Saturday, January 17, 2026

Potensi Beras Analog Hadapi Krisis Pangan

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Harga beras kian meroket, pada 07 April 2024 di laman Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), harga beras kualitas  bawah I Rp14.750 per kg (naik 1,03%) dan beras kualitas bawah II Rp14.450 per kg (naik 0,35%).

Harga beras kualitas medium I Rp16.000 per kg (naik 0,63%) dan medium II Rp15.750 per kg (naik 0,32%). Sementara harga beras kualitas super I dan II yakni Rp17.300 per kg (naik 0,29%) dan Rp16.750 per kg (naik 0,3%). Salah satu alternatif yakni beras analog—beras buatan yang terbuat dari tepung umbi-umbian, kacang-kacangan, dan bekatul.

Menurut Ahli Gizi Universitas Airlangga (UNAIR), Lailatul Muniroh S.K.M., M.Kes.,  proses pembuatan beras analog terdiri dari beberapa tahap, yaitu pemilihan bahan baku, penggilingan, pencampuran, perebusan atau pemasakan, pengeringan, penggilingan sekunder, penambahan zat gizi, dan penentuan bentuk dan kemasan.

Lebih lanjut ia menuturkan bahwa bahan baku yang dapat digunakan bisa dari  tepung umbi-umbian, seperti singkong, ubi jalar, atau talas. Tepung kacang-kacangan, seperti kedelai, kacang hijau, atau kacang merah, bekatu, vitamin, dan mineral.

“Bahan-bahan ini dicampur dengan perbandingan tertentu untuk menciptakan campuran homogen yang siap diolah lebih lanjut,” katanya.

Lebih lanjut ia menuturkan,  campuran tepung dapat direbus atau dimasak dengan cara tertentu. Seperti dengan ekstruder atau alat yang dapat mengubah campuran tepung menjadi butiran-butiran seperti beras.

“Setelah itu, butiran-butiran tersebut dikeringkan dengan menggunakan oven atau metode pengeringan lainnya, agar memiliki kadar air yang rendah dan dapat disimpan lebih lama. Butiran-butiran tersebut kemudian dapat digiling sekunder untuk mendapatkan tekstur yang lebih halus, tergantung pada jenis bahan baku dan keinginan produsen,” tutur Lailatul pada laman UNAIR.

Penambahan zat gizi bersifat opsional tergantung tujuan dan target produsen. Ia menuturkan bahwa beras analog satu sisi dapat mengatasi krisis beras. Namun pertimbangan lain yang mesti diperhatikan seperti penerimaan masyarakat, ketersedian bahan baku, kebutuhan lokal, harga, keberlanjutan produksi, kemanan pangan , dan regulasi.

Menurut Lailatul penerimaan masyarakat terhadap beras analog dipengaruhi  faktor sosial, budaya, dan ekonomi. “Beberapa masyarakat mungkin masih lebih menyukai beras asli daripada beras analog, karena alasan tradisi, selera, atau kualitas,” katanya.

Ketersediaan bahan baku juga menjadi faktor penting, karena bahan baku yang digunakan untuk membuat beras analog harus mudah didapat, murah, dan berkualitas. Aspek lain kesesuaian dengan kebutuhan lokal.

Selain itu harga dan ketersediaan beras analog juga harus kompetitif dengan beras asli dan keberlanjutan produksi beras analog harus terjamin. Regulasi dan keamanan pangan pun harus diperhatikan, agar beras analog yang diproduksi dan dikonsumsi memiliki standar kesehatan yang baik.

Lailatul menggaris bawahi bahwa beras analog dapat menjadi solusi jika semua faktor tersebut dipertimbangkan dan diatasi dengan baik.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img