Monday, August 8, 2022

Sel Satu Sumber Solar

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Kabinawa memanen 483 ml biodiesel dari lahan 0,5 m2Alga hijau pekat siap panen umur 10—12 hariProf  I Nyoman Kabinawa menambahkan 20% atau 2 liter minyak alga ketika mengisi 8 l solar ke tangki mobil dieselnya. Kapasitas bahan bakar tangki mobil 50 liter.  Periset di Pusat Penelitian Bioteknologi itu memacu mobil berbak terbuka dari Bogor ke Jakarta sejauh 50 km pergi pulang. Menurut Kabinawa tarikan mobil terasa ringan.

Untuk menempuh jarak 9 km, Kabinawa menghabiskan 1 liter. Artinya hampir sama ketika mobil itu menggunakan 100% solar, 1 liter bahan bakar mampu menempuh 9,2  km. Dalam uji itu campuran minyak alga relatif sama dengan bahan bakar solar.  Untuk memperoleh minyak, Kabinawa  membudidayakan dan mengolah alga Botryococcus sp di bak akuarium volume 5 – 10 liter sampai bak fiber bervolume 200 liter.

Cepat panen

Kabinawa memanfaatkan Botryococcus sp, strain i nyoman kabinawa (INK) – hasil temuan di Cianjur, Jawa Barat, pada Juli 2008. Lokasi budidaya harus memiliki sumber cahaya dan bercurah hujan rendah. Menurut Kabinawa tumbuhan bersel satu itu siap panen pada umur 10 – 12 hari. “Pertumbuhan alga cepat dan hemat tempat,” ujar Kabinawa. Ciri alga siap panen antara lain jika warna permukaan air menjadi hijau pekat. Produktivitas alga mencapai 200 liter per 0,5 m2.

Botryococcus sp strain INK mengandung 40% lemak. Dengan proses manipulasi, Kabinawa dapat mendongkrak kadar lemak atau minyak hingga 60%. Minyak itu yang diolah menjadi biodiesel. Kabinawa mula-mula memisahkan alga dan air sehingga memperoleh biomassa mirip bubur. Cairan itulah yang ia ekstraksi sehingga menghasilkan minyak.

Dari 200 liter larutan alga, Kabinawa memperoleh 483 ml minyak. Minyak itulah yang ia gunakan untuk mengisi tangki mobil diesel. Menurut ahli alga dari Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Mujizat Kawaroe, alga memang potensial sebagai bahan baku biodiesel. Selain umur produksi singkat, produktivitas alga juga relatif tinggi.

Dari lahan 1 ha, pekebun alga dapat  menuai 9.660 liter biodiesel setiap 10 – 12 hari. Mari bandingkan dengan tanaman lain sumber biodiesel seperti kelapa sawit Elaeis guineensis atau jarak pagar Jatropha curcas. Dengan luasan sama (1 ha), pekebun kelapa sawit hanya memanen 5.590 liter biodiesel dari crude palm oil (CPO); atau 2.500 – 5.000 liter minyak jarak. Pekebun pun tak dapat langsung menuai kedua tanaman sumber biodiesel itu. Kelapa sawit siap berproduksi setelah berumur 3 tahun; jarak pagar, 6 bulan.

Pembakaran efisien

Seiring dengan meningkatnya kadar biodiesel, Kabinawa menaikkan konsentrasi minyak alga hingga 40%. Menurut peneliti bahan bakar nabati dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Dr Arif Yudiarto, “Pemakaian bahan bakar nabati akan efisien saat pencampuran 10%.” Musabnya, nilai kalor bahan bakar nabati lebih rendah daripada bahan bakar fosil. Nilai kalor E10 atau pencampuran 10% bioetanol, misalnya hanya 2/3 dari bensin. Pada pencampuran itu nilai kalor tidak berpengaruh nyata. Sebaliknya, kadar 10% membuat angka oktan meningkat dan pembakaran mesin sempurna.

Pemakaian biodiesel di atas 10%, artinya konsentrasi bahan bakar nabati meningkat. Saat itu peran kalor yang dihasilkan sumber bahan bakar nabati sangat berpengaruh terhadap efisiensi bahan bakar. Oleh karena kalor bahan bakar nabati lebih rendah, maka butuh lebih banyak pasokan bahan bakar ketika mesin bekerja. Itu karena pembakaran mesin lebih sempurna. Akibatnya sisa pembakaran berupa karbondioksida lebih sedikit sehingga tidak mencemari lingkungan.

“Suara mesin pun menjadi lebih halus,” kata Kabinawa.  Nah, banyak ahli yang mengkhawatirkan sulfur bakal menumpuk ketika persentase biodiesel meningkat. Harap mafhum, biasanya biodiesel memang mengandung sulfur hingga 24 ppm. Sulfur berdampak buruk terhadap kinerja mesin karena memicu emisi solid particulate matter (SPM) dan asap hitam (opasita tinggi). Namun, menurut Kabinawa kekhawatiran itu tak berlaku bagi biodiesel alga.  Sebab, minyak alga memang tak mengandung sulfur.  Ketika Kabinawa meningkatkan persentase minyak alga hingga 40%, mesin tetap berjalan stabil.

Bahkan, setelah ia mendiamkan mesin selama sepekan, lalu mengaktifkan lagi, mesin tetap bekerja mulus. Kabinawa juga memanfaatkan minyak tumbuhan anggota famili Dictyosphaeriaceae itu untuk bahan bakar lampu teplok.  Ia mencampur 40% biodiesel alga dan 60% minyak tanah sebagai bahan bakar lampu. Volume campuran minyak 200 ml itu menyalakan lampu selama 17 jam. Hasil pembakaran  pun bersih, tanpa jelaga.

Periset itu juga memanfaatkan minyak alga untuk menyalakan kompor.  Ia mencampur 40% minyak alga dan 60% minyak tanah. Sebanyak 1.400 ml  campuran itu menyalakan kompor selama 8 jam.  Kompor berbahan bakar 100% minyak tanah dengan volume sama, hanya mampu menyala selama 7 jam. Minyak alga membuat pembakaran sempurna dan panas stabil. Dengan seabrek kelebihan itu,  makhluk mini itu berpotensi maksi sebagai sumber bahan bakar nasional. (Lastioro Anmi Tambunan)

 

Alga Serbaguna

Menurut peneliti di Pusat Penelitian Bioteknologi, Prof I Nyoman Kabinawa, produsen dapat memanfaatkan hasil sampingan alga. Produk sampingan itu antara lain bermanfaat sebagai degester. “Degester bermanfaat untuk penghilang lemak, getah, resin, dan kotoran,” kata Kabinawa. Selain itu dapat mengilapkan mebel, alat pertanian, serta melancarkan wastafel atau kloset mampat. Sedangkan sisa biomassa hasil ekstraksi merupakan bahan baku bioetanol.

Sisa terakhir diolah menjadi pakan ikan hias, ternak, dan unggas, seperti nila gift dan pelet untuk anjing serta kucing.  Alga juga bermanfaat untuk pupuk cair setelah bergabung dengan chlorella, gandasil, sitokinin, vitamin, dan mineral untuk memacu pertumbuhan tanaman. Manfaat lain, merangsang pertumbuhan tunas dan bunga serta membuat warna daun menjadi lebih hijau.

Olahan alga lainnya adalah sampo. Kabinawa meracik sampo terbuat dari 10% chlorella. “Chlorela berperan menyuburkan rambut,” kata Kabinawa. Maklum, alga hijau itu mengandung vitamin, mineral, dan asam amino. Tak hanya itu saja, chlorella dapat mencegah penyakit kulit seperti gatal-gatal. Tertarik mencoba? (Lastioro Anmi Tambunan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img