Monday, August 8, 2022

Rebutan Setelah Terbuang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Rajungan Portunus pelagicus harus tetap hidup hingga tiba di lokasi pengolahanDahulu tak berharga, rajungan kini menjadi komoditas ekspor andalan.

Ujang, nelayan di Pulau Pari, Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta, kesal ketika mendapati rajungan “menyelonong” dalam bubu. Ia memasang puluhan bubu untuk memerangkap ikan. Itulah sebabnya ia membuang rajungan ke lautan. Sebelum 1992 rajungan memang tak berharga di Indonesia. “Jika tertangkap, banyak nelayan yang membuang rajungan,” kata Direktur Eksekutif Asosiasi Pengelola Rajungan Indonesia (APRI), Arie Prabawa.

 

Menurut Ujang bubu atau perangkap ikan dan rajungan berbeda. Ukuran bubu rajungan lebih kecil, panjang hanya tiga jengkal. Di dalam bubu rajungan, nelayan meletakkan umpan berupa ikan rucah. Sementara pada bubu ikan, nelayan tak pernah menaruh umpan. Menurut observer yang mendampingi nelayan, Dori Irianto, nelayan di Dadap, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, rata-rata memiliki 500 bubu rajungan. Mereka biasanya memasang bubu hingga 3—12 jam dan membiarkan rajungan masuk perangkap. Mereka baru mengangkat bubu rajungan pada sore atau malam hari.

Sebuah bubu berkapasitas 3 ekor rajungan. “Tapi kadang-kadang hanya terisi satu atau dua rajungan, bahkan kosong sama sekali,” kata Ujang. Jika semua bubu terisi penuh, maka dari 500 bubu nelayan mendapat 1.500 ekor sekali mengangkat bubu. Rajungan jenis kepiting yang hidup di laut, tubuh berbentuk gepeng, kepala dan leher menyatu dan tertutup tempurung keras. Satwa laut berkaki 10 itu baru menjadi komoditas potensial setelah perusahaan asal Amerika Serikat PT Phillips Seafoods Indonesia membangun bisnis di Indonesia pada 1992.

Peringkat ketiga

Penanggung jawab PT Phillips Seafoods Indonesia, Cuk Edy, mengatakan bahwa sebelum memperluas usaha ke Indonesia, ia melakukan survei untuk mengetahui potensi rajungan. “Indonesia  mempunyai sumber (rajungan) yang melimpah,” kata Cuk Edy. Begitu membangun usaha rajungan di Indonesia, Cuk Edy memberikan penyuluhan kepada para nelayan yang memasok rajungan. Harap mafhum para nelayan tak terbiasa menangkap komoditas itu. Misalnya Cuk mensyaratkan rajungan tetap hidup hingga tiba di pantai. Itulah sebabnya menurut Dori Irianto, nelayan bergegas ke pantai setelah mengangkat bubu.

“Daya tahan rajungan singkat. Begitu mati, rajungan cepat bau,” kata Dori. Oleh karena itu para eksportir mensyaratkan rajungan tetap hidup, meski ekspor dalam bentuk olahan alias sudah mati. Selain itu Cuk Edy juga melarang nelayan menangkap rajungan kecil, diameter karapas kurang dari 8 cm. “Meyakinkan mereka untuk tidak menangkap rajungan yang berukuran kecil  agar sumber bahan baku lestari sulit,” kata Cuk. Jika masuk perangkap bubu, maka nelayan melepas kembali rajungan kecil itu ke lautan.

Badan Rajungan Amerika Serikat—gabungan beberapa importir—pada Maret 2011 membuat regulasi antara lain menolak rajungan berkarapas berukuran kurang dari 8 cm dan rajungan bertelur. Tujuannya agar kelestarian rajungan di alam tetap terjaga sehingga ekspor pun tetap berkesinambungan. Dalam lima tahun terakhir Phillips mengekspor rata-rata 2.000—3.000 ton per tahun rajungan ke Amerika Serikat. Menurut data APRI, volume ekspor rajungan Indonesia mencapai 30.000 ton dengan nilai sekitar Rp2-triliun  per tahun. Di samping PT Phillips Seafoods Indonesia, terdapat 8 perusahaan lain anggota APRI yang juga mengekspor rajungan.

Arie Prabawa mengatakan, berdasarkan nilai ekspor komoditas perikanan Indonesia,  maka rajungan di peringkat ketiga setelah udang dan tuna. Indonesia menjadi pemasok utama rajungan ke pasar Amerika Serikat. Sebanyak 31% kebutuhan rajungan negara di Amerika utara itu berasal dari Indonesia. Selain Indonesia yang masuk negara 5 besar pemasok rajungan adalah Tiongkok (25%), Thailand (8,8%), Vietnam (8,4%), dan Filipina (7,8%). Sumber rajungan di Indonesia antara lain Jawa (28%), Lampung (21%), Sulawesi Selatan (21%), dan Medan (14%). Sementara Maluku dan Papua yang kaya rajungan belum tergarap optimal karena keterbatasan infrastruktur.

Padat karya

Sebanyak 95% jenis rajungan yang diekspor ke Amerika Serikat merupakan rajungan bulan terang Portunus pelagicus. Satwa anggota famili Portunidae itu mampu tumbuh hingga 18 cm dan berbobot 400 gram per ekor.  Indonesia memang menjadi habitat beragam rajungan antara lain rajungan angin Podophthalmus vigil, rajungan batik Charybdis natator, dan rajungan bintang Portunus sanguinolentus.

Cuk mengatakan bahwa tidak semua masyarakat negeri Abang Sam menggemari rajungan. Menurut Cuk hanya masyarakat di pesisir timur Amerika Serikat atau sepanjang Samudera Atlantik seperti Meine, New Hampshire, hingga Georgia yang terbiasa mengonsumsi rajungan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mengolah rajungan menjadi crab cake atau sup. Bagaimana dengan masyarakat Amerika Serikat di negara bagian lain? Cuk menuturkan, “Mereka perlu dikenalkan dengan bahan makanan itu.”

Arie Prabawa dan Cuk Edy mengatakan bahwa rajungan amat potensial dikembangkan. Selain pangsa pasar terbuka, industri rajungan juga menyerap banyak tenaga. Sebagai gambaran 9.000 nelayan di berbagai daerah menjual rajungan kepada para pengepul yang bermuara ke PT Phillips. Beberapa bulan lalu dalam seminar perikanan di Manado, Provinsi Sulawesi Utara, yang diselenggarakan oleh Balai Riset Perikanan Laut, Prabawa mengatakan industri rajungan menyerap banyak tenaga kerja.

“Diperkirakan sekitar 65.000 nelayan saat ini menangkap rajungan di seluruh perairan Indonesia, dengan alat tangkap bubu, gillnet, dan sebagian kecil bottom trawl.  Tidak kurang dari 13.000 anggota keluarga nelayan juga ikut mendukung industri-industri kecil pendukungnya sebagai pengupas rajungan,” kata alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Mereka menyandarkan hidup pada rajungan yang dahulu terbuang dan kini jadi rebutan eksportir. (Sardi Duryatmo)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img