
Tanaman obat terbukti membantu mengatasi tuberkulosis.
Trubus — Setelah 137 tahun berlalu, bakteri Mycobacterium tuberculosis masih menempati peringkat ke-10 penyebab kematian tertinggi di dunia. Heinrich Hermann Robert Koch menemukan bakteri Mycobacterium tuberculosis pada 24 Maret 1882—tanggal itu diperingati sebagai hari tuberkulosis. Pada 2016 terdapat 10,4 juta kasus tuberkulosis setara dengan 120 kasus per 100.000 penduduk.
Lima negara dengan insiden kasus tertinggi yaitu India, Indonesia, Tiongkok, Filipina, dan Pakistan. Pada 2017 Indonesia negara kedua terbanyak penderita tuberkulosis setelah India. Penderita 1 juta kasus atau 0,4% dari seluruh penduduk Indonesia.

Obat herba
Menurut dokter sekaligus herbalis di Yogyakarta, dr. Sidi Aritjahja, penyebab seseorang terserang tuberkulosis karena adanya infeksi atau penularan dan daya tahan tubuh lemah. Keduanya merupakan faktor utama serangan tuberkulosis. Primer Kompleks Tuberkulose (PKTB) lazimnya menyerang anak-anak. Gejalanya badan terlihat kurus, sering berkeringat di bagian kepala. Adapun gejala untuk orang dewasa, umumnya batuk lebih dari 1—2 bulan disertai pembengkakan kelenjar limfa pada leher.
Dokter alumnus Universitas Gadjah Mada itu menuturkan, jika seseorang diduga mengidap tuberkulosis lazimnya mengetes dengan tes mantoux. Jika positif, dokter langsung melakukan pengobatan. Untuk lebih memperkuat, umumnya juga merontgen paru. Pengobatan yang lazim dengan cara meningkatkan kondisi tubuh secara masif untuk melawan bakteri tuberkulosis dan memberikan antibiotik tertentu secara medis.
Salah satu upaya mengatasi tuberkulosis adalah konsumsi herba. Esther Aprilia dan Ami Tjiraresmi membuktikan bahwa cengkih Syzygium aromaticum berpotensi melawan tuberkulosis. Periset dari Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran itu meneliti 15 tumbuhan yang memiliki aktivitas antituberkulosis. Mereka mengelompokkan berdasarkan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC).

Klasifikasi nilai MIC dengan menggunakan bahan tumbuhan ekstrak adalah kurang dari 100 μg/ml sangat aktif sebagai agen antimikrob. Hasil penelitian menunjukkan obat dari bahan alam dapat menjadi alternatif untuk pegobatan tuberkulosis. Tanaman cengkih Syzygium aromaticum salah satu yang potensial mengatasi tuberkulosis. Senyawa aktif yang terkandung dalam bunga anggota famili Myrtaceae itu adalah terpenoid, alkaloid, dan flavonoid.
Flavonoid memiliki aktivitas antituberkulosis dengan cara menyerap radikal hidroksil dan radikal anion superoksida. Peningkatan radikal bebas pada pasien tuberkulosis berhubungan dengan tingkat keparahan penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya cekaman oksidatif. Cengkih mampu mencegah peningkatan keparahan penyakit.

Ramuan lain
Sidi yang acap memberikan resep herbal kepada para pasien menyarankan kombinasi jahe Zingiber officinale, laos Alpinia galanga, dan lempuyang Zingiber aromaticum. Perpaduan ketiganya efektif melawan penyakit karena ulah Mycobacterium tuberculosis itu. Bahannya terdiri atas 5 gram rimpang jahe, 1,5 gram rimpang laos, dan 1,5 gram lempuyang. Cuci bersih ketiga rimpang itu, iris, dan rebus dalam 3 gelas air hingga mendidih.
Hasil rebusan itu terbagi menjadi menjadi 2 gelas untuk konsumsi pagi dan malam. Sidi menyarankan mengonsumsi rutin setiap hari selama 4—6 bulan. Cara kerja gabungan ragam rempah itu bisa meningkatkan sistem imunitas tubuh dan mengganggu lingkungan hidup bagi mikobakteria tuberkulosis. Penilaian kemajuan pengobatan bisa dilihat melalui cek labolatorium, rontgen, atau sediaan apus dahak.

Sidi mengatakan beberapa pasien tuberkulosis yang ditanganinya membaik dengan mengonsumsi rutin kombinasi herba racikannya. Perubahan terlihat dari hasil rontgen. Mengonsumsinya bisa berbarengan dengan obat yang diresepkan dokter. Namun, Sidi lebih menyarankan tanpa konsumsi berbarengan.
Sidi menyarankan, jika pasien telanjur mengonsumsi obat medis, sebaiknya teruskan sampai selesai dahulu. Tujuannya agar tidak terjadi resistensi obat multidrug resistant. Namun, sebaliknya jika belum memperoleh obat dari dokter, disiplin konsumsi ketiga tanaman obat itu untuk melumpuhkan bakteri yang menyerang organ paru-paru. (Muhamad Fajar Ramadhan/Peliput: Bilqis Sinar Rizki Harumningtyas, Gabrella Chandrawati, Triana Nur Azizah)
