Monday, November 28, 2022

Sagu Unggul dari Seram

Rekomendasi

Sagu molat varietas unggul pertama, tanpa duri di sekujur pohon, dapat dipanen 3 tahun lebih cepat, dan produksi menjulang hingga 300 kg per tanaman.

S agu molat tanaman bertipe tegak dan hidup merumpun. Tak seperti sagu jenis lain, molat tidak memiliki duri sehingga pekebun lebih mudah panen. Sagu sejatinya terdiri  atas dua golongan, yaitu pleonanthic dan hepaxanthic. Pleonanthic sagu yang berbunga dan berbuah dua kali sepanjang hidupnya, kandungan pati rendah. Adapun  hepaxanthic tanaman yang berbunga dan berbuah sekali dalam hidupnya, memiliki nilai ekonomis penting, karena kandungan pati lebih banyak.

Molat termasuk sagu hepaxanthic. Fase pertumbuhan molat, sejak  semai, sapihan (tanaman muda), tiang, pohon, pohon masak tebang, dan lewat masak tebang. Semai merupakan fase sagu masih berupa anakan, belum membentuk batang. Pada fase sapihan tanaman sagu sudah membentuk batang sampai ketinggian 1,5 m. Fase selanjutnya adalah tiang yaitu sagu dengan tinggi batang 1,5–5 m yang diikuti dengan fase pohon dengan tinggi batang lebih dari 5 m.

30 ton sehektar
Fase pohon masak tebang terdiri dari berbagai tingkatan. Maputi masak (bunting) ketika  terjadi pembengkakan pada pucuk tumbuh, kemudian keluar jantung. Jantung tumbuh bercabang-cabang yang disebut tanduk rusa. Fase selanjutnya adalah sirih buah yaitu keluarnya bunga sagu dari tanduk rusa, bentuknya seperti buah sirih. Fase terakhir adalah lewat masa tebang,  sagu sudah berbuah dan dalam 1–2 tahun tanaman akan mengering dan mati.
Masyarakat panen molat pada saat fase masak tebang dengan ciri munculnya calon bunga. Molat mencapai fase itu pada umur 7,5 tahun atau 3 tahun lebih cepat dari jenis sagu lain. Pada fase itu kandungan pati pada empulur mencapai kadar tertinggi, yakni 82–84%. Bila bunga sudah menjadi buah, kandungan pati pada empulur sudah jauh berkurang.  Jika pekebun panen 300 kg pati dari sebuah pohon, maka dengan jarak tanam 10 m x 10 m, di lahan 1 ha pekebun dapat memanen 30 ton pati dari 100 pohon.
Tinggi batang molat bisa mencapai 10–16 m dengan diameter 1,5 m dihitung pada ketinggian 50–80 cm dari permukaan tanah. Daun warna hijau muda, dengan jumlah daun pada fase dewasa mencapai 18–24 buah. Panjang pangkal pelepah (sahani) 1,5–2 m, panjang pelepah (rachis) 9–11 m. Panjang anak daun 1,3–1,7 m, lebar anak daun 6–8 cm, jumlah anak daun 70–90 helai pada satu sisi.
Bunga molat merupakan tandan bunga berbentuk seperti tanduk rusa dengan panjang 1,5–2 m. Bentuknya seperti buah sirih dengan panjang tangkai 10–15  cm, dan berwarna cokelat. Buah berbentuk bulat, buah muda berwarna hijau dan buah tua berwarna cokelat dengan diameter 3–4 cm. Jumlah buah yang berhasil membentuk biji hanya 13–20%.
Perbanyakan tanaman biasanya dengan sucker atau anakan yang tumbuh di pangkal pohon. Sebuah pohon menghasilkan 4–5 sucker. Molat  adaptif ketinggian kurang dari 400 m di atas permukaan laut, pada tanah dengan keadaan becek dan berlumpur. Syaratnya, lama genangan kumulatif kurang dari 6 bulan dan dengan tinggi genangan musim hujan kurang dari 40 cm. Molat cocok hidup di daerah dengan curah hujan lebih dari 1.100 mm/tahun dengan bulan kering kurang dari 3 bulan.

Dominasi
Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Provinsi Maluku memiliki satu kebun khusus molat di Kabupaten Seram Bagian Barat terdiri  atas  2.000  tanaman.  Maluku  memang sentra  sagu  dengan  luas  penanaman 58.185 ha. Luas penanaman sagu di Indonesia lebih dari separuh luas penanaman sagu dunia yang mencapai 2,4-juta ha.
Produksi pati kering asal sagu di Indonesia mencapai 5.992.000 ton. Namun, masyarakat masih mengandalkan sagu yang tumbuh di alam. Pekebun kini dapat membudidayakan varietas sagu molat yang unggul. Sagu penghasil karbohidrat yang penting di samping beras, jagung, dan umbi-umbian.
Dengan metode penyerbukan silang, Metroxylon sp memiliki banyak sekali jenis. Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan, di Ambon, Maluku, berhasil mengidentifikasi beberapa jenis sagu, di antaranya molat Metroxylon sagu, tuni M. rumphii, ihur M. sylvestre, makanaru M. longispinum, dan duri rotan M. micracanthum. Masyarakat biasanya mengonsumsi  sagu dalam bentuk olahan papeda, sagu lempeng, sagu gula, karu-karu, sinoli, dan uha. Sejak 2000 juga sudah dikembangkan berbagai industri makanan berbahan dasar sagu seperti mi, soun, bakso, beras, dan berbagai penganan lain. Pati sagu juga kerap digunakan dalam berbagai industri farmasi dan kosmetik.
Masyarakat pedesaan memanfaatkan limbah panen sagu sebagai bahan pelengkap rumah. Daun sagu untuk atap, pelepah sagu (gaba-gaba) sebagai dinding rumah, plafon, bangku (tapalang), meja (degu-degu). Kulit batang (waa) sebagai lantai, jalan setapak, dan kayu bakar. Bekas tebangan menghasilkan ulat sagu (sabeta) yang menjadi bahan makanan masyarakat. Ampas empulur (ela sagu) dapat diolah menjadi kompos dan campuran makanan ternak.

Tradisional
Masyarakat  mengolah  sagu secara tradisional atau semimekanis. Secara tradisional mereka menghancurkan empulur dengan nani atau pukul sagu. Proses selanjutnya adalah ekstraksi atau ramas sagu. Mereka melakukan di sahani (pelepah sagu yang melekat pada batang) dengan penyaring runut yang terbuat dari seludang kelapa. Penampungan dan pengendapan pati sagu dilakukan di goti yang terbuat dari belahan batang sagu. Masyarakat menampung  pati sagu di tumang atau keranjang yang dibuat dari daun sagu. Secara semimekanis mereka menghancurkan empulur dengan mesin parut.
Sagu dalam khasanah budaya dipercaya mencirikan budaya dasar beberapa suku di Maluku. Makanan tradisional berbahan sagu wajib ditampilkan dalam upacara-upacara adat maupun keagamaan. Olahan sagu lempeng digunakan sebagai sagu zakat dan sagu fitrah. (Ir Achmad Sarjana MSi, Kepala Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Perkebunan Indonesia Timur,  Ambon)

Keterangan foto

  1. Sagu molat memiliki ciri tidak berduri, dapat dipanen 3 tahun lebih cepat
  2. Sagu dapat diolah menjadi berbagai penganan, contohnya papeda (foto), uha dan karu-karu
  3. Pelepah sagu (gaba-gaba) dapat dimanfaatkan sebagai bangku (tapalang), meja (degu-degu), dinding rumah, dan plafon
  4. Kandungan pati sagu molat mencapai 84%
  5. Empulur batang sagu dihancurkan secara tradisional atau semimekanis hingga menghasilkan pati sagu
Previous articleBibit dari Pucuk
Next articleTeringat Sepanjang Hayat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img