Monday, August 8, 2022

Separuhnya Ada di Indonesia

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Meski memiliki hampir separuh jenis sidat dunia, tetapi yang paling banyak diekspor dari Indonesia adalah Anguilla bicolor bicolor. Maklum, penangkapan-penangkapan sidat untuk tujuan ekspor masih terkonsentrasi di Pulau Jawa yang notabene habitat bicolor. Sejauh ini, sumber utama glass eel—fase awal sidat—bicolor yang biasa ditangkap ada di Pelabuhanratu, Jawa Barat, dan perairan di Cilacap, Jawa Tengah, untuk fingerling—bibit sidat seukuran jari.

Sejatinya di luar Pulau Jawa terdapat jenis-jenis yang potensial dikembangkan. Pulau Sulawesi, misalnya, memiliki jenis A. celebesensis, A. bicolor pacifica, A. ancentralis, dan A. marmorata. Pantai barat Sumatera memiliki A. bicolor bicolor dan A. mauritinia, sedangkan di pantai timur Kalimantan ditemukan A. borneoensis. Sayang, minimnya penelitian tentang pemanfaatan sidat di daerah-daerah itu membuat kemajuan budidaya sidat terhambat.

Incar Indonesia

Kondisi itu berbanding terbalik dengan di negara-negara lain yang justru minim sumberdaya. Belanda, Jerman, Denmark, dan Italia sudah mapan dengan produksi sidat eropa A. anguilla. Negara-negara Asia seperti Jepang, China, Taiwan, Korea, dan Malaysia berhasil membudidayakan intensif sidat jepang A. japonica. Menurut data Food and Agriculture Organization (FAO), pada 2005 diproduksi sekitar 8.000 ton sidat eropa dan 230.000 ton sidat jepang hasil budidaya. Budidaya sidat australia A. australis dan A. reinhardtii pun berkembang pesat di Victoria, Tasmania, New South Wales, dan Queensland—seluruhnya negara bagian di Australia.

Tingginya angka produksi sidat mencerminkan tangkapan glass eel berlebihan sehingga mengancam populasi sidat di alam. Akibatnya diberlakukan pembatasan pasokan bibit sidat. Data peneliti asal Belanda, Van Ginneken dan Maes, menunjukkan populasi sidat eropa dan sidat jepang di alam anjlok hingga 99% sejak 1980-an. Hal serupa terjadi pada sidat amerika. Sebab itu sidat eropa kini masuk dalam daftar CITES Appendix II, sehingga perdagangannya harus melalui sertifikasi dan perizinan ketat.

Di sisi lain konsumsi sidat dunia cukup tinggi. Masyarakat Jepang, misalnya mengkonsumsi sekitar 100.000 ton sidat per tahun. Dari volume itu hanya 20% yang diproduksi sendiri. Sisanya? Mereka berebut bersama importir dari Eropa dan China mencari sumber sidat lain. Indonesia yang kaya jenis sidat menjadi lokasi favorit ‘perburuan’ mereka.

Indonesia sebetulnya melarang ekspor glass eel atau elver. Meski demikian iming-iming harga tinggi dapat merangsang para pengusaha oportunis alias dadakan untuk melakukan ekspor secara tidak wajar. Bila kondisi ini dibiarkan terjadi, populasi sidat Indonesia akan turun tanpa nilai tambah yang bisa diraih. Lain halnya jika yang diekspor dalam bentuk dewasa yaitu sidat hasil budidaya.

Teknologi lokal

Agar dapat memberi manfaat bagi masyarakat, pengembangan budidaya sidat lokal perlu didorong. Dari segi teknologi, penerapan hasil penelitian dalam negeri yang menggunakan sidat lokal lebih realistis dibanding mengadopsi teknologi budidaya dari luar negeri yang belum tentu cocok dengan sifat sidat lokal.

Untuk membudidayakan sidat, peternak harus selektif memilih jenis. Di Jawa dan Sumatera jenis sidat yang didapat 90—95% A. bicolor bicolor. Sementara di daerah Samudera Pasifik, misalnya Sulawesi, ditemukan setidaknya 3 jenis sidat sehingga perlu dipilih salah satu jenis yang layak dibudidayakan. Sebab bila sidat yang dibudidayakan beragam jenis, pertumbuhannya pun beragam.

Skala budidaya bisa besar atau kecil tergantung ketersediaan lahan. Di lahan luas, sidat dapat dibudidayakan dengan memanfaatkan bekas tambak udang atau di karamba jaring apung (KJA). Pada skala lebih kecil, sidat dapat dipelihara di bak tembok atau hapa di kolam. Meski jumlah yang dihasilkan terbatas, pemeliharaan di bak tembok lebih terkontrol karena dipelihara dengan sistem air bersih.

Untuk budidaya di KJA, sidat dapat dipelihara dengan kepadatan 3 kg/m3 dengan pemberian pakan apung komersial mengandung 47% protein. Rasio konversi pakan (FCR) sidat di KJA 2—3 dengan laju pertumbuhan harian sekitar 1 – 1,1%. Dari ukuran fingerling (30 g/ekor), sidat mencapai ukuran 3—5 ekor/kg setelah 5—6 bulan. Dibandingkan di kolam tanah, pemeliharaan di hapa memberi keuntungan karena kemungkinan lolosnya sidat dari wadah pemeliharaan dapat dicegah.

Dengan berbagai potensi yang ada, sudah saatnya usaha budidaya sidat dikembangkan lebih serius. Pada tahap awal, perlu dilakukan identifikasi lebih lanjut mengenai jenis dan ketersediaan glass eel di berbagai pantai Indonesia. Tujuannya untuk menentukan tingkat eksploitasi sehingga sumberdaya di alam tetap lestari.

Selanjutnya, dikembangkan segmentasi budidaya yang terintegrasi di lokasi yang sesuai. Pemetaan kapasitas produksi juga diperlukan karena pasar ekspor biasanya butuh dalam jumlah besar. Untuk meningkatkan nilai tambah, dapat dikembangkan teknologi pengolahan produk sidat sehingga suatu saat ekspor bukan lagi berupa produk segar tetapi olahannya. (Ade Sunarma MSi, Perekayasa di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi)

 

 

A. bicolor bicolor (warna gelap), dan A. masmorata (bercorak), 2 jenis sidat yang mulai dikembangkan di Indonesia

Sidat yang dibudidayakan di keramba jaring apung (KJA) di Waduk Cirata, Jawa Barat

 

 

Jenis Potensial di Tanahair

Anguilla bicolor bicolor

Penyebaran : Pantai Barat Sumatera dan Pantai Selatan Jawa

Ciri khas : Warna punggung hijau kekuningan sampai cokelat kebiruan gelap. Bagian bawah tubuh berwarna lebih terang. Panjang maksimal 120 cm (rata-rata 65 cm), dan umur maksimal 20 tahun.

A. bicolor pacifica

Penyebaran : Perairan Indopasifik

Ciri khas : Warna kecokelatan, panjang maksimal 12,3 cm.

A. marmorata

Penyebaran : Perairan Sulawesi dan Kalimantan

Ciri khas : Warna punggung kuning abu-abu dengan bercak-bercak cokelat kehitaman. Perut putih. Kepala membulat. Panjang tubuh maksimal 70 cm (jantan), dan 200 cm (betina), rata-rata 26,3 cm. Bobot maksimal 20,5 kg, umur bisa mencapai 40 tahun.

A. celebesensis

Penyebaran : Perairan Sulawesi, Pasifik Barat

Ciri khas : Warna abu-abu dengan corak abu-abu gelap. Kulit agak keras. Panjang maksimal 150 cm.

A. borneoensis

Penyebaran : Pantai Timur Kalimantan

Ciri khas : Warna putih, kulit agak keras. Panjang maksimal mencapai 90 cm, bobot 2 kg.

A. ancentralis

Penyebaran : Perairan Sulawesi Utara

Ciri khas : Warna abu-abu gelap, dengan totol cokelat gelap.

A. mauritinia

Penyebaran : Perairan Jawa dan Sumatra, namun populasi relatif sedikit

Ciri khas : Warna kecokelatan dengan corak cokelat gelap. Mirip marmorata, tetapi kulitnya agak keras.

Glass eel atau elver dari Pelabuhanratu, Jawa Barat

Budidaya A. bicolor di bak semen

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img