Monday, November 28, 2022

Peluang Bisnis Srikaya Jumbo

Rekomendasi

Beberapa pasar swalayan masih mengandalkan pasokan imporPasar srikaya new varietas mulai terbentang. Pekebun baru pun terus bermunculan.

Ali Wardhana terpaksa menebang satu per satu pohon jeruk siem di lahan 2 ha karena terkena serangan penyakit blendok dan busuk akar. “Jumlah tanaman yang terserang mencapai 50—60% dari total populasi,” kata pekebun di Kabupaten Jember, Jawa Timur, itu. Ali kemudian menanam 400 srikaya new varietas di bekas lahan jeruk itu pada 2011.

 

Ketika tanaman berumur 1,5 tahun, ayah satu anak itu memanen 60—150 kg srikaya per pekan. Sebanyak 80% di antaranya masuk kelas mutu A berbobot minimal 400 g, berkulit bersih, dan tidak busuk atau berlubang. Sebanyak 17% tergolong mutu B  bobot kurang dari 400 g, berkulit bersih, dan tidak busuk atau berlubang. Sementara sisanya termasuk apkir.

Dari pameran

Ayah satu anak itu panen srikaya saat tingkat kematangan buah baru 70%. Cirinya, aroma buah harum dan warna buah hijau cerah agak kekuningan. Ali menjual srikaya mutu A Rp37.000; mutu B,  Rp25.000 per kg. Artinya, omzet Ali setiap pekan Rp2-juta—Rp5-juta. Sarjana Teknik Industri itu memilih srikaya new varietas karena, “Sosok buahnya eksotis. Ukurannya besar, rasanya enak, dan berbiji sedikit. Harga 10 kali lipat harga jeruk siem yang waktu itu hanya Rp3.000 per kg,” kata Ali.

Soal pasar tak menjadi kendala. “Ketika pertama kali menjual ke pasar swalayan Hokky tidak ada hambatan karena mereka sebelumnya sudah menjual srikaya new varietas impor,” kata Ali. New varietas adalah jenis srikaya yang didatangkan Prakoso Heryono, penangkar buah di Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah, pada 2003. Ia pertama kali memperoleh bibit dari sebuah stan di pameran di Suan Luang, Thailand. “Ketika itu si penjual belum memberi nama varietas tanaman itu,” katanya.

Ia tertarik membeli karena penasaran tentang jenis tanaman itu. Bibit asal negeri Gajah Putih itu mulai berbuah setahun setelah ditanam di tanahair. Prakoso takjub melihat buah srikaya berukuran jumbo. Saat matang bobot buah mencapai 700— 800 g per buah. Rasa daging buah manis, lembut, tidak berpasir, dan berbiji sedikit.

“Srikaya baru berbobot 500 g itu hanya terdapat 15 biji, sedangkan srikaya lokal 30—40 biji,” ujar Prakoso. Srikaya itu pun produktif. “Tanaman berumur 4 tahun menghasilkan 40 kg buah per tahun,  srikaya lokal, 20 kg,” ujarnya. Oleh karena ketika itu belum ada nama, maka Prakoso menyebutnya new varietas. “Padahal, tadinya itu bukan untuk nama varietas, tapi sebutan karena varietas baru,” kata pemilik nurseri Satya Pelita itu.

Tergiur untung

Berbagai keunggulan itulah yang membuat popularitas srikaya new varietas menanjak. Sejak tiga tahun terakhir, bermunculan para pekebun yang membudidayakan kerabat sirsak itu. Selain Ali, ada Gun Soetopo di Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, yang mengebunkan 400 srikaya new varietas pada 2009. Pemilik Sabila Farm itu rutin memanen 600—800 kg per bulan. “Hasil panen sebagian besar habis oleh pengunjung yang datang ke kebun,” ujarnya. Gun hanya mampu memasok pasar swalayan 50 kg per bulan.

Menurut Ali Wardhana produktivitas srikaya new varietas berumur 2 tahun rata-rata 12 kg per pohon per tahun. Seiring dengan penambahan umur pohon, produktivitas pun meningkat. Pada umur

4 tahun, misalnya, produktivitas menjadi 20—25 kg;   6 tahun 40 kg per pohon. Sementara biaya produksi mencapai Rp70.000 per pohon per tahun. Artinya biaya untuk menghasilkan 1 kg buah mencapai Rp6.000. Menurut Gun Soetopo, srikaya new varietas mampu berproduksi hingga 20 tahun.

Nun di Ciapus, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ada Dedi Harianto yang mengebunkan 200 tanaman srikaya new varietas secara organik pada 2010. Dari jumlah itu Dedi memetik 30—50 kg per bulan. Direktur Wahana Cory itu menjual hasil panen Rp60.000 per kg ke pasar swalayan. Beberapa pehobi juga mengebunkan srikaya new varietas untuk sekadar kebun koleksi. Di Batu, Jawa Timur, Budi Tedjakusuma, dan Adi di  Salatiga, Jawa Tengah, masing-masing mengebunkan hanya 50 tanaman.

Selain itu beberapa daerah kini mulai mengembangkan srikaya jumbo—sebutan lain srikaya new varietas karena bersosok jumbo—dan menjadikannya sebagai ikon daerah. Salah satunya Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Kementerian Pertanian melalui Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Lamongan memberikan bantuan   23.000 bibit kepada warga di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Mantup, Ngimbang, dan Modo.

Menurut Dr Rahman Pinem MM, direktur Direktorat Tanaman Buah,  Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura Kementerian Pertanian, program itu untuk mendukung program pemerintah Satu Desa Satu Komoditas. Tujuannya mendorong setiap daerah untuk memunculkan produk unggulan. Kepala Pusat Kajian Hortikultura Tropika Insitut Pertanian Bogor (IPB), Sobir PhD, menuturkan dalam program itu dinas pertanian membagikan 3—5 bibit untuk ditanam di pekarangan rumah-rumah warga.

Srikaya jumbo juga menjadi pilihan PT Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB PPEJ) untuk program tanggung jawab sosial perusahaan. Mereka membagikan 118 bibit srikaya jumbo di Desa Rahayu dan Desa Bulurejo, keduanya di Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur, serta Desa Campurejo, Desa Ngampel, dan Desa Sambiroto, ketiganya di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Kedua kabupaten itu selama ini dikenal sebagai sentra srikaya lokal yang berbuah kecil dan berbiji banyak. “Ini adalah program penghijauan dengan tanaman-tanaman buah yang sudah lazim di masyarakat, tapi dengan kualitas yang lebih bagus,” kata Yoga Santoso Utomo, senior security supervisor PT Joint Operating Body Pertamina Petrochina, Jawa Timur. “Dengan diperkenalkannya srikaya jumbo, warga di sana tertarik mengembangkan sehingga kualitas srikaya yang dihasilkan lebih baik,” kata Tri Sunu, anggota staf hubungan masyarakat  PT JOB PPEJ.

Kendala

Pasar srikaya new varietas memang mulai terbentang. Para pekebun pun meraih laba. Namun, Sobir mengingatkan agar calon pekebun tetap cermat mempertimbangkan pasar sebelum memutuskan untuk menanam. Dalam dunia buah tanahair, Sobir menggolongkan srikaya sebagai buah minor yang kurang populer di masyarakat. Selama ini yang tertanam di benak masyarakat jika mendengar srikaya adalah buah kecil, hijau, cepat menghitam, rasa masam, dan berbiji banyak.

“Perlu waktu lama untuk mengubah persepsi masyarakat bahwa kini ada srikaya berbuah besar, sedikit biji, warna daging putih, dan rasa manis,” ujar doktor Genetika Molekuler alumnus Universitas Okayama, Jepang, itu. Kurangnya pengetahuan konsumen menyulitkan pemasaran. Pengepul di Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur,  Asroful Uswatun, pernah mengalaminya saat memasok srikaya jumbo ke sebuah pasar swalayan di Kota Malang, Jawa Timur. Ketika itu Asroful memasok 30 kg srikaya new varietas. “Semuanya tidak laku  karena konsumen belum mengenal betul srikaya jumbo,” katanya.

Menurut pemasok buah di Pluit, Jakarta Utara, Tatang Halim, harga yang terlalu mahal dapat menjadi kendala. “Permintaan srikaya jumbo memang tinggi. Namun, beberapa gerai buah enggan untuk membeli karena harga terlalu mahal,” ujarnya.  Menurutnya harga wajar di tingkat eceran Rp30.000—Rp40.000 per kg, paling banter Rp50.000. Setelah dipotong margin untuk toko dan biaya, maka harga beli di tingkat pekebun maksimal Rp20.000—Rp25.000 per kg. Dengan harga itu pekebun masih untung. Dari segi budidaya juga menjadi kendala. “Berkebun srikaya perlu perawatan intensif,” tegas Sobir. Kendala lain daya tahan buah yang singkat. Menurut Sobir, kulit srikaya biasanya menghitam 6—7 hari setelah panen.

 

Masih impor

Jika beragam hambatan terlampaui, peluang pasar si jumbo memang besar. Menurut Asroful, pasar srikaya new varietas mulai terbentang sejak 2 tahun lalu. “Jumlah pasokan dari Ali Wardhana sebanyak 150 kg per pekan, baru memenuhi 10% dari jumlah permintaan di Jawa Timur,” ujar Asroful. Saat ini permintaan juga datang dari 3 toko buah di Bali, masing-masing minta 50 kg per pekan. “Tapi belum terpenuhi,” katanya.

Beberapa pasar swalayan di tanahair masih mengandalkan impor untuk memenuhi permintaan konsumen. Menurut kepala bagian sortir buah impor di pasar swalayan Hokky di Surabaya, Haryanto, selama ini srikaya impor datang dari Australia dan Taiwan. Pengamat buah di Bogor, Jawa Barat, Dr Ir Mohamad Reza Tirtawinata MS, menuturkan Australia merupakan negara paling getol mengembangkan srikaya. “Salah satu perusahaan bernama Maroochy bahkan aktif melakukan perkawinan silang antarvarietas, bahkan antarspesies,” kata doktor Pertanian alumnus Institut Pertanian Bogor itu.

Hokky mendatangkan srikaya dari kedua negara itu berdasarkan musim panen, rata-rata 200 kg per pekan. Pasokan dari Australia biasanya datang pada Juli—September, Taiwan Desember—Maret. Harga jual srikaya impor mencapai Rp80.000—Rp120.000 per kg.

Adapun pasokan dari pekebun lokal baru bisa memenuhi pasokan pada November—Februari. Pasokan dari pekebun lokal datang dari Plantera dan Ali Wardhana. Saat pekebun lokal tengah panen raya, jumlah pasokan bisa mencapai 500 kg per pekan. Harga jual srikaya lokal di pasar swalayan Hoky Rp40.000—Rp60.000 per kg. Peluang pasar masih terbuka seandainya pasokan dari pekebun lokal dapat menggantikan srikaya impor. “Menjelang Imlek, kebutuhan meningkat 300—400 kg per minggu,” tutur Haryanto.

Perusahaan pemasok dan importir buah di Jakarta yang juga mengimpor srikaya, PT Mulya Raya, kesulitan mengimpor saat di Australia sedang tidak panen raya. Padahal, perusahaan itu mesti memasok setidaknya lima gerai buah masing-masing 14—21 kg per pekan.

“Pasokan hanya banyak pada Agustus, November, dan Desember. Di luar bulan itu pasokan sedikit, bahkan tidak ada seperti saat ini,” ujar bagian pemasaran PT Mulya Raya, Joko Susilo. Menurut Edi, penyelia di sebuah  pasar swalayan eksklusif di Jakarta, gerainya terakhir mendapat pasokan dari Mulya Raya pada November 2012. Padahal, gerainya saja membutuhkan pasokan setidak 10 kg srikaya per pekan.

Lokomotif

Peluang besar berbisnis srikaya jumbo mendorong para pekebun menanam tanaman anggota famili Annonaceae itu. Akibatnya permintaan bibit pun melonjak. Itu terlihat dari penjualan bibit srikaya dari nurseri milik Prakoso yang terus meningkat. Semula Prakoso hanya menjual 100—200 bibit,  kini hingga 1.200 bibit per bulan. Harga sebuah bibit setinggi 50—70 cm itu Rp40.000—Rp75.000.

Peningkatan permintaan bibit juga dialami Suko Budi Prayogo, penangkar bibit buah di Semarang, Jawa Tengah. “Permintaan bibit meningkat dari tahun ke tahun. Lonjakannya lebih dari 100%,” kata penangkar yang mulai memproduksi bibit srikaya new varietas 7 tahun silam itu. Rata-rata penjualan      800 bibit per bulan.

Pekebun srikaya new varietas yang terbesar saat ini adalah Plantera di Ngebruk, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. “Populasi srikaya sekitar 6.600 tanaman di lahan 30 hektar,” ujar M Chairul Anwar, pemimpin kebun Plantera. Dari populasi itu, Plantera memproduksi 80 ton buah per tahun. Seluruh hasil panen dijual ke beberapa pasar swalayan dan toko buah di Jakarta, Semarang, dan Surabaya.

Meski berbagai kendala menghadang, beberapa pekebun tetap optimis mengebunkan srikaya new varietas. Kini Ali Wardhana menambah populasi menjadi 1.000 tanaman. Pada 2012 salah satu kebun agrowisata di Cipatat, Kabupaten  Bandung, Jawa Barat, menanam 500 srikaya sebagai salah satu elemen wisata kebun. “Diharapkan saat launching pada akhir 2013 mulai berbuah,” ujar Ajie Win, salah satu konsultan kebun. Gun Soetopo bahkan berencana mengembangkan sayap ke tanah Borneo dengan membuka kebun srikaya seluas   300 ha di Kalimantan Selatan. (Imam Wiguna/Peliput: Bondan Setyawan, Kartika Restu Susilo, Lutfi Kurniawan, dan Riefza Vebriansyah)

Previous articleNona Baru Produksi Tinggi
Next articleBijak Durian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img