Monday, August 8, 2022

Tebu Sehektar 180 Ton

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Dengan irigasi tetes, produktivitas tebu di Nakhon Ratchasima mencapai 180 ton per haProduksi tebu di Nakhon Ratchasima, Thailand, 180 ton per ha.

Produktivitas tebu di lahan milik Universitas Teknologi Suranaree (SUT), Thailand, itu sungguh fantastis: 180 ton per ha. Kampus di Provinsi Nakhon Ratchasima, Thailand, itu mengelola 4,88 ha untuk budidaya tebu. Padahal, sebelumnya produktivitas hanya 24 ton per ha. Harap mafhum, daerah itu bercurah hujan amat rendah, 1.028 mm per tahun dan suhu harian yang panas.

 

Lampu indikator masalah pada selangBandingkan dengan produktivitas tebu di Indonesia rata-rata 80 ton per ha. Memang pemerintah Indonesia baru merilis varietas  baru  tebu  dengan produktivitas 120 ton  per ha pada 2012.  Artinya produktivitas di lahan percobaan kampus Universitas Teknologi Suranaree dua kali lipat lebih produktivitas rata-rata pekebun Indonesia.  Menurut Ir Budiarto MMA, Kepala Pusat Penelitian Gula PT Perkebunan Nusantara X, Kediri, Jawa Timur, produktivitas 180 ton per ha sangat fantastis.

Irigasi tetes

Kunci sukses tingginya produktivitas tebu negeri jiran itu adalah penggunaan irigasi tetes. Setelah menerapkan teknologi itu,  juga  terjadi  penghematan  pupuk. Dalam 1 periode tanam selama 12 bulan, kebutuhan pupuk nitrogen dan fosfor hanya 30—70 kg per ha dengan populasi 7.000—8.300 tanaman. Sebelumnya, kebutuhan pupuk nitrogen per musim tanam lebih dari 200 kg per ha.

Di tepi lahan tebu 4,88 ha itu terpasang unit pompa air, selang, nozel, dan berbagai macam sensor. Saat tanaman kekurangan air, sensor mendeteksi dan langsung mengalirkan campuran air dan nutrisi. “Pemberian nutrisi dan air mesti tepat jumlah dan tepat waktu,” kata Dr Sodchol Wonprasaid, konsultan kebun dari Institut Teknologi Agrikultur, Universitas Teknologi Suranaree.

Menurut Dr Ace—julukan Sodchol—teknik irigasi tetes mampu memangkas 40—60% pemakaian air. Selain itu, meniadakan biaya tenaga kerja pemupukan sehingga memangkas biaya perawatan lahan. “Dengan aplikasi tepat, air dan nutrisi langsung terserap akar dan hanya sedkit yang merembes di tanah. Dengan demikian pupuk dan air pun hemat,” kata periset teknologi budidaya itu. Absennya rembesan air dan pupuk di tanah sekaligus menekan pertumbuhan gulma.

Ir Yusnal Oezer dalam “Agroteknologi Tebu Lahan Kering” menyebutkan bahwa pertanaman tebu mengundang gulma lantaran tanah yang relatif subur karena pemupukan teratur. Dengan mengonsentrasikan air dan nutrisi di sekitar akar, tidak ada nutrisi sisa yang bisa dimanfaatkan gulma untuk tumbuh. Saat tebu tumbuh rapat sampai menutup lahan, gulma pun tidak mampu lagi bersaing.

Indikator

Dr Ace dan para mahasiswanya membagi lahan tebu berukuran 200 m x 244 m itu menjadi 4 petak besar. Masing-masing berukuran 100 m x 122 m alias

1,22 ha. Setiap bagian besar terbagi lagi menjadi 4 petak kecil, masing-masing seluas 3.050 m2 alias 50 m x 61 m. Di setiap petak kecil ada satu sensor yang dibenamkan di tanah. Sensor itu berfungsi mendeteksi berbagai variabel, antara lain pH tanah, kelembapan tanah di sekitar tanaman, dan suhu udara.

Saat terjadi perubahan, sensor mengirim sinyal dan mengaktifkan keran. Air dari bak penampung berukuran 100 m3 pun mengalir. Jalinan selang sepanjang ratusan meter itu juga berpotensi menimbulkan masalah seperti kebocoran atau penyumbatan. Untungnya para peneliti NECTEC—National Electronics and Technology Center, mitra kerja SUT yang membuat berbagai sensor digital berteknologi tinggi—mengantisipasinya.

Mereka menempatkan sensor di dekat bak air. “Jika terjadi kebocoran, nozel copot, atau persambungan lepas, maka tekanan air akan menurun drastis,” kata Wutthinan Jeamsaksiri, peneliti NECTEC. Jika nozel tersumbat, maka tekanan akan tinggi meski keran terbuka. Saat sensor mendeteksi kelainan, indikator—yang diwakili oleh lampu merah, kuning, dan hijau seperti lampu pengatur lalu lintas—akan berubah dari hijau ke kuning atau merah.

“Kuning artinya terjadi kebocoran atau penyumbatan, sedangkan merah berarti ada sambungan selang yang lepas,” kata Wutthinan. Lepasnya persambungan selang menjadi masalah serius karena menghabiskan cadangan air dan pupuk dalam bak. Itu sebabnya jika lampu merah menyala, sebuah sirine berbunyi lantang untuk menarik perhatian petugas.

Bak penampung air terbuat dari beton berukuran 5 m x 10 m setinggi 2 m. Saat terisi penuh, bak itu mampu menampung 100 m3—setara 100.000 l air. Bak itu dibuat langsung di atas tanah tanpa kaki penyangga lantaran bobotnya sangat berat. “Bobot 100.000 l air saja 100 ton, belum termasuk bobot bak itu sendiri,” kata Dr Ace. Untuk mengisi penuh bak, sebuah pompa berkekuatan 1.400 watt—setara 1,8 tenaga kuda—memerlukan waktu 4—5 jam. Mereka memanfaatkan air dari embung di dekat jalan masuk ke lahan

Sulit air

Dengan berbagai peralatan itu, semua berjalan otomatis. Pekerjaan para petugas—terdiri atas para mahasiswa bimbingan Dr Ace yang melakukan penelitian atau kerja praktek dan para peneliti NECTEC—hanya mondar-mandir memeriksa kondisi sensor dan menguji berbagai variabel sesuai penelitian masing-masing. Meski demikian, riset yang pada 2013 memasuki tahun kelima itu efektif mendongkrak produktivitas hingga 180 ton per ha.

Sayang, teknologi tinggi sebanding dengan biaya. Menurut Dr Ace, biaya pengadaan irigasi tetes itu mencapai USD10.000—setara Rp95-juta. Itu sebabnya pihak SUT masih mencari cara membuat sensor dan peralatan yang lebih terjangkau. Tujuannya agar pekebun di sana mampu menerapkannya. Sebab, tebu menjadi komoditas ekspor potensial. Thailand eksportir gula mentah terbesar kelima setelah  Brasil, India, Kuba, dan China. Pada 2005, nilai ekspor gula mentah mencapai 29,541-juta baht setara Rp10,04-triliun.

Sentra tebu Thailand di 8 provinsi: Nakhon Ratchasima, Kanchanaburi, Suphanburi, Udonthani, Chaiyaphum, Kampangpeth, Konkaen, dan Nakhon Sawan. Dari semua provinsi itu, Nakhon Ratchasima menghadapi masalah serius berupa rendahnya curah hujan dan tingginya suhu harian. Curah hujan tahunan di sana hanya 1.028,1 mm. Itu hanya separuh curah hujan tahunan sebagian besar Provinsi Jawa Barat yang mencapai 2.000 mm.

Adapun suhu harian tertinggi musim kemarau mencapai 360C, lebih tinggi ketimbang Bangkok—ibukota Thailand—yang rata-rata hanya 340C. Menurut Dr Hatsachai Boonjung, periset agroklimat di SUT, kondisi itu menyebabkan respirasi tinggi sehingga produksi tanaman semusim rendah. Idealnya pekebun tebu membuat parit irigasi untuk mengairi tanamannya. Namun, cara itu hampir mustahil dilakukan di Nakhon Ratchasima. “Parit-parit itu akan kering dalam 1—2 pekan,” kata Hatsachai. Teknologi irigasi tetes menjadi solusi. Sayang, harganya masih mahal.  (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Kartika Restu Susilo)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img