Mengolah komoditas apkir menjadi oleoresin dan hidrosol. Harga jual meningkat hingga 75 kali lipat.

Trubus — Harga 1 kg buah avokad di pasar Rp17.000. Namun, tim Gelora Rempah Inti Indonesia atau Griin memasarkan 1 kg olahan avokad menjadi lebih dari 75 kali lipat. Griin mengolah daging dan biji buah Persea americana menjadi produk oleoresin, yakni campuran dari resin, getah, atau cairan kental yang terkandung pada tanaman dan minyak asiri. Setiap 1 kg daging avokad menjadi 200—250 ml oleoresin yang bernilai Rp6.500 per ml. Harga tergantung jenis komoditas.
Oleoresin merupakan olahan pangan paling tinggi, lebih tinggi daripada minyak esensial yang merupakan olahan komoditas secara fisika dan kimiawi. Menurut kepala petugas operasional Griin, Ujang Supiandi, pemain oleoresin di Indonesia masih terbatas.
Multifungsi
Griin merupakan produsen oleoresin skala industri rumahan pertama yang mengolah lebih dari 25 komoditas menjadi oleoresin. Menurut Ujang semua jenis komoditas bisa diolah menjadi oleoresin. Sayuran daun, bunga, daging buah, biji buah, rempah, herba, hingga daging larva lalat tentara hitam merupakan bahan baku oleoresin. Oleoresin sesungguhnya adalah ekstrak berbentuk semipadat hingga cair dari komoditas tertentu.

Produk turunan itu kaya zat aktif seperti antioksidan, antiinflamasi, dan minyak asiri sehingga penggunaannya luas. Berbagai industri seperti industri kecantikan, farmasi, dan pangan menggunakan oleoresin. “Konsumen kami industri kosmetik yang menggunakan oleoresin sebagai campuran bahan. Kedai kopi juga meminta oleoresin untuk campuran dalam minuman,” kata Ujang.
Oleoresin kaya zat-zat aktif yang fungsinya berbeda-beda tergantung jenis komoditasnya. Penggunaannya hanya sedikit. Contoh oleoresin biji moringa dan daging avokad yang permintaannya sedang membanjiri Griin. Konsumen menggandrungi kedua oleoresin itu lantaran terbukti menghilangkan kerutan, mengencangkan kulit, mencerahkan, serta membersihkan kulit dalam kurun waktu 2—3 pekan.

“Biasanya untuk perawatan wajah cukup 2 tetes sehari sebagai serum pada pagi dan malam,” kata Thia Ashipa, anggota tim pengembangan produk Griin. Menurut Thia ada konsumen Griin yang menggunakan oleoresin cabai jawa untuk mengoptimalkan fungsi otak. Anjuran Thia jika menggunakan oleoresin sebagai konsumsi obat cukup 1 sendok teh saban hari. Griin rutin mengolah 1—3 kg biji moringa dan 10—20 kg buah avokad per bulan.
Perusahaan itu melayani minimal 100—150 ml berbagai jenis oleoresin saban bulan. Kapasitas produksi oleoresin Griin dalam satu siklus 1 kg bahan kering untuk menghasilkan 200—250 ml oleoresin. “Oleoresin tahan lama. Oleoresin yang kami produksi dari awal tahun 2018 pun hingga kini masih bagus,” ujar mahasiswa Jurusan Kimia, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung itu.
Zat aktif

Ujang mengeringkan bahan baku, mencacah, dan merendam dalam larutan heksana. Perendaman atau proses maserasi berlangsung selama 24 jam. Setelah itu ia memasukkan bahan ke tabung dari sistem evaporator yang terbuat dari kaca atau presto dan disambungkan dengan kondensor dari panci. “Kami menggunakan evaporator yang dibuat sesuai kebutuhan produksi,” kata Ujang.
Evaporator berfungsi menghilangkan pelarut heksan sehingga memperoleh ekstrak murni. Griin memiliki 2 evaporator kaca dan 1 evaporator presto. Delapan jam kemudian oleoresin terbentuk sempurna. Ujang memanggang oleoresin dalam oven pada suhu 68ºC atau suhu didih heksana untuk mengoptimalisasi penguapan. Akhir dari proses produksi oleoresin adalah pengemasan dalam botol berukuran 10 ml.
“Interpretasi fungsi zat aktif menjadi kunci utama menjual produk oleoresin,” kata Ujang. Menurut penelitian Setyowati dan rekanan dari Departemen Teknologi Pangan, Universitas Sebelas Maret, kualitas kandungan bahan dan cara persiapan bahan, ukuran bahan baku, dan jenis pelarut mempengaruhi produksi oleoresin. Faktor lain yang mempengaruhinya adalah durasi ekstraksi, jenis ekstraksi seperti maserasi atau soklet, dan suhu saat ekstraksi.
Selain oleoresin, Griin juga mengolah komoditas pertanian menjadi hidrosol yang merupakan produk dari penyulingan minyak esensial dengan metode distilasi uap. Namun, Griin lebih banyak memproduksi hidrosol ketimbang minyak esensial. Tidak semua komoditas seperti daun poko Mentha arvensis dan pot marigold Calendula officinalis memiliki rendemen minyak yang tinggi. (Tamara Yunike)
