Wednesday, August 10, 2022

Satu Alat Tiga Manfaat

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Pekebun tentu amat letih lantaran harus menugal—membuat lubang tanam dengan cara menekankan tongkat yang ujungnya lancip. Lalu ia membungkuk untuk memasukkan biji ke lubang tanam, dan menimbun lubang itu. Lalu berdiri lagi untuk menugal, dan seterusnya. Biaya produksi untuk pos penanaman pun relatif mahal, Rp600.000.

Boleh jadi pekebun kurang bergairah membudidayakan kedelai lantaran cara tanamnya ruwet. Untuk mengatasinya Ir Amir Soediro Notoyudo menciptakan mesin tanam kedelai. Konsultan pertanian itu menyebut kreasinya dengan nama sintale. Komponennya terdiri dari pendorong seperti setang pada sepeda, kerangka, seed matering device alias pengulur benih, rantai transmisi, roda penggerak, singkal, penimbun lubang tanam, dan roda penumpu.

Mesin berbobot 6 kg itu mudah dibawa ke mana-mana. Maklum panjangnya cuma 125 cm, lebar 40 cm, dan tinggi 80 cm. Ketika setang didorong—alat tanpa bahan bakar—singkal bekerja melubangi tanah setiap jarak 20 cm. Kedalaman lubang tanam seragam 3—5 cm. Dengan memutar keran seed matering device, 3 butir kedelai jatuh dari bagian pengulur benih tepat di bawah lubang tanam. Jumlah benih yang jatuh dapat diatur, 1—3 butir per lubang tanam. Lubang yang berisi benih itu kemudian ditimbun oleh pengurug.

Mudah

Penggunaan sintale mudah lantaran alat itu gampang dioperasikan. Tingkat kegagalannya hanya 3—5% karena roda mengalami slip. Toh, slip dapat diatasi dengan memperbaiki posisi roda. Dengan sintale, seorang pekebun hanya butuh waktu 3—4 hari untuk menanam Glycine max di lahan 1 ha. Artinya pekebun menghemat Rp680.000 per sekali tanam.

Begini perhitungannya. Upah 1 hari orang kerja (HOK) Rp20.000. Dengan sistem konvensional, penanaman selama 50 hari membutuhkan biaya Rp1.000.000. Bandingkan jika memanfaatkan sintale yang hanya memerlukan 3 hari kerja atau Rp320.000. Biaya operasional sintale menghemat Rp680.000. Padahal, harga mesin itu cuma Rp275.000 dan dapat digunakan bertahun-tahun.

Bukan itu saja keunggulan mesin praktis itu. “Petani bisa lebih santai sewaktu menanam kedelai karena tak harus membungkuk,” ujar Amir. Pada penanaman konvensional, membungkuk diperlukan untuk menjatuhkan benih ke lubang tanam dan menimbunnya. Dengan sintale badan pegal dan lelah karena sering membungkuk tak akan ada lagi.

Karena kepraktisan dan kecepatan tanam, menyebabkan pertumbuhan lebih serempak dan seragam. Dampak lebih lanjut, “Pengendalian hama dan penyakit lebih mudah dan hemat,” kata pensiunan Angkatan Darat itu. Ketimbang penanaman konvensional—terutama sistem tanpa olah tanah—pemanfaatan sintale menghemat 50% benih setara Rp160.000. Saat ini harga sekilo benih kedelai Rp8.000.

“Pekebun dapat membeli sintale hanya dari penghematan ongkos tanam kedelai dalam satu musim tanam,” ujar alumnus Universitas Gadjah Mada itu. Bila sintale itu diterapkan di seluruh Indonesia, terjadi penghematan besar-besaran. Capai membungkuk ketika menanam diharapkan tidak lagi menjadi kambing hitam. Dengan demikian pekebun kembali bergairah membudidayakan anggota famili Fagaceae itu. Volume impor sejuta ton kedelai per tahun pun berkurang. (Lastioro Anmi

Tambunan)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img