Wednesday, August 10, 2022

Seri Walet (184) : Sirip Nyaman untuk Walet

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Banyak rumah walet di Kalimantan Tengah yang mangkrak karena sulit memperoleh sirip kayuSirip terbuat dari aluminium lebih tahan lama dan harganya murah. Sekaligus menekan ketergantungan pada kayu hutan.

Rumah-rumah walet di Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, itu dibiarkan separuh jadi. Pemiliknya kesulitan mendapatkan kayu bangkirai, balau, atau meranti untuk bahan membuat sirip pada langit-langit rumah. Di sanalah si liur emas biasa membuat sarang yang menjadi sumber rupiah buat si empunya rumah. Harap mafhum kayu-kayu hutan itu kini kian langka karena area hutan semakin sempit.

Kalau pun tersedia, kualitas kayu kerap kali tidak sesuai dengan kebutuhan. Misal bentuk melengkung, proses pengeringan tidak sempurna sehingga kayu berisiko terserang cendawan dan rayap lebih tinggi. Belum lagi risiko pemilik rumah walet diinterogasi aparat gara-gara disangka sebagai pelaku penebangan liar seperti dialami Halim Budiharjo saat membawa kayu bahan sirip di ruas jalan trans Kalimantan. Pengangkutan kayu di Kalimantan kini memang tengah diawasi ketat untuk mencegah penebangan liar. Alternatif menggunakan kayu jati atau sengon seperti di Pulau Jawa juga terkendala karena bahan baku sulit didapat.

Modifikasi

H Ardi di Tanahgrogot, Provinsi Kalimantan Timur, juga membangun rumah walet baru. Namun, ketimbang menggunakan kayu untuk bahan sirip di langit-langit bangunan, Ardi justru memasang sirip berbahan alumunium. Ardi menempelkan sirip berbahan aluminium itu dengan cara mengebor ke langit-langit beton. Pada kedua permukaan aluminium terdapat alur-alur sedalam 0,6 mm berjarak setiap 5 mm. Alur dibuat agar walet mudah menempelkan sarang ke sirip.

Bahan aluminium semula dimanfaatkan sebagai pelapis sirip kayuDalam hitungan 3 bulan terlihat walet mulai membuat sarang di sirip berbahan aluminium itu. Itu setara dengan ketika menggunakan sirip berbahan kayu. Hitung-hitungan Ardi, penggunaan sirip berbahan aluminium juga lebih hemat. Sekadar menyebut contoh sebuah gedung walet 4 lantai ukuran 12 m x 12 m umumnya membutuhkan 488 sirip kayu bangkirai berukuran 15 cm x 3 cm x 380 cm. Selembar sirip harganya Rp150.000. Artinya untuk memenuhi kebutuhan sirip satu rumah walet baru pemilik rumah membutuhkan biaya Rp74-juta.

Dengan kebutuhan jumlah sirip yang sama, Ardi hanya mengeluarkan Rp69-juta karena menggunakan bahan aluminium. Nominal itu untuk membeli 488 sirip aluminium berukuran 10,5 cm x 0,2 cm x 350 cm dengan harga Rp140.000 per lembar. “Pemilik rumah walet bisa menghemat Rp5-juta-Rp8-juta dan bebas dari sangkaan sebagai pelaku penebangan liar,” kata Ardi. Pantas bila Halim Budiharjo di Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, segera mengadopsi teknik itu. “Cara itu menghemat biaya pembelian bahan sirip, lebih permanen, dan kokoh,” kata Halim.

Menurut Harsanto, pemilik Jakarta Walet Centre, di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, penggunaan aluminium sebagai bahan sirip bukan barang baru. Hanya saja yang digunakan Ardi dan Halim merupakan desain terbaru. Pada desain itu penampang melintang sirip dirancang berbentuk huruf T dengan sedikit modifikasi pada bagian siku yang dibuat agak melengkung. Itu untuk mencegah sirip patah karena berfungsi sebagai penopang. Sementara ujung bagian vertikal didesain lebih tebal 2 mm agar kokoh. Sirip yang kokoh disukai walet karena tidak bergetar saat walet bermukim di sarang.

Menurut pakar walet di Jawa Tengah, Arief Budiman, semula lembaran aluminium sekadar dipakai untuk melapisi sirip kayu. Pada kondisi rumah walet yang lembap, permukaan aluminium bersuhu lebih dingin ketimbang kayu sehingga disukai walet. Colocalia fuciphaga itu menyukai suhu dingin karena habitat aslinya di gua-gua yang dialiri air sungai sehingga bersuhu ruangan rendah.

Sayang, permukaan lembaran aluminium licin sehingga sarang sulit menempel. Lazimnya peternak menggores permukaan aluminium menggunakan pisau cutter agar menjadi kasar. Namun, “Pada kenyataannya permukaan alumunium tetap licin karena goresan kurang dalam sehingga sarang masih sulit menempel,” kata Arief.

Sirip berbahan aluminium model terbaru membuat walet nyaman bersarangBerlubang

Lembaran aluminium pun mulai ditinggalkan dan digantikan oleh aluminium berlubang seperti kerap dipakai sebagai bahan membuat parabola. Pengalaman Arief, walet lebih menyukai hinggap di sirip berlapis aluminium berlubang. Keberadaan lubang menyebabkan kaki walet yang kecil mudah mencengkeram ke sirip. “Mirip seperti pemanjat tebing yang menemukan celah untuk pijakan kaki dan jari mencengkeram,” ujar Arief. Biasanya pada sirip kayu berlapis aluminium berlubang cepat terlihat goretan tipis putih yang merupakan liur walet sebagai tanda pembangunan sarang dimulai.

Sayang, daya tahan sirip berlapis aluminium berlubang singkat, hanya 1-2 kali panen sarang. Bandingkan dengan sirip berbahan kayu bangkirai yang awet hingga bertahun-tahun. Harap mafhum lempengan aluminium kerap terbawa ketika pemilik rumah memanen sarang-biasanya menggunakan pisau dempul. Akibatnya sarang kotor dan sisa lempengan aluminium yang menempel harus dilepas. Pemilik rumah pun harus menambal ulang sirip yang bolong itu. “Teknik ini memang hanya bersifat sementara untuk memancing walet betah sehingga membuat sarang,” kata Arief. Setelah betah tinggal, selanjutnya walet membuat sarang di sirip berbahan kayu atau beton-tanpa pelapis aluminium lagi.

Sirip berbahan aluminium sebagai pengganti sirip dari kayu pernah muncul 3-4 tahun silam. Sayang, pemanfaatannya kurang berkembang karena sirip gampang patah ketika pemasangan dan pemanenan sarang. Itu karena desain berbentuk huruf T antara penampang horisontal dan vertikal benar-benar bersudut 90o. Lembaran aluminium tunggal juga tipis sehingga terlalu lentur. “Walet tidak betah karena sarang gampang bergetar,” kata Harsanto.

Sirip alumunium tipe terbaru justru ajek, kuat, dan bertekstur sehingga walet gampang membuat sarang. Hasil panen sarang pun bersih karena tidak berisiko membawa potongan aluminium. Bahan aluminium bebas kontaminasi cendawan sehingga walet pun betah bersarang. (Ridha YK, kontributor Trubus di Kalimantan Selatan)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img