Sunday, November 27, 2022

Dua Kopi Unik

Rekomendasi

 

Kopi gajah (kiri) berukuran 1,5—2 kali lebih besar dari biji kopi normal. Kopi lanang (kanan) lebih kecil 0,5 kali dari biji normalKopi gajah (kiri) berukuran 1,5—2 kali lebih besar dari biji kopi normal. Kopi lanang (kanan) lebih kecil 0,5 kali dari biji normalOlahan yang tepat menyebabkan kopi gajah menghasilkan after taste yang lamaKetidaksempurnaan saat penyerbukan, justru membuat kopi lanang menjadi salah satu kopi mahal di dunia. PT Perkebunan Nusantara XII menjual biji kopi lanang Rp110.00 per 500 g atau Rp220.000 per kg.  Bandingkan dengan harga kopi pada umumnya, Rp80.000 per kg. Penampilan kopi lanang sangat khas. Biji kopi lanang berbentuk oval dan terdiri atas satu keping alias berbiji tunggal.

Sosok itu mirip kacang polong. Oleh karena itu masyarakat internasional menyebut kopi lanang peaberry coffee.  Padahal, lazimnya dalam cherry bean atau buah kopi terdiri atas dua keping. Masyarakat di tanahair menamakan kopi itu kopi lanang  yang dalam bahasa Jawa berarti laki-laki.

Tinggi kafein

Sebutan kopi lanang karena banyak orang percaya biji tunggal itu dapat meningkatkan vitalitas kaum lelaki. Soal itu, belum ada riset ilmiah yang mendukung. Yang pasti para penyeruput kopi lanang merasakan mata sulit terpejam. Itu lantaran kandungan kafein kopi lanang tinggi, yakni 2,1%.

Menurut periset di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jember, Jawa Timur, Dr Ir Sri Mulato, MS, kejadian biji tunggal pada kopi lanang bukan tanpa alasan. “Hal itu bisa terjadi karena anomali pembuahan. Hasilnya, lahirlah biji tunggal dan bersifat infertil,” kata Mulato. Musabab lain, bunga kurang mendapat nutrisi sehingga pembuahan tidak sempurna.

Meski tunggal, ukuran biji kopi lanang lebih kecil daripada biji normal, sekitar 6 – 6,5 mm. Dulu pekebun menganggap kopi lanang sebagai biji cacat gara-gara berukuran mini sehingga membuangnya. Anggapan citarasa biji berukuran kecil  hambar, itu ternyata salah. Ketika disangrai aroma kopi lanang justru sangat kuat.

Menurut Yudi Kristanto, manajer kebun PT Perkebunan Nusantara XII di Malangsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, kopi lanang bukan hibrida dari keluarga Rubiaceae. Sebab, munculnya peasberry dapat terjadi pada kopi jenis arabika maupun robusta. Namun, kopi lanang lebih banyak ditemukan di jenis robusta. “Pada robusta bisa ditemukan sampai 40 buah per tangkai; arabika 10 – 15 butir per tangkai,” kata Yudi. Satu tangkai terdiri atas rata-rata 70 – 80 buah. Meski begitu, bukan berarti pekebun dapat menemukan kopi lanang di setiap pohon, apalagi di setiap dompol.

Jumlah biji kopi lanang pada jenis robusta dan arabika paling banter 3 – 5% dari total produksi. Memang pada pohon tertentu ada saja yang menghasilkan sampai 10% biji kopi lanang, tapi ada juga pohon yang sama sekali tidak menghasilkan biji kopi lanang.  Itu sebabnya produksi kopi lanang terbatas. Panen biji kopi lanang sama seperti biji kopi normal, Mei – September. Namun peluang mendapatkan kopi lanang dalam jumlah besar saat panen pada Juli.

Untuk mendapatkan biji kopi lanang harus melalui sortasi dari ribuan biji kopi normal, baru kemudian diolah menjadi kopi siap seduh. Prosesnya sama dengan biji kopi biasa: dikeringkan hingga kadar air 12% sebelum digiling atau ditumbuk. Biji kopi lanang dari varietas robusta lebih cepat kering daripada yang arabika. “Robusta kering dalam waktu 18 jam; lanang arabica butuh waktu 11 hari,” ucap Yudi.

Kopi gajah

Kopi lain yang tak kalah lezat adalah maragogipe atau elephant bean coffee. Ia disebut kopi gajah karena ukuran biji 1,5 – 2 kali lipat lebih besar daripada biji kopi normal. Kopi gajah merupakan mutasi dari varietas arabika. Selain ukuran, daun kopi gajah menguncup, sedangkan arabika daunnya agak lonjong dan langsing.

Kopi gajah pertama kali ditemukan di kota Maragogipe, Provinsi Bahia, Brasil, pada 1870. Berselang 40 tahun biji kopi itu tersebar ke penjuru Amerika Latin, Asia, dan Eropa. PT Perkebunan Nusantara XII  mengebunkan kopi gajah secara komersial di kebun Kalisat Jampit, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Menurut  manajer kebun, Ardi Iriantono, populasi kopi gajah mencapai 700 pohon di lahan 9 ha. Pohon maragogipe mampu berproduksi sampai umur 40 tahun.

Sayangnya produktivitas maragogipe rendah. Total produksi paling banyak 50% dari produktivitas arabika normal yang rata-rata 5 kg per pohon per panen. Soal citarasa? Pada 1928, William H. Ukers, ahli kopi dunia, menyebutkan maragogipe terasa woody (seperti kayu) dan disagreeable (mengerikan). Namun, setelah disilangkan dengan beberapa jenis kopi lain rasa maragogipe semakin menyenangkan.

Ternyata citarasa gajah tergantung lokasi penanaman. “Maklum, setiap daerah memiliki kondisi tanah berbeda,” kata Ardi. Produksi maragogipe asal Indonesia tak kalah baik. “Dengan olahan yang benar maragogipe menghasilkan after taste yang lama dan kuat,” imbuhnya. Rasa asamnya pun bagus. Karena langka harga maragogipe relatif mahal, Rp110.000 per 500 gram. (Lastioro Anmi Tambunan)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img