Monday, August 8, 2022

Penyelamat Saat Harga Anjlok

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Desain atap kubah dapat menerima sinar matahari dengan maksimal. (Dok. PT Impack Pratama)

Pengeringan sayuran, buah, atau umbi lebih cepat, hemat energi, dan higienis.

Cabai dengan pengeringan konvensional (kiri) berwarna lebih gelap dibandingkan dengan hasil pengeringan di SDD. (Dok. Trubus)

Trubus — Riswati Wahyuni justru cemas saat panen raya tiba. Petani di Desa Cibodas, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu khawatir harga jual cabai anjlok. “Harga cabai terendah pernah sampai di bawah Rp5.000 per kg. Padahal, kalau sedang bagus harga mencapai Rp60.000 per kg,” kata anggota Kelompok Tani Hataki itu. Namun, sejak 2018, Risris—sapaannya—punya cara lain untuk menjaga harga cabai tetap bagus.

Ia dan anggota kelompok tani lain mengeringkan cabai rawit dan keriting saat harga di bawah Rp5.000 per kg. Setelah buah tanaman anggota famili Solanaceae itu kering, ia menghaluskannya menjadi bubuk cabai. Harga bubuk cabai kering Rp70.000—Rp100.000 per kg. Menurut Risris 10 kg cabai segar menghasilkan 3 kg cabai kering. Adapun tiga kg cabai kering itu menjadi 2,8 kg bubuk cabai.

Lebih cepat

Ia mengeringkan cabai dengan kubah pengering bertenaga surya atau solar dryer dome (SDD). Kubah pengering itu mengeringkan hasil panen dengan higienis dan warnanya tetap cerah. Peranti itu menyerap sinar matahari lantaran bahan penyusunnya polikarbonat berformulasi khusus.

Kubah pengering dapat digunakan untuk ikan asin. (Dok. Trubus)

Selain itu atap dapat menerima radiasi matahari dari terbit hingga terbenam. Lantainya terbuat dari semen yang berfungsi sebagai penyimpan panas sementara. Energi panas yang berasal dari atas dan bawah itulah yang dapat mempercepat proses pengeringan. Proses pengeringan cabai berkadar air 75―80% hanya 3 hari. Petani di dataran tinggi seperti Kecamatan Pasirjambu (2.334 meter di atas permukaan laut) perlu 7 hari untuk mengeringkan cabai dan singkong pada musim kemarau.

Pengering itu juga dilengkapi dengan pintu ganda berupa jaring dan polikarbonat transparan. Fungsinya mengatur sirkulasi udara. Udara segar dari luar mengalir masuk, mendesak udara panas yang sudah jenuh air untuk keluar. Kubah pengering surya juga dilengkapi dengan satu kipas angin di bagian atas untuk mempercepat keluarnya udara yang jenuh air. Selain lebih cepat, hasil pengeringan tetap higienis dan terjaga warna aslinya.

Sugiarto Romeli, Polycarbonate (PC) Unit Head PT Impack Pratama. (Dok. Trubus)

Menurut Sugiarto Romeli dari PT Impack Pratama Industri tbk produsen SDD, suhu di dalam kubah pengering lazimnya dua kali lipat dibandingkan dengan suhu lingkungan. “Bila suhu luar 30ºC, suhu di dalam bisa mencapai 70ºC atau bahkan 75ºC. Namun, setiap tempat memiliki suhu harian yang berbeda,” kata Kepala Unit Polikarbonat PT Impack Pratama Industri tbk itu. Ukuran pengering sayuran itu beragam, terdiri atas 4 tipe kubah dengan kapasitas berbeda.

Ukuran pengering terkecil 8 m x 6,2 m berkapasitas 200—300 kg. Adapun pengering unit terbesar berukuran 8 m x 27 m dan berkapasitas hingga 1.500 kg. Petani dapat mengeringkan komoditas tertentu di atas meja, rak bertingkat, atau langsung di lantai untuk pengeringan kapasitas besar. Harga unit terkecil Rp110 juta, belum termasuk biaya pengiriman dan biaya pemasangan lantai.

Hemat karbon

Kubah pengering surya merupakan hasil penelitian periset dari Silpakorn University, Bangkok, Thailand, Dr. Serm Janjai. Kini ada 800 unit kubah pengering yang tersebar di penjuru Thailand.

Produk andalan SDD di Thailand adalah salai pisang dengan warna keemasan. Sejak diluncurkan di Indonesia pada Maret 2017, kini terpasang 84 unit di berbagai daerah seperti Provinsi Sulawesi Utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Aceh, dan beberapa provinsi lainnya. Para petani di berbagai daerah itu mengeringkan beragam komoditas seperti cengkih, kakao, kopi, tomat, pisang, dan mangga.

Petani dapat mengeringkan komoditas sayuran di atas meja, rak bertingkat, atau langsung di lantai. (Dok. PT Impack Pratama)

Bahkan, nelayan pun memanfaatkan kubah itu untuk mengeringkan rumput laut dan ikan. Sugiarto berharap dapat berkontribusi untuk pengembangan pertanian terutama pascapanen. Misi PT Impack Pratama Industri tbk menyelamatkan hasil panen yang terbuang, membantu meningkatkan taraf hidup petani, menggunakan energi terbarukan, dan timbulnya dampak sosial yang lebih luas. Sugiarto mengatakan, Indonesia dan negara Asia Tenggara lain sekitar 30―50% produk pascapanen terbuang terutama yang mudah rusak.

Ia menekankan pentingnya menghemat karbon dalam proses pengeringan. Sugiarto dan tim SDD mengasumsikan penggunaan mesin pengering sejam setidaknya mengeluarkan 5 kwh. Satu kwh setara dengan 862 karbon sehingga sejam telah melepas sekitar 4.310 karbon. Penggunaan kubah pengering tenaga surya itu dapat menghemat jutaan karbon yang dikeluarkan mesin pengering. (Sinta Herian Pawestri)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img