Tuesday, August 9, 2022

Potensi Pasar Cabai Kering

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Butuh varietas cabai khusus untuk produksi cabai kering dengan kriteria panen tinggi, tahan hama penyakit dan randemen kering tinggi di atas 20%.(foto : Koleksi Andi Wahyono)

TRUBUS — Cabai kering potensial dikembangkan di Indonesia karena serapan tinggi.

Kebutuhan benih cabai Indonesia terbesar ketiga di dunia setelah Tiongkok dan India. Kebutuhan benih cabai di Indonesia berkisar 30 ton benih per tahun, sedangkan Tiongkok dan India masing-masing 110 ton dan 90 ton benih per tahun. Kebutuhan benih mencapai 100—125 gram per haktare. Populasi 18.000 tanaman per ha. Sementara itu produktivitas cabai keriting rata-rata 0,7 kg per tanaman.

Indonesia konsumen cabai terbesar ketiga setelah Tiongkok dan India. Badan Pusat Statistik mencatat tingkat konsumsi cabai pada 2019 mencapai 3,05 kg per kapita per tahun. Tingkat konsumsi itu meningkat 5,17% dibandingkan dengan pada 2016 hanya 2,90 kg per kapita. Konsumen di Indonesia mengenal tiga jenis cabai, yaitu cabai besar Capsicum annuum L. var. Grossum, cabai keriting Capsicum annuum var. Longum, dan cabai rawit Capsicum frutescens.

Potensial

Konsumen cabai di Indonesia terbagi menjadi dua sektor, yakni sektor rumah tangga dan industri. Serapan sektor rumah tangga sebagian besar dalam bentuk segar, sedangkan sektor industri memerlukan dalam bentuk segar, kering, bubuk, dan pasta. Hal itu menggambarkan betapa besar peluang bisnis penyediaan benih cabai di dunia. Industri mi instan salah satu penyerap cabai.

Indonesia yang berpenduduk sekitar 270 juta menyerap 18 miliar bungkus mi instan per tahun. Adapun kebutuhan cabai per bungkus mi 1 gram serbuk kering. Kebutuhan cabai serbuk kering setara dengan 18.000 ton per tahun. Padahal, rendemen cabai basah terhadap kering sekitar 20%. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan 18.000 ton cabai kering dibutuhkan cabai segar sebanyak 90.000 ton per tahun setara 11.250 hektare.

Sayangnya sebagian besar kebutuhan cabai kering masih impor dari India dan Tiongkok. Alasannya harga lebih murah berkisar Rp12.000–Rp15.000 per kg. Di Indonesia harga cabai segar berkisar Rp9.000—Rp30.000 per kg dan jika dikeringkan akan membutuhkan 5 kg cabai segar untuk menghasilkan 1 kg cabai kering, dengan kata lain minimal cabai kering harus dihargai Rp45.000—Rp150.000 per kg.

Pada 2018 misalnya, impor cabai kering mencapai 39.322 ton dari Tiongkok dan India. Pada 2019 jumlahnya meningkat hingga 44.047 ton, hasil pernigaan cabai kering itu setara Rp1,2 triliun per tahun. Artinya, permintaan cabai kering meningkat saban tahun. Diperlukan peran pemerintah agar pasar yang sangat besar dapat disokong dari hasil panen dalam negeri. Pengaturan harga cabai kering dalam negeri bisa merangsang animo petani dalam negeri dan memproduksi cabai kering.

Buah pedas anggota famili Solanaceae itu memang banyak aral dalam praktik budidayanya. Beberapa di antaranya biaya produksi yang terus meningkat, fluktuasi harga, dan ragam pasar terbatas. Sebagai contoh, biaya produksi cabai per tanaman bisa Rp8.000—Rp9.000 pada 2021. Petani memerlukan Rp120 juta untuk memelihara 1 ha. Bandingkan dengan lima tahun sebelumnya, biaya produksi Rp5.500—Rp6.000 per tanaman atau melonjak 45%.

Pengeriman cabai lazim dilakukan di India.(foto : koleksi Andi Wahyono)

Cabai kering

Kendala lain fluktuasi harga yang tak terkendali menyebabkan petani merugi. Contoh kasus pada Februari–September 2014 harga cabai semua tipe (besar, keriting, rawit) mencapai tingkat terendah yaitu Rp1.500—Rp2.500 per kg. Jauh di bawah harga produksi terendah kala itu Rp5.500 per kg. Kendala lain konsumen dalam negeri yang hanya menghendaki cabai segar, sehingga petani enggan memproduksi cabai dalam bentuk lain.

Adapun kebutuhan industri, contohnya mi instan membutuhkan cabai dalam bentuk kering. Dengan berbagai kendala dan tantangan yang dihadapi oleh petani cabai maka sangat diperlukan dukungan pemerintah dalam membuat kebijakan. Hal yang sangat mendesak adalah melebarkan ragam pasar berbahan baku cabai, seperti cabai kering, serbuk, atau pasta. India salah satu penghasil pasar cabai kering terbesar di dunia.

Cabai kering India banyak diekspor ke negara-negara Timur Tengah, Eropa, dan beberapa negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Industri cabai kering di tanah air bisa langgeng jika memenuhi berbagai syarat dari industri benih, infrastruktur pendukung, dan kebijakan pemerintah. Produsen benih mesti menyediakan benih khusus untuk memproduksi cabai bubuk kering.

Kriteria benih cabai unggul untuk produksi cabai bubuk kering antara lain, warna merah mendukung meski sudah dikeringkan, kepedasan tak berubah saat kondisi kering, hasil panen minimal 13 ton per hektare, tahan hama penyakit, terutama virus gemini dan randemen tinggi di atas 20%. Infrastruktur pendukung berupa mesin pengering, sehingga petani tetap bisa memproduksi cabai kering meski musim hujan. Pengadaan ruang pendingin dengan suhu 7—10oC juga perlu agar penyimpanan cabai kering lebih optimal.

Adapun peran pemerintah amat dibutuhkan terkait subsisdi dan regulasi produk cabai kering agar harga dan mutu cabai kering dalam negeri bisa bersaing dengan produk impor. Jika pasar cabai kering dalam negeri terlaksana secara tidak langsung berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani. Tidak menutup kemungkinan juga akan banyak sektor lain yang akan terlibat. Contohnya industri bumbu dan jamu yang kerap memanfaatkan cabai kering. Tujuan akhirnya tentu bermuara pada kebanggaan terhadap produk dalam negeri. (Andi Wahyono, Pemulia cabai PT Bisi International)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img