Wednesday, August 17, 2022

Seri Walet (80) Kisah Perburuan Sekeping Sarang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sang penelepon, pemilik rumah walet, setuju menjual sarang walet dengan harga yang ditawarkan. “Walau untungnya sedikit, tapi ada kepuasan tersendiri kala dipercaya untuk membeli sarang,” kata Ardianto.

Sarang walet memang berbeda dengan komoditas pertanian lain. Posisi tawar pemilik sarang lebih tinggi. “Kalau kurang sabar sulit mendapatkan sarang. Sebab, dalam perniagaan sarang walet bukan barang yang mencarI uang, tapi uang mencari barang,” tambah alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya itu. Terjadinya transaksi kadang tergantung pada kemurahan hati si empunya sarang.

Makanya tanpa menyia-nyiakan kesempatan siang itu, Ardianto, Supoyo, dan Dayat segera meluncur dari basecamp di Parung, Bogor, ke lokasi pemetikan sarang. Sasaran kali ini kebetulan dekat, yakni Restoran dan Kolam Renang Rindu Jaya di Lebakwangi, Jl. Raya Parung—Bogor. Dengan mengendarai sepeda motor hanya dibutuhkan waktu 20 menit untuk sampai di tempat. Di sana Sugito telah menyiapkan empat karung plastik transparan berisi sarang sriti berikut timbangan.

Cash and carry

Di atas meja panjang di dalam gubuk kecil nan asri tempat makan dan minumlokasi rumah walet di lingkungan restoran—sarang di dalam kantong ditumpahkan. Tampak sarangsarang sriti terbuat dari ijuk setelungkupan tangan. Tanpa memeriksa satu per satu, Ardianto dan teman sekelompoknya menyepakati harga Rp600.000/kg. “Kita tahu standar sarangnya, jadi tak perlu tawar-menawar harga lebih lama,” ucap Supoyo, yang piawai menentukan mutu sarang.

Sarang sriti memang beragam, ada yang terbuat dari daun pinus, cemara, lamtoro, ijuk, jerami, dan rumput laut. Berdasarkan material itulah harga ditentukan. Yang berasal dari daun pinus paling mahal, Rp2-juta—Rp2,3-juta. Bahkan yang dari Wonogiri, Jawa Tengah, bisa mencapai Rp2,6- juta/kg karena lebih putih dan tebal. Menyusul berikutnya berbahan baku cemara, lamtoro, ijuk, dan paling rendah rumput laut. Sarang sriti dari daun lamtoro berkisar Rp1,5-juta—Rp1,7-juta dan rumput laut Rp300.000/kg.

Dari 4 kantong diperoleh bobot total 4 kg. Sarang ijuk memang agak ringan, sekilo berisi 300—400 sarang. Sementara pinus maupun lamtoro 180—200 keping/kg. Selesai ditimbang Ardianto yang berprofesi sebagai pembeli sarang sejak 1988 itu mengeluarkan gepokan uang dari balik jaket. “Mau tidak mau cash and carry, meskipun berisiko besar. Kalautidak, mana ada yang mau melepas  sarang,” ujar kelahiran Bogor 40 tahun silam itu. Kecuali nilai transaksinya besar dan pelanggan lama, biasanya uang ditransfer melalui bank. Itupun sarang diambil setelah uang masuk rekening.

Efek domino

Menurut Yanto—sapaan Adrianto—menjadi pembeli sarang walet dan sriti gampang-gampang susah. Gampangnya kalau sudah saling kenal, hanya lewattelepon kadang bisa bertransaksi. Sedangkan susahnya saat pertama kali membujuk pemilik sarang supaya mau menjual kepadanya. Ia mencontohkan, perkenalan dengan Sugito dibangun 2—3 tahun sebelum transaksi perdana pada 1998.

Hampir setiap ada kesempatan Yanto bertandang ke restoran dan kolam renang milik Sugito. Sekadar untuk ngobrol ngalor-ngidul. Lama-lama pembicaraan menjurus ke soal sarang walet. “Karena mungkin penampilan dan pembicaran saya cukup meyakinkan, ia (Sugito, red) bersedia melepas sebagian hasil panen sarangnya,” papar pria bertubuh gempal itu. Sejak itu setiap habis menguras “harta karun”—minimal 4 bulan sekali—Sugito selalu mengontak Yanto atau kelompoknya.

Namun, bukan berarti setiap kali panen menjadi jatah Yanto. Para pemilik rumah walet hampir dipastikan mempunyai 4—5 pelanggan. “Saya bagi rata mereka, sehingga ada yang kebagian 6 bulan, 1 tahun, atau malah 2 tahun sekali,” tutur Sugito. Maksudnya tidak lain, dengan banyak pelanggan selain untuk mengoreksi harga, juga sebagai tindakan jaga-jaga jika suatu saat kesulitan pasar.

Pelanggan Yanto kini mencapai lebih dari 200 orang, tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. “Hampir di setiap sentra kami kenal pemain walet, baik dengan sesama pembeli maupun produsen. Itu karena efek domino,” ungkap Supoyo yang kerap membeli sarang walet ke luar Pulau Jawa. Apalagi di antara pembeli itu sering terjadi Kalau kekurangan uang, misalnya, pembelian dilakukan secara bersama-sama.

Biji duren

Kendati pelanggannya demikian banyak, setiap bulan Yanto dan kelompok hanya bisa menampung rata-rata sekitar100 kg sarang sriti, 100 kuintal moyen—sarang walet gua yang banyak bercampur bulu—, dan belasan kilo sarang walet rumah. Penyebabnya, “Di samping produksi sarang terbatas, sementara pembelinya banyak di mana-mana, juga butuh modal besar,” ujar mantan karyawan credit offi cer Hotel Hilton, Jakarta itu.

Supoyo menggambarkan, kalau Cuma bermodal Rp100-an-juta hanya cukup untuk 50 kg sriti. Itu pula sebabnya Yanto dan kawan-kawan lebih banyak mencari sarang sriti dan moyen ketimbang sarang walet rumah. “Sarang walet rumah kan harganya tinggi, Rp13-juta—Rp15- juta/kg,” timpal Dayat yang mempunyai daerah operasi sekitar Parung dan Bogor. Beruntung, Yanto mendapat pasokan modal dari pengusaha walet terkenal di Serpong, Tangerang, Mulyadi dan Harry Lesmana. Masalah dana teratasi.

Punya modal besar pun perlu hati-hati, sebab menjadi pembeli sarang penuh risiko. Supoyo pernah mengalamI kerugian Rp150-juta dari 125 kg sarang sriti yang dibelinya sewaktu masih berdiri sendiri. Gara-garanya sarang yang dibeli Rp2,6-juta/kg hanya laku dijual ke bandar Rp1,3-juta—Rp1,6-juta. Pada waktu itu para eksportir memprediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah begitu Megawati menjadi presiden.

Mereka banyak yang menghentikan pembelian. Akibatnya harga jatuh, “Saya jual selakunya walau menderita kerugian cukup besar. Sebuah Panther terpaksa dilepas,” kenang kelahiran Wonogiri 38 tahun silam itu. Eh, tahunya nilai rupiah tetap menguat dan eksportir pun bergairah kembali. “Coba ditahan 1 bulan, kejadiannya pasti tak seperti itu,” sesalnya.

Belum lagi risiko penipuan . Dayat mengalaminya, produsen tak dikenal menjual sarang walet rumah dicampur dengan sarang biji durian. Lembaga biji durian dibentuk seperti sarang walet lalu dicampur sarang asli. Dijual malam hari yang hanya diterangi lampu teplok pasti sulit dibedakan. Akhirnya 0,5 kg biji durian harus dihargai sangat mahal, Rp7-juta. “Enaknya jadi pemburu sarang ketika mendapat sarang super murah, lantaran si empunya tak mengerti barang itu berharga. Keuntungan dijamin berlipatlipat,” papar Dayat. (Karjono)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img