Sunday, August 14, 2022

Rezeki Rio di Ladang Pisang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

TRUBUS — Menekuni bisnis hulu dan hilir pisang demi memenuhi permintaan pasar yang belum terlayani.

Rio Erlangga fokus menekuni bisnis pisang sejak 2016 (foto : Rio Erlangga)

Lahan 35 hektare itu semula terbengkalai. Lokasinya di Desa Cijaya, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Kemudian Rio Erlangga bekerja sama dengan pemilik lahan—produsen tesktil PT Gistex Chewon Shynthetic—untuk membudidayakan pisang. Pada Mei 2021 Rio memanen perdana pisang cavendish di lahan yang semula menganggur.

Acara panen perdana itu dihadiri para pejabat tinggi dari instansi pemerintah seperti Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Pertanian menghadirinya. “Semua kebun cavendish yang produktif saat ini mencapai 66 hektare,” kata Chief Executive Officer PT Citra Agri Pratama (CAP) itu. Satu hektare berpopulasi 2.000 tanaman. Jika satu tandan berbobot 20 kg, ia memanen 2.640 ton pisang.

Kebun bertambah

Rio tidak pusing memikirkan pasar karena ada dua perusahaan distributor buah terkemuka di tanah air yakni PT Laris Manis Utama (LMU) dan PT Sewu Segar Nusantara (SSN) yang siap menampung hasil panen. Meski baru tahap uji coba pemasaran, peluang kerja sama jangka panjang terbuka lebar. LMU menerima cavendish, sedangkan SSN menghendaki mas kirana.

Kebun pisang kelolaan Rio Erlangga terus bertambah setiap tahun. (Foto : Sinta Herian Prawesti)

Pasokan untuk LMU menyesuaikan kemampuan produksi kebun. Oleh karena itu, Rio dan LMU mempunyai kesepakatan forecast. Dari hasil pantauan pesawat nirawak (drone) dan jadwal pemeliharaan bisa diperoleh jadwal dan jumlah panen. Panen perdana cavendish itu makin meneguhkan Rio sebagai pebisnis pisang terpercaya. Selain mengelola kebun cavendish, ia juga memiliki kebun pisang mas kirana.

Saat ini baru sekitar 90 ha yang produktif dengan kapasitas produksi 13 ton per pekan. Total jenderal ada 300 ha kebun mas kirana yang tersebar di beberapa wilayah seperti Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Yang paling fenomenal ia tengah membangun kebun seluas 1.300 ha di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. “Sedang dilakukan pembukaan lahan (land clearing) di sana. Penanaman bertahap misal per 100 ha,” kata Rio.

Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, itu menerapkan pola pengembangan masyarakat dan pertanian terpadu (integrated farming) di lahan luas itu. Rencananya merawat ternak (kambing atau sapi) menjadi kegiatan sampingan petani penggarap. Sistem kerja samanya bagi hasil dengan syarat induk tidak boleh dijual dan kotoran hewan mesti dikembalikan ke kebun. Ketika jumlah ternak mencukupi kebutuhan kotoran hewan, sisa ternak bisa dijual.

Membina petani

CAP memerlukan ribuan ton kotoran hewan setara sekian miliar rupiah. Substitusi anggaran itu berupa ternak lantaran lebih ekonomis dan ada nilai tambah dari hasil ternak. Rio berharap hasil panen pisang di lahan 1.300 ha untuk memasok pasar ekspor mulai 2022. Selama ini ia belum mengekspor pisang karena hasil panen belum memadai. Rio tidak sembarangan memilih pisang sebagai salah satu komoditas yang dikembangkan.

“Potensi pasar pisang luar biasa. Permintaann pisang meliputi pasar lokal dan ekspor. Belum termasuk pasar industri seperti olahan berupa pure dan tepung. Kebutuhannya sangat besar,” kata pria yang fokus menekuni bisnis pisang sejak 2016 itu. Lebih lanjut ia menuturkan, pisang kesukaan konsumen antara lain cavendish, mas, barangan, dan raja bulu. Cavendish disukai pasar ekspor.

Meski begitu pisang lokal Indonesia seperti kepok kuning, tanduk botol, dan nangka pun dicari pembeli di mancanegara. Ia pun tengah berupaya menanam ketiga jenis pisang lokal itu untuk memenuhi permintaan ekspor. “Permintaan itu ekuivalen dengan penanaman pisang di lahan 576 ha,” warga Kota Wisata Cibubur, Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu. Rio meyakini ada pasar yang menerima pisang lokal Indonesia jika memang dipromosikan. Agar efisiensi dan efektivitas tenaga kerja tercapai, ia menyarankan pekebun pemula menanam pisang di lahan 5—10 ha. (Riefza Vebriansyah/Peliput: Sinta Herian Pawestri)

Previous articlePisang Beririgasi Tetes
Next articleAgar Layu Menjauh
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img