Tuesday, November 29, 2022

Petik Sarang Walet Ternakan

Rekomendasi

 

Hasil panen dari populasi 5.000 walet itu dibeli pengepul dari Surabaya dengan harga Rp13,2-juta/kg. Namun, itu bukan panen pertama. Jauh sebelumnya, sekitar Februari 2007, Agung sudah memetik 34 sarang dari populasi 800 walet. Bila dihitung sampai Trubus datang untuk kedua kalinya pada akhir November 2007, sudah berlangsung 4 kali panen dengan total bobot sarang 20 kg.

Walet yang disapih sejak pecah telur itu menjadi sumber liur emas. Piyik-piyik yang lahir diberi pakan khusus sejak berumur sehari sampai burung siap terbang ketika menginjak umur 31-42 hari. ‘Pakan menjadi faktor utama keberhasilan dari seluruh proses ternak walet,’ kata Agung. Sebab itu pemilik dari beberapa toko elektronik di Kota Pahlawan itu sampai kini terus meriset pakan walet yang dirintisnya sejak 1990-an. ‘Untuk riset saya menghabiskan biaya hingga ratusan juta rupiah,’ katanya.

Walet terbang tidak diumbar ke alam bebas. Agung menyiapkan kandang umbaran di lahan seluas 5.000 m2. Kandang itu dikurung jaring dari kawat besi setinggi 6 m. Di dalamnya terdapat 2 rumah walet berukuran 20 m x 7 m x 7 m sebagai tempat bersarang. Menurut Agung untuk siap menempati kandang, walet-walet itu perlu melalui 3 tahapan: masuk ruang loloh, ruang adaptasi, dan berakhir di kandang umbaran. ‘Sampai tahap adaptasi walet belajar terbang tetap diloloh,’ ujar pemilik Walet Feedmill Group di Kutorejo, Mojokerto, Jawa Timur, itu.

Pakan melimpah

Upaya beternak walet memang bukan monopoli Agung. Pada 2003, Syafrian Ali, pengusaha walet di Purwakarta, Jawa Barat, mencoba menernakkan walet. Ali meloloh burung liar itu mirip beternak ayam. Walet dipelihara di bawah atap jaring. Setelah beberapa pasang bertelur, walet-walet itu dilepas ke alam. Sayang, dari ratusan ekor yang dilepas hanya 1-2% yang pulang kandang. Maksud Ali mengatasi susahnya memancing walet dengan cara diternak gagal.

Jauh sebelum Ali beternak, Boedi Mranata, praktikus walet di Jakarta Selatan mencoba menernakkan (1989). Begitu pula HA Fatich Marzuki di Surabaya (1997). Namun, kedua peternak itu belum dapat menggapai hasil maksimal. Boedi baru sukses sebatas mengajari walet menyosor pakan di wadah hingga tumbuh besar. Sementara itu Fatich hanya bisa membuat walet menjadi jinak. Sebut saja Rambo, saat dipanggil langsung datang menghampiri dan nemplok di pundak.

Keberhasilan Agung sesungguhnya terletak pada kemahiran menyediakan sumber pakan melimpah. Itulah yang menciptakan ketergantungan pada walet. Lihat hitungan-hitungan Boedi Mranata. Untuk menghasilkan 10 kg sarang/panen dibutuhkan 14 kg serangga/hari, dengan asumsi seekor walet butuh 4 g pakan/hari. Andai peternak ingin mendapat 300 kg sarang/panen, artinya perlu tersedia 4 kuintal serangga per hari. Jakarta saja di saat musim penghujan cuma mampu menyediakan sekitar 200 kg serangga/hari.

Agung memang dapat membuat mrutu-mirip lalat buah dari genus diptera–melimpah. Dalam bangunan seluas 10 m x 20 m, mrutu-mrutu itu di ternakkan di rak-rak kayu bertingkat. Setiap rak ditaburi bibit mrutu. Sebagai sumber pakan diberi limbah makanan, seperti mi atau roti apkir. Setelah 14-15 hari mrutu itu siap dipanen.

Cukup membuka tutup pipa PVC yang ditanam di dinding, serangga berkulit lunak itu keluar setelah diumpan lampu pijar berkekuatan 5 watt. Berpuluh-puluh kilo mrutu dapat dipanen setiap saat. ‘Satu ton serangga per hari pun saya sanggup,’ ujar Agung. Itu tergantung jumlah pakan yang diumpan. ‘Sekilo pakan bisa menghasilkan sekilo serangga per hari,’ tambahnya.

Mrutu adalah pakan terbaik. Dari hasil uji laboratorium, mrutu mengandung antara lain: 10% air, 65,67% protein, 9,08% serat, 17,35% lemak, dan 0,14% mineral. Energi dihasilkan mencapai 4.188 kalori. ‘Dibandingkan jangkrik, uter, atau kroto, komposisi nutrisi mrutu itu lebih bagus,’ ujarnya. Ayah 2 putra itu juga memberi tambahan vitamin dan 13 macam asam amino essensial seperti lisin, arginin, dan metionin, untuk memperlancar proses metabolisme walet.

Pakai blower

Dari pengalaman konsultan itu walet bisa bertelur dan bersarang bila kadar protein pakan mencapai 55%. Protein terlalu tinggi menyebabkan walet sulit bertelur. Sebaliknya persentase yang rendah membuat daya tahan tubuh burung liar itu anjlok. Pada kondisi itu jangankan membuat sarang, untuk bertahan hidup saja walet tak mampu. Hal itu yang tidak diteliti pada penangkaran walet sebelumnya sehingga menjadi faktor utama kegagalan. ‘Protein menjadi vital pada ternak walet karena erat dengan produksi,’ tutur Agung yang memulai ternak walet dengan mencoba dahulu pada sriti itu

Untuk beternak Agung memberi pakan sesuai kebutuhan walet. Contoh piyik umur sehari. Mereka diberi pakan mrutu basah. Pakan tidak disuap melainkan diasup dengan mendekatkan mulut piyik pada pakan. ‘Kalau diloloh sulit menentukan kenyang atau tidaknya,’ ujar Anissa, penanggung jawab perawatan walet. Tekstur pakan juga tidak boleh sembarangan. ‘Lebih dari umur sehari pakan agak basah. Berikutnya sampai siap terbang pakan itu lebih kering,’ tambah Ida.

Untuk walet dewasa kebutuhan 2,5 g/ekor/hari setara 4.100 kalori dipenuhi dari pakan serangga kering. Pakan itu diberikan di atas meja atau disemburkan ke atas lewat blower berbentuk kubah terbalik. ‘Dengan blower walet dipaksa menyambar pakan seperti kondisi aslinya,’ kata Agung yang berinvestasi hingga miliaran rupiah itu. Hal itu juga menepis keraguan banyak praktisi tentang melemahnya otot walet akibat jarang dipakai bergerak.

Dengan pakan pas, bobot per sarang yang dipetik pun lebih besar dari alami. Normal 80 g/sarang menjadi 110 g/sarang. Waktu panen pun lebih singkat. Agung mengukur, sarang dapat dipanen setelah 21-25 hari. ‘Itu tanpa melihat musim hujan dan kemarau,’ ujarnya. Normalnya, pada musim penghujan sarang dipetik setelah 40 hari. Bahkan pada musim kemarau dapat mencapai 3 bulan.

Acungan jempol

Keberhasilan walet diternak hingga menghasilkan sarang merupakan berita besar. ‘Dari sisi teknologi budidaya itu pantas mendapat acungan jempol,’ kata Boedi. Hal senada disampaikan Harry K Nugroho. ‘Asalkan sumber pakan melimpah itu tidak mustahil,’ ujar pemilik Eka Walet Center di Jakarta Utara. Namun, Harry mewanti-wanti munculnya stres pada walet bila terlalu lama dikurung. ‘Secara alami walet burung liar yang terbang hingga 50 km sehari,’ katanya. Artinya sewaktu-waktu walet di kandang umbaran perlu dilepas.

Toh Agung merasa dapat mengesampingkan ketakutan itu. ‘Memang belum ada penelitian sejauh mana walet dapat bertahan hidup bila dikurung. Namun dari pengalaman saya memelihara seekor walet sampai umur 8 tahun, ia masih produktif,’ ujarnya. Keberhasilan Agung itu bakal menjadi harapan baru bagi peternak yang selama ini berkutat memancing walet bebas. (Dian Adijaya S/Peliput: Karjono & Lastioro Anmi)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img