Saturday, August 13, 2022

Selang 40 Hari Dolomit dan Pupuk

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sukarjo, pekebun di Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, sudah 3 kali mengalami penurunan produksi cabai. Pekebun 44 tahun itu menanam cabai setelah panen padi. Dalam setahun ia hanya sekali mengebunkan tanaman anggota famili Solanaceae itu. Setelah padi dipanen, tanah dibajak lalu dikeringanginkan selama sepekan. Selanjutnya ia menyiapkan 1.800 kg dolomit untuk menaikkan pH tanah, dan 18 ton pupuk kandang per ha. Sukarjo juga mencampur pupuk kimia terdiri atas ZA, KCl, dan SP36 dengan perbandingan 2 : 1 : 1 sebanyak 1.800 kg per ha.

Pupuk kandang, dolomit, dan ke-3 pupuk kimia itu diaduk rata dan disebar di lahan. ‘Semua pupuk disebar rata lalu diaduk dengan tanah hasil cangkulan sedalam 30 cm. Tanpa disiram, tanah ditutupi mulsa,’ kata Sukarjo. Ia melakukan cara tanam seperti itu sejak 2000. Semula produksi Capsicum annuum masih bagus, 8 ons per tanaman. Dengan populasi 18.000 tanaman per ha, ia memetik 14,4 ton cabai. Namun, 3 tahun terakhir produksi anjlok hanya 5 ton per ha. ‘Setelah berkali-kali ditanami cabai, produksi lama-lama berkurang,’ kata pekebun cabai sejak 1987 itu.

Bereaksi

Sudadi Ahmad, pengamat pertanian di Yogyakarta, menduga anjloknya produksi cabai karena pemberian pupuk secara bersamaan dengan dolomit. Itu dibarengi dengan berkurangnya ketersediaan bahan organik di tanah karena terus-menerus dipakai.

‘Jika pemupukan dan pengapuran dilakukan secara bersamaan, maka terjadi reaksi antara kapur dan pupuk. Pupuk seperti NPK, ZA, atau TSP yang bersifat asam karena mengandung belerang akan dinetralkan oleh kapur yang bersifat basa. Dampaknya pH tanah tidak naik dan nutrisi tidak tersedia bagi tanaman,’ kata Sudadi.

Oleh karena itu pemupukan dan pengapuran harus dilakukan secara terpisah. ‘Paling tidak selang tiga pekan atau idealnya 40 hari setelah pengapuran baru dilakukan pemupukan. Tujuannya supaya kondisi unsur hara tanah kembali pulih,’ ujar alumnus Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran itu. Menurut Sudadi pH tanah di Indonesia rata-rata kurang dari 6, bahkan di daerah tertentu ber-pH 4. Sedangkan pH ideal untuk cabai 6-7.

‘Pada pH rendah pupuk akan diikat oleh logam dan pada pH tinggi berikatan dengan halogen. Beberapa penyakit seperti layu bakteri menular melalui tanah dan berkembang pada pH rendah. Bila kondisi tanaman tidak sehat akibat gangguan penyerapan hara, maka serangan penyakit itu akan semakin parah,’ ujar Sudadi. Hal senada disampaikan Yos Sutiyoso, ahli pupuk di Jakarta. Menurut Yos kapur dolomit bermanfaat menaikkan pH tanah karena mengandung 30-40% kalsium oksida (CaO).

Tanah ber-pH netral mudah melarutkan unsur hara sehingga tanaman lebih gampang menyerap hara. Selain itu, kalsium juga berperan dalam memperkuat kerja dinding sel untuk membuat tanaman tegak dan tahan terhadap penyakit akibat cendawan. Ca juga mencegah rontoknya calon buah.

Selain CaO, dolomit juga mengandung 14-18% magnesium oksida (MgO) yang merupakan salah satu penyusun inti klorofil. ‘Jika tanaman memiliki banyak klorofil, maka proses fotosintesis berjalan lancar sehingga nutrisi yang diperlukan tanaman tercukupi. Akibatnya produktivitas tanaman meningkat,’ kata Yos Sutiyoso.

Menurut Horst Marschner, peneliti di Pusat Penelitian Nutrisi Tanaman, University Hohenheim, Jerman, kandungan kalsium pada dolomit juga mengurangi bahaya keracunan oleh ion logam di dalam tanah seperti aluminium. Keracunan aluminium menghambat pertumbuhan akar. Akibatnya kemampuan penyerapan nutrisi rendah.

Hemat pupuk

Pekebun cabai melakukan pemupukan bersamaan dengan pengapuran juga karena ingin memaksimalkan penggunaan lahan yang disewanya. Sebagai contoh, petani menyewa lahan selama empat bulan. Cabai dipanen pada umur 60 hari. Supaya bisa panen 2 kali, petani menghilangkan masa tunggu pengapuran yang berlangsung selama 3 pekan. Cara itulah yang dalam jangka panjang merusak kondisi tanah.

Namun, untuk mengubah kebiasaan pekebun cabai dalam mengaplikasikan dolomit tidak mudah. Sudadi Ahmad perlu 5 tahun untuk memberi pengertian kepada petani bahwa pemupukan dan pengapuran seharusnya terpisah. Itulah yang kini diterapkan Sukarjo. Pengapuran dilakukan bersamaan dengan pembuatan bedengan, lalu 3 minggu kemudian baru dipupuk.

Hasilnya, ‘Penghematan pupuk sampai 25%,’ kata Sukarjo. Sebelumnya ia butuh 1 ons pupuk kimia per tanaman; sekarang, cukup 0,75 ons. Menurut Sukarjo dengan pengapuran terpisah, ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit juga lebih baik sehingga menghemat pestisida. Dan yang jelas hasil panen pun kembali membaik. Ia kini memanen 14,4 ton cabai per ha. (Ari Chaidir/Peliput: Nesia Artdiyasa)

 

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img