Monday, August 15, 2022

Pohon Jagoan Serap Air

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Tunas bambu pada bagian bawah dapat memperlambat aliran batang. (Dok. Trubus)

Pohon-pohon jagoan meresapkan air dan menahan laju erosi.

Trubus — “Ada hubungan yang erat antara model arsitektur pohon dengan besarnya erosi tanah dan juga konservasi air,” kata guru besar di Departemen Biologi Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Ir. Dede Setiadi, M.S. Arsitektur pohon terbentuk pola pertumbuhan batang, cabang, ranting, dan pembentukan pucuk terminal pohon serta tata letak dan bentuk daun. Tumbuhan menerima curah hujan dan mengalirkannya melalui daun, ranting, cabang, dan batang hingga mencapai tanah.

Prof. Dr. Ir. Dede Setiadi, M.S. dari Departemen Biologi FMIPA IPB. (Dok. Trubus)

Saat hujan, air hujan tertahan di tajuk sehingga tidak langsung jatuh mengenai tanah disebut intersepsi. Setelah itu, air yang tertahan di tajuk akan menetes ke tanah dan disebut curahan tajuk (through flow). Ada pula air hujan yang mengalir di sepanjang batang disebut aliran batang (stem flow). Aliran batang akan menuruni batang dan mengalir bersama aliran permukaan tanah (surface run off). Curahan tajuk akan masuk ke dalam tanah sebagai air infiltrasi.

Tajuk lebar

“Pilih pohon dengan curahan tajuk lebih besar dibandingkan dengan aliran batang. Aliran batang besar menimbulkan erosi,” kata laki-laki kelahiran Cirebon, Jawa Barat, 2 April 1951 itu. Makin besar tajuk, akarnya juga makin besar. Secara alami akar mengikuti bentuk tajuk sehingga membentuk keseimbangan. Setelah berkali-kali meriset, Dede menyimpulkan terdapat tiga model arsitektur pohon yang dapat menahan air dan mencegah erosi. “Model McClure, Massart, dan Roux paling baik sebab laju erosinya rendah. Sebagian besar curahan tajuk jatuh ke tanah dan meresap menjadi air infiltrasi,” kata Dede.

Pohon pala memiliki tajuk tebal sehingga dapat menahan air hujan. (Dok. Trubus)

Contoh pohon dengan model arsitektur McClure adalah bambu. Bambu memiliki percabangan di bawah permukaan tanah yang disebut basitoni. Meski daun bambu berukuran kecil, tapi kumpulan daun membentuk tajuk yang padat dan rapat. Tanaman anggota famili Poaceae itu tumbuh merumpun sehingga kanopi makin luas. Model arsitektur pohon bambu memiliki curahan tajuk lebih besar dibandingkan dengan aliran batang.

Adanya tunas bambu pada bagian bawah dapat memperlambat aliran batang. Akibatnya aliran permukaan menjadi lebih lambat dan tanah yang terbawa aliran juga sedikit. Salah satu lokasi riset doktor bidang Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup alumnus IPB itu berada di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya. Lahan itu berkontur gelombang dan banyak ditumbuhi bambu tali Gigantochloa apus.

Ternyata tanah yang ditumbuhi rumpun bambu mengalami erosi 3,74 ton per ha per tahun. Sebagai perbandingan, masih di Kabupaten Tasikmalaya, terdapat kebun campur yang didominasi sengon Paraserianthes falcataria dengan model arsitektur Troll. Hasil pengamatan menunjukkan kebun sengon mengalami erosi 10,59 ton per ha per tahun. Lokasi lain di Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Gambung, Bandung Selatan.

Akar kopi

Pohon damar Agathis damara dengan model arsitektur Massart amat mendominasi RPH Gambung. Damar bertajuk tebal seperti kerucut dan berdaun lebar. Laju erosi kebun damar tergolong rendah yakni hanya 5,31 ton per ha per tahun. Pohon lain yang memiliki model arsitektur Massart di antaranya cemara Araucaria heterophyla, randu Ceiba pentandra, dan pala Myristica fragrans. Menurut Dede di lokasi yang sama terdapat kopi Coffea robusta ternaungi tusam Pinus merkusii. Kopi memiliki model arsitektur Roux sedangkan pinus model Rauh. Keberadaan pinus sebagai penaung juga berperan mengurangi dampak tetesan air hujan secara langsung.

Kopi berakar tunggang kuat dan mencapai kedalaman 3 m. Akar lateral mencapai 2 m dan membentuk anyaman ke segala arah. Oleh karena itu, kopi melindungi dan memegang tanah dari daya erosif air hujan. Laju erosi kebun kopi tergolong kecil hanya 6,94 ton per ha per tahun.

Pohon randu juga berperan menahan laju lipasan air hujan. (Dok. Trubus)

 

Banyak Cabang, Kanopi Lebar

Peneliti bidang Ekologi dan Sumber Daya Tumbuhan Departemen Biologi Institut Pertanian Bogor, Hirmas Fuady Putra, S.Si., M.Si, mengatakan, semua tumbuhan mampu menyimpan air untuk keperluannya sendiri. Namun, kemampuan tumbuhan menyimpan air untuk lingkungan berbeda-beda. “Tumbuhan penahan air adalah tumbuhan yang mampu menyimpan air untuk lingkungan. Istilah itu berbeda dengan menyimpan air untuk keperluan tumbuhan itu sendiri,” kata Hirmas.

Pohon yang baik untuk menahan air memiliki kapasitas intersepsi yang besar, aliran batang yang rendah, dan curahan tajuk yang tinggi. Menurut Hirmas pohon dapat menahan air agar bisa terserap lebih banyak ke dalam tanah sehingga menjadi air infiltrasi. Selain itu pohon penahan air mampu mencegah hanyutnya tanah oleh aliran permukaan.

Hirmas mengatakan, Cara sederhana mengetahui suatu pohon dapat menahan air adalah dengan observasi jumlah cabang, bentuk daun, dan luas kanopi. Meski demikian, perlu penelitian lebih lanjut untuk mengukur curahan tajuk, aliran batang, dan laju erosinya agar memperoleh hasil akurat. (Sinta Herian Pawestri/Peliput: Tamara Yunike)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img