Trubus.id— Petani di Desa Batulawang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, Diansyah Permana, menanam jagung manis di dataran tinggi. Kebun jagung milik Diansyah berada di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (m dpl).
Diansyah menanam jagung manis jenis F1 produksi PT East West Seed Indonesia. Ia menanam jagung manis dengan total luas lahan 1,5 hektare. Setiap bulan ia menanam jagung manis di lahan 3.000 m². Umur panen 60—70 hari dengan produktivitas 2,5 ton.
Diansyah membuat lubang tanam berisi 1 benih dan seujung jari butiran insektisida sistemik berwarna ungu. Gunanya untuk mencegah serangan semut dan ulat. Pemupukan saat tanaman berumur 10 hari dan 45 hari.
Saat itu Diansyah melarutkan 2 kg Urea dengan 20 liter air plus sekitar 1 kg pupuk kandang kambing. Jadi, pada pemupukan pertama ia membutuhkan 150 kg Urea dan 75 kg pupuk kandang untuk lahan 1,5 hektare.
Pemupukannya model kocor. Pemupukan kedua sekitar 20 kg pupuk kandang yang dilarutkan dalam 400 liter air untuk lahan 3.000 m². Ketua Yayasan Pondok Pesantren Darussalam Al Mubarok itu tak pernah mengalami kekeringan lantaran kebun jagung di dataran tinggi.
“Tanah hampir selalu lembap. Kalau 2—3 hari tidak hujan, sore hari saya siram,” tutur petani jagung sejak 2020 itu.
Menurut peneliti jagung di Pusat Riset Tanaman Pangan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Andi Takdir Makkulawu, untuk mengetahui jagung tahan kering bisa dilihat dari deskripsi varietasnya.
“Bisa dilihat deskripsi atau diskusi dengan pemulianya,” kata Takdir.
Jenisnya pun beragam, ada yang bersari bebas dan juga hibrida. Takdir punya tip mengetahui jagung tahan kering atau tidak secara kasat mata. “Varietas tersebut stay green, daunnya sempit, dan berakar panjang,” kata Takdir.
Namun, untuk jagung manis tidak dapat dikategorikan sebagai varietas tahan kering dan tidak masuk kategori tahan kering. Alasannya, “Jagung manis dipanen saat umur masih muda kurang lebih 75 hari,” tutur pemulia jagung itu.
