Friday, August 12, 2022

Payung Bumi yang Memanas

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Indra Gunawan memang tak memproduksi bioetanol sendiri. Ia membelinya di rumah Hiwaman, produsen bioetanol di Tegalbuntu, Cilegon, Provinsi Banten. Alumnus Universitas Diponegoro itu memproduksi rata-rata 200 liter bioetanol per bulan berbahan molase alias tetes tebu. Indra mengganti seluruh premium dengan bioetanol alias E100.

Selama ini bioetanol lazim sebagai campuran premium. Kadar campuran biasanya 10% alias E10 atau maksimal 25% (E25). Artinya, jika tangki mobil berkapasitas 100 liter cukup diisi 90 liter premium dan 10 liter bioetanol. Campuran antara premium dan bioetanol itu disebut gasohol.

Menurut Dr Agus Eko Tjahyono MEng, kepala Balai Besar Teknologi Pati, bahan bakar nabati ramah lingkungan. Sejak 2005 Agus memanfaatkan gasohol B15 sebagai bahan bakar mobilnya. Dari kapasitas 80 liter tangki mobilnya, ia mengisi dengan 68 liter bensin dan menambahkan 12 liter bioetanol asal singkong.

Efisien

Menurut Ir Puji Lestari PhD, dosen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung penggunaan bioetanol menurunkan emisi sehingga menekan polusi udara. Selain itu bilangan oktan juga meningkat. Dalam uji coba pada beberapa bulan lalu, pemanfaatan 5% bioetanol mendongkrak bilangan oktan hingga 99%. Angka itu membubung higga 122% ketika kadar campuran bioetanol dinaikkan menjadi 10%. Bilangan oktan premium cuma 90%.

Dengan meningkatnya bilangan oktan, bahan bakar makin tahan untuk tidak terbakar. Akibatnya terjadi kestabilan proses pembakaran untuk memperoleh daya yang lebih stabil. Singkat kata, ‘Penggunaan bioetanol lebih efisien dan menurunkan polusi,’ ujar doktor Polusi Udara alumnus Illinois Institut of Technology itu. Beberapa zat polutan yang turun emisinya antara lain karbonmonoksida dan nitrogen oksida.

Penambahan bioetanol 10%, misalnya, menekan emisi buangan karbonmonoksida hingga 70%. Semakin tinggi kadar campuran bioetanol, kian rendah emisi karbonmonoksida. Hal senada diungkapkan oleh Dr Prawoto, kepala Balai Termodinamika, Motor, dan Propulsi (TMP), Serpong, Banten. Ia menuturkan penambahan bioetanol ke bensin, efektif membentuk oxygenated atau bahan bakar dengan ikatan karbon-hidrogen-oksigen yang mengurangi polusi udara terutama emisi karbonmonoksida.

Dengan demikian penggunaan bioetanol, ‘Mengurangi kecenderungan pemanasan global dan pencemaran udara,’ kata Agus Eko Tjahyono. Pemanasan global merupakan kejadian meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi akibat aktivitas manusia termasuk penggunaan alat transportasi. Kendaraan bermototor meningkatkan gas rumah kaca yang pada akhirnya memicu pemanasan global.

Gas rumah kaca adalah gas-gas di atmosfer penyerap gelombang panjang seperti infra merah yang bermanfaat bagi kehidupan bila kadarnya proporsional. Namun, ketika jumlahnya berlebih justru berakibat buruk dan menimbulkan bencana. Dalam seabad terakhir, peningkatan suhu bumi kira-kira 0,6oC. Pada akhirnya melambungnya suhu itu mengakibatkan mencairnya es di kutub. Dampaknya volume air laut pun meningkat sehingga menenggelamkan pulau-pulau.

‘Serap polutan’

Dr Handoko, direktur SEAMEO Biotrop menuturkan emisi gas rumah kaca di Indonesia didominasi oleh pembakaran bahan bakar fosil, diikuti oleh sektor pertanian, dan perhutanan. Pembakaran bahan bakar fosil seperti premium dan solar salah satu penyebab utama terjadinya pemanasan global. Kebiasaan Indra Gunawan dan pengguna kendaraan bermotor lain yang menggunakan gasohol mencegah pemanasan global.

Menurut Ir H Endes M Dahlan MS, dosen Pencemaran Lingkungan, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor penggunaan bioetanol berefek ganda. Selain mengurangi polutan, tanaman bahan baku bioetanol juga mensintesis karbondioksida, salah satu emisi pembakaran kendaraan bermotor. Lapisan karbondiosida di udara kira-kira 0,03% atau 300 ppm. Tanaman-termasuk jagung, sorgum, aren, dan ubikayu, semua sumber bioetanol-mensintesis karbondioksida dalam proses fotosintesis.

Pakar pertanian di Jakarta Ir Yos Sutiyoso menjelaskan karbondioksida masuk ke jaringan tanaman melalui stomata alias mulut daun. Pada mesofil di lapisan epidermis daun, karbondioksida berjumpa dengan air sehingga terjadi reaksi kimia yang menghasilkan glukosa. Berapa banyak karbondioksida yang ‘diserap’ tanaman dalam proses fotosintesis? Dr Arif Yudiarto, periset Balai Besar Teknologi Pati, menuturkan banyaknya karbondioksida yang disintesis dapat dihitung dengan mengetahui volume glukosa.

Sebagai contoh, produktivitas singkong yang dipanen pada umur 11 bulan mencapai 100 ton per ha. Dengan kadar pati 30% berarti jumlah glukosa 30.000 kg. Artinya, karbondioksida yang disintesis singkong dalam proses fotosintetsis selama 11 bulan mencapai 44.008.000 gram atau 44.008 kg. Padahal, sekarang tersedia beragam varietas unggul yang produksinya mencapai 160 ton per ha. Ada pula singkong berkadar pati hingga 40%. Dengan demikian, jumlah karbondioksida yang disintesis singkong jauh lebih banyak.

‘Harus diingat, itu baru dari proses fotosintesis. Tanaman juga melakukan respirasi yang juga memerlukan karbondioksida,’ ujar Arif doktor alumnus Yamanashi University. Jika luas penanaman singkong nasional 12.425.805 ha, artinya, karbondioksida yang disintesis tanaman anggota famili Euphorbiaceae itu minimal 546-miliar kg dalam waktu 11 bulan. Padahal, tanaman bahan baku bioetanol tak hanya singkong, tetapi juga aren, sorgum, tebu, ubijalar, padi, dan jagung yang luas penanamannya ratusan ha di berbagai daerah. Penggunaan bioetanol dan pertanaman sumber bioetanol yang kini memang ibarat payung bagi bumi. (Sardi Duryatmo

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img