Saturday, August 13, 2022

Solusinya Cangkok Solomon

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Sengon solomon terkenal sulit berbuah
Sengon solomon terkenal sulit berbuah

Bibit sengon solomon langka. Pekebun menyiasatinya dengan mencangkok.

Agus Sumarmo hendak memperluas penanaman sengon solomon yang pertumbuhannya bongsor. Pada umur 5 tahun, diamater batang mencapai 50 cm. Bandingkan dengan sengon biasa, pada umur sama, hanya berdiameter 25 cm. Selain itu sengon solomon berbatang lurus. Bibit langka, kalau ada pun harganya melambung menjadi Rp4.500—Rp7.500. Bandingkan dengan harga bibit sengon lokal, yang paling banter hanya Rp1.500 per bibit setinggi 20 cm.

Pekebun sengon di Kecamatan Temanggung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, itu tak kurang akal. Ia memperbanyak sengon solomon dengan cangkok sejak setahun lalu. Pekebun berusia 53 tahun itu mencangkok 2 pohon induk. Kedua pohon itu semula terserang hama penggerek kayu. Oleh karena itu ia menebang dan menyisakan tunggul setinggi 10 cm dari permukaan tanah. Selang beberapa bulan, tunggul itu memunculkan 4 tunas atau trubus.

Cara mencangkok sengon sama seperti tanaman lain
Cara mencangkok sengon sama seperti tanaman lain

Umur setahun
Di antara 4 tunas itu memang hanya satu yang dipertahankan tumbuh, 3 lainnya mesti dibuang. “Saya biarkan satu tumbuh, sedangkan yang lain saya cangkok,” ujar pekebun itu. Sebelum menebang tiga tunas itu, Agus memanfaatkannya sebagai bibit. Caranya dengan mencangkok. Ia membiarkan tunas tumbuh setinggi 1—2 meter. Diameter batang seukuran ibu jari kaki dan siap cangkok. Agus mencangkok sengon solomon lantaran pendatang itu sulit berbuah di tanahair.

Pohon anggota famili Fabaceae itu berbuah pada umur 9—10 tahun. Menurut Achmad Djumat, penangkar benih di Bogor, Jawa Barat, sengon lokal berbuah pada umur 3—4 tahun. Pengalaman Dr Ir Ulfah Juniarti Siregar MAgr, periset sengon di Departemen Silvikultur Institut Pertanian Bogor, pohon solomon berumur lebih dari 10 tahun di kebun milik Perhutani di Kecamatan Pompoklandak, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, hanya menghasilkan 30 gram biji, setara 10—15 biji.

Kondisi itu menjadikan bibit masalah serius dalam penanaman sengon solomon. Akhirnya perbanyakan mesti dilakukan secara vegetatif. “Pilihannya antara cangkok atau kultur jaringan,” tutur Dr Irdika Mansur MForSc, ahli silvikultur dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Irdika menjumpai cangkok sengon ketika mengunjungi pekebun di Garut, Jawa Barat, pada 1995. Adapun Agus melihat cangkok sengon pada 2009 di sebuah kebun di Banjarnegara, Jawa Tengah.

Ketika berkunjung ke kebun itu Agus melihat bibit semai sengon lokal berketinggian 4 meter yang sedang dicangkok. Ia lantas menerapkan teknik serupa 4 tahun berselang. Menurut Irdika, cara mencangkok sengon sama seperti tanaman lain. Setiap tunggul dapat menghasilkan 5 tunas. Biarkan tunas itu tumbuh setahun dan pilih batang terbaik—besar, lurus, dan tinggi. Alih-alih dibuang, trubusan lain dicangkok dan dijadikan bibit tanaman baru.

Pada umur dua bulan akar cangkokan sudah muncul. Ketika itu bibit hasil cangkok pun siap tanam di lahan. Agus memotong bibit cangkok itu 2 cm dari keratan terbawah. Ia membuang plastik penutup lalu menanamnya. Sementara Irdika menyarankan untuk membiarkan dahulu cangkokan itu dan memotongnya ketika musim hujan. Tujuannya agar bisa langsung ditanam di tanah. Saat musim hujan tiba, potong cangkokan dengan menyisakan 10—15 cm di atas permukaan tanah. Lalu bumbun dengan tanah agar tertutup dan bibit dari tunggul bisa tumbuh.

Bibit sengon solomon asal kultur jaringan lebih seragam
Bibit sengon solomon asal kultur jaringan lebih seragam

Panen cepat
Kualitas sengon solomon asal cangkokan sama baiknya dengan bibit asal biji. Kini umur sengon solomon asal bibit cangkok yang Agus tanam baru setahun, tingginya mencapai 4 m dan berdiameter 7—10 cm. Sayang, ia belum mengetahui kekuatan akar sengon solomon asal cangkok itu. Pasalnya, akar terpendam di dalam tanah. Menurut Irdika, sengon cangkokan lebih cepat panen ketimbang bibit dari biji. “Umur 3 tahun sudah bisa dipanen,” ujarnya.

Musababnya, ukuran bibit tergolong besar ketika ditanam di tanah, dengan tinggi mencapai 2 m. Tentu saja dengan perawatan baik, antara lain pemupukan, pemangkasan, dan penyiangan gulma. Proses cangkok sengon solomon juga mudah. “Persentase keberhasilan mencapai 90%,” kata Agus. Ia berencana mencangkok 40 tunggul yang ia tebang pada 2012. Kini ketinggian tunas 25—30 cm. Oleh karena itu ia menunggu tunas setinggi 1—2 meter.

Selain cangkok, ayah dua anak itu pernah mencoba memperbanyak sengon solomon dengan setek pucuk. Namun, hasilnya kurang memuaskan. Bibit malah mati. Menurut Samsul Ahmad Yani SSi, penanggung jawab kultur jaringan di lembaga penelitian tanaman kehutanan SEAMEO Biotrop, Bogor, Jawa Barat, setek pucuk sengon relatif susah. “Tunas sengon mudah busuk,” ujarnya. Pohon sengon memang berkayu, tetapi batang di sepanjang daun mengandung banyak air (sukulen). Itu sebabnya, “Ketika ditanam cepat membusuk,” ujar Irdika.

Cara lain perbanyakan nonbiji sengon solomon adalah kultur jaringan. Menurut Iwan Gunawan, anggota staf PT Bio Hutanea, produsen bibit sengon solomon asal kultur jaringan, bibit sengon solomon asal kultur jaringan lebih seragam. Bibit sengon solomon asal kultur jaringan juga diproduksi SEAMEO Biotrop. “Ketersediaan saat ini mencapai 6.000 planlet,” ujar Samsul. Cangkok menyelamatkan bibit dari tunggul, sedangkan kultur jaringan menyelamatkan bibit dari biji. (Desi Sayyidati Rahimah/Peliput: Argohartono Arie Raharjo)

538_ 141

 

Previous articleAdu Domba Bakteri
Next articlePati Besar di Balik Duri
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img