tiba-tiba dihentikan sewanya,” kata Weli.

Weli melayani pemasok pasar swalayan modern untuk lidah buaya berbobot lebih dari 600 gram. Sementara lidah buaya kurang dari 600 g diolah sendiri menjadi beragam olahan.

Anda dapat mengetahui lebih lanjut seputar peluang bisnis lidah buaya di Majalah Trubus di Majalah Trubus Edisi 640 Maret 2023. Dapatkan Majalah Trubus Edisi 640 Maret 2023 di Trubus Online Shop atau hubungi WhatsApp admin pemasaran Majalah Trubus.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img