Serangan Ulat Grayak  pada Tanaman Jagung, Momok Menakutkan bagi Petani

Rekomendasi

Trubus.id—Ulat grayak Spodoptera frugiperda  menjadi kendala bagi petani jagung. Tanaman jagung milik petani di Desa Wanajaya, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, Iif Firman Nurdin misalnya terserang ulat grayak.

Rupanya tak hanya kebun Iif yang terserang ulat itu, tetapi juga 15 hektare (ha) lahan jagung di desanya terancam gagal panen. Luasan yang terserang itu mencapai separuh dari luasan lahan jagung di Desa Wanajaya seluas 30 ha.

Ternyata serangan ulat grayak yang disebut ulat tentara musim dingin atau fall army worm (FAW) itu juga menyerang daerah lain di Garut. Sebut saja Kecamatan Banyuresmi, Pameungpeuk, dan Pakenjeng.

ulat grayak jagung
Serangan ulat grayak Spodoptera frugiperda merugikan petani. Foto: Dok. Dewi Sartiami

Total jenderal kebun jagung terserang di Kabupaten Garut mencapai 520 ha dengan kerugian mencapai Rp2,3 miliar. Menurut dosen Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Dr. Ir. Eka Candra Lina, S.P., M.Si., I.P.M., S. frugiperda merupakan hama invasif yang menyerang tanaman jagung di Indonesia.

Ia menuturkan pada awal 2019, hama itu ditemukan pada tanaman jagung di Pulau Sumatra. Tingkat serangan S. frugiperda mencapai 6—90% saat fase vegetatif dengan rata-rata 0,7 larva per batang.

Kepadatan rata-rata populasi S. frugiperda 0,2—0,8 larva per tanaman mengurangi hasil 5—20% dan mengakibatkan kehilangan hasil signiͤkan bila tidak ditangani dengan baik.

“Petani saat ini cenderung melakukan pengendalian hama menggunakan sintetis kimia dengan alasan lebih mudah didapatkan,” kata Eka.

Pemerintah Jawa Barat mengandalkan insektisida sintesis kimia berbahan aktif 5% emamektin benzoat dan butylphenyl methyl carbamate (BPMC) 500 g/l saat mengendalikan wabah ulat grayak di Garut. Eka menuturkan, umumnya petani belum sepenuhnya memahami dampak pemakaian insektisida sintetis kimia dalam jangka waktu lama.

Ia menuturkan pengaplikasian insektisida sintetis dapat membunuh organisme bukan sasaran, meningkatkan resistensi hama tanaman, terurai sangat lambat dalam tanah, dan menetap dalam lingkungan untuk waktu lama.

Menurut Eka pengendalian hama S. frugiperda dapat menggunakan pestisida botani yang lebih ramah lingkungan. Jadi, ia dan rekan membuat pestisida nabati yang disebut Nano-PC.  Baca juga Kombinasi Sirih Hutan dan Serai Wangi Mampu Mengatasi Ulat Grayak Spodoptera Frugiperda.

Artikel Terbaru

ARENTA, Ikhtiar Petani Pandeglang Olah Tanaman Obat

Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Muhammad Taufiq Ratule, M.Si., menyatakan bahwa Direktorat Jenderal Hortikultura mendorong penumbuhan dan...

More Articles Like This