Tuesday, November 29, 2022

Penyambung Nyawa Kaum Hawa

Rekomendasi

Daun sambungnyawa terbukti secara ilmiah sebagai antikanker payudara sebagaimana dibuktikan oleh Dr Edy Meiyanto dan Riris Istighfari Jenie Apt MSi. Keduanya periset Pusat Penelitian Pencegahan Kanker, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Edy menguji keampuhan ekstrak etanol daun anggota famili Compositae itu pada 40 tikus betina.

Tikus-tikus itu menderita kanker payudara akibat diberi dimetilbenz(a)antrasene (DMBA), senyawa karsinogenik poten alias pemicu kuat timbulnya kanker payudara. Semua tikus diberi 20 mg DMBA per kg bobot tubuh secara oral. Frekuensi pemberian 2 kali sepekan selama 5 pekan. Edy lantas mengelompokkan satwa percobaan itu dalam 4 grup masing-masing 10 ekor.

Hanya kelompok I yang tak diberi ekstrak daun sambungnyawa. Tiga grup lain diberi ekstrak daun sambungnyawa. Dosis untuk masing-masing kelompok berturut-turut 250 mg, 500 mg dan 750 mg per kg bobot tubuh. Ekstrak itu diberikan setiap hari selama 2 pekan sebelum pemberian DMBA dan berlanjut ketika pemaparan DMBA dilakukan. Pembuluh darah

Setiap pekan Edy mengamati perkembangan munculnya sel kanker pada tikus. Pengamatan berlangsung selama 16 pekan. Hasilnya menakjubkan, dari 10 tikus yang diberi dosis 250 mg ekstrak daun sambungnyawa, hanya 4 ekor yang terkena kanker payudara. Tikus-tikus pada kelompok III yang terserang kanker mamae 7 ekor; kelompok IV, 8 ekor. Semua tikus pada kelompok I yang tidak diberi ekstrak daun sambungnyawa, terkena kanker payudara.

Waktu timbulnya tumor antara kelompok I dan kelompok II-IV juga berbeda. Pada kelompok I tumor muncul pada pekan ke-3 setelah pemberian DMBA terakhir. Sedangkan kelompok yang diberi ekstrak daun Gynura procumbens dosis 250 mg kanker baru tampak pada pekan ke-8 setelah pemberian DMBA terakhir. Dosis 500 mg dan 750 mg, tumor muncul pada pekan ke-5.

Artinya dengan dosis 250 mg per kg BB, cukup untuk mencegah kanker payudara. Dosis itu setara 315 mg untuk orang berbobot 70 kg atau 4,5 mg per kg bobot tubuh. Menurut Edy ekstrak daun sambungnyawa mampu menghambat sel kanker karena meningkatkan ekspresi enzim glutation S-transferase (GST). GST adalah enzim yang berfungsi dalam metabolisme detoksifikasi DMBA.

Enzim itu juga bersifat antikarsinogenik dengan cara menurunkan interaksi antara karsinogen dengan DNA, sehingga mencegah kerusakan DNA. Padahal kerusakan DNA atau mutasi pada gen-gen pengatur pertumbuhan pertanda awal munculnya sel kanker. Menurut Riris Istighfari mekanisme kerja ekstrak daun sambungnyawa sebagai antikanker adalah antiangiogenesis. Angiogenesis atau neovaskularisasi merupakan pembentukan pembuluh darah baru di jaringan tubuh.

Karena pembentukan pembuluh darah baru itulah sel kanker mendapatkan pasokan nutrisi dan oksigen untuk tumbuh. Bila angiogenesis dihambat alias antiangiogenesis, maka pertumbuhan sel kanker terhalang. Riris menguji efek antiangiogenesis pada embrio telur ayam berumur 8-9 hari yang diinduksi bFGF-pemicu angiogenesis. Embrio itu diinkubasi dengan ekstrak sambungnyawa selama 3 hari. Hasilnya, efek antiangiogenesis yang ditimbulkan sebanding dengan besar dosis yang digunakan. Dosis terendah 10  μg mampu menghambat pertumbuhan sel 17,68±6,33% dan dosis tertinggi 80 μg, 58,57 ±7,46%.

Obat pendamping

Riris mengatakan dalam terapi kanker, sambungnyawa bermanfaat sebagai agen ko-kemoterapi alias obat pendamping kanker. Agen ko-kemoterapi berupa senyawa kemoprevensi yang bersifat tidak atau kurang toksik bagi tubuh. Hasil penelitian Riris membuktikan kombinasi 50 μg/ml ekstrak sambungnyawa dengan 9 nM doxorubicin mampu menghambat 64% pertumbuhan sel kanker payudara T47D. Bila dibandingkan pemakaian tunggal dengan konsentrasi sama, pertumbuhan sel kanker yang terhambat hanya 27% dan 30%. Selain itu, ‘Penggunaan ko-kemoterapi sangat diperlukan untuk mengurangi efek toksik obat kanker,’ ujar Riris.

Doxorubicin-agen kemoterapi yang banyak digunakan dalam terapi kanker-memang mujarab membunuh sel kanker. Celakanya, doxorubicin juga bersifat toksik pada sel normal. Itulah sebabnya dosis doxorubicin dalam terapi kanker harus ditekan. Menurut Pawan K Singal, peneliti di Institute of Cardiovascular Science, Kanada, pemberian doxorubicin dalam waktu lama bisa mengakibatkan kardiomyopati atau kelainan otot jantung yang bisa memicu timbulnya gagal jantung. Selain itu doxorubicin juga menyebabkan resistensi sel kanker pada obat.

Oleh karena itu pemakaian ko-kemoterapi, seperti daun sambungnyawa, dalam pengobatan kanker sangat diperlukan. Tujuannya jelas: untuk menekan dosis doxorubicin sehingga toksisitas terhadap sel normal berkurang. Namun, tetap efektif menghambat sel kanker.

Selama ini daun sambungnyawa memang berkhasiat antikanker. Banyak herbalis meresepkan tanaman obat itu kepada pasien kanker. Lukas Tersono Adi, herbalis di Tangerang, Provinsi Banten, misalnya, meresepkan 3 lembar daun sambungnyawa bersama dengan 2-3 biji apel malang, 2 biji wortel, dan 1 rimpang kencur. Semua bahan itu dijus dan diminum sekali sehari. Ramuan itulah yang digunakan untuk menjinakkan kanker. Selain dijus, daun sambungnyawa juga bisa dilalap 3 lembar sehari. Itulah salah satu perisai bagi kaum hawa agar terhindar dari kanker payudara. (Ari Chaidir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img