Sunday, August 14, 2022

Supergenjah Produksi Tinggi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Tasiono memanen kedelai sepekan lebih cepat daripada biasanya. Potensi hasil tertinggi bisa mencapai 3,06 ton/ha, jauh di atas rata-rata produksi nasional yang 2 ton/ha.

 

Itu terjadi setelah pekebun di Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur, itu menanam varietas gema pada awal 2008. Dengan umur panen lebih singkat Tasiono menghemat biaya pemupukan, tenaga kerja, pengairan, dan pengendalian hama. Produktivitas gema di kebunnya 2,5 ton/ha. Dengan hara jual Rp 5.000/kg Tasiono memperoleh pendapatan Rp 12,5-juta/ha.

Gema berukuran biji sedang dengan bobot 11,92 g/100 biji sehingga ideal sebagai bahan dasar pembuatan tempe. Kelebihan lain, kedelai supergenjah itu mengandung protein dan lemak masing-masing 39,07% dan 19,11% dari berat kering. Itu membuat varietas gema tak hanya genjah tapi bernilai gizi.

Tujuh tahun

Gema hasil riset Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Malang, Jawa Timur, yang dirilis sebagai varietas unggul nasional pada 9 Desember 2011 oleh penulis beserta tim—Gatut Wahyu AS, Ayda Krisnawati, Suyamto, dan Arifin. Peneliti mulai menyilangkan gema sejak 7 tahun silam. Ketika itu, 2005, peneliti menginginkan kedelai yang genjah, tahan hama dan penyakit, serta potensi hasil tinggi. Kedelai disebut genjah jika umur panen di bawah 80 hari. Potensi hasil lebih tinggi daripada rata-rata nasional yang hanya 2 ton/ha. Untuk itu digunakanlah varietas wilis, shirome, aochi, burangrang, dan petek sebagai tetua.

Penanaman wilis tersebar luas di Indonesia dan potensi hasilnya tinggi. Sayang, umur panen mencapai 84 hari. Oleh karena itu peneliti menyilangkan wilis dengan varietas kedelai berumur genjah seperti shirome dan aochi—varietas introduksi dari Jepang—serta burangrang dan petek, asal lokal.

Persilangan 4 tetua bersifat  genjah dengan wilis dilakukan secara resiprokal. Artinya gamet jantan dan gamet betina dipertukarkan sehingga menghasilkan keturunan yang sama. Hasilnya diseleksi sehingga diperoleh 126 galur. Dari jumlah itu ada 14 galur yang berdaya hasil tinggi, 2,04—2,60 ton/ha.

Sebanyak 14 galur pilihan itu kemudian diuji multilokasi di empat sentra kedelai di Jawa Timur, yaitu Malang, Probolinggo, Banyuwangi, dan Pasuruan. Berdasarkan uji daya hasil di empat lokasi itu akhirnya diperoleh empat galur harapan berumur genjah: Shr/W-C-157, Aoc/W-C-93, Shr/W-C-60, dan I/P-22. Selanjutnya mereka diuji multilokasi lagi di 16 daerah yang tersebar di 5 provinsi di Indonesia (Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat). Pengujian sebanyak 2 kali pada setiap galur.

Peneliti menanam benih kedelai dari masing-masing galur berjarak

40 cm x 15 cm sebanyak dua biji per lubang di plot berukuran 2,4 m x 4,5 m. Sebelum tanam, benih  kedelai  dicampur  dengan insektisida   berdosis  20  gram  per  5  kg benih.  Pengendalian  gulma   dilakukan  pada  tanaman  umur 3 dan 6 minggu setelah tanam.

Untuk mengendalikan hama peneliti menyemprotkan insektisida dengan dosis 2 cc/l setiap 10—15 hari. Sementara pengendalian penyakit dengan me-nyemprotkan fungisida  berdosis 2 cc/l tiga hari setelah penyemprotan insektisida.

Produktivitas tertinggi

Dari empat galur kemudian mengerucut menjadi satu galur pilihan yang diberi kode Shr/Wilis-C-60, yaitu hasil silangan shirome dengan wilis, yang kemudian dirilis sebagai gema (genjah malang). Dari segi produktivitas, gema lebih unggul daripada galur lain. Di Probolinggo, misalnya, gema memiliki produksi tertinggi hingga 3,06 ton/ha. Sementara Shr/W-C-157 hanya 2,38 ton/ha, Aoc/W-C-93 (2,61 ton/ha), dan I/P-22 (2,15ton/ha). Rata-rata produktivitas gema di 16 lokasi sebesar 2,47 ton/ha. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan rata-rata produksi kedelai nasional yang hanya 2 ton/ha.

Gema juga berumur  singkat, 73 hari setelah tanam. Artinya, galur Shr/W-C-60  itu tergolong sangat genjah dan lima hari lebih genjah daripada burangrang.  Dengan begitu dalam setahun petani dapat menanam kedelai 3—4 kali.

Umur panen gema lebih pendek lagi jika ditanam di daerah kering, misalnya Ngawi, Jawa Timur. Di sana galur Shr/W-C-60 itu dapat dipanen pada umur 69 hari dengan produksi 2,10 ton/ha. Sementara penanaman galur Shr/W-C-60 di daerah berkelembapan tinggi atau daerah dengan curah hujan tinggi umurnya menjadi lebih panjang, lebih dari  73 hari.

Pada musim hujan tanaman tidak dapat berfotosintesis secara optimal. Akibatnya tanaman perlu waktu lebih lama dalam mengumpulkan energi untuk berbunga hingga menghasilkan buah. Hasilnya waktu panen menjadi lebih lama. Sebaliknya bila tanaman mendapat cahaya matahari cukup, fotosintesis berlangsung optimal sehingga banyak makanan yang dapat diolah, salah satunya untuk membentuk bunga dan buah.

Dibandingkan wilis, gema lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit, seperti ulat grayak, penggerek polong, serta penyakit karat. Sementara dengan burangrang, gema unggul dalam waktu panen, umur masak, dan ketahanan terhadap hama pengisap polong, yaitu sebesar 11,58%. Itulah yang telah dibuktikan Tasiono yang mengebunkan gema sejak tiga tahun silam. (Dr M Muchlish Adie MS, pemulia kedelai di Balai Penelitian Tanaman Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian Malang)

 

No

 

Karakter

 

Keunggulan

 

Shr/W-C-60

 

Wilis

 

Burangrang

 

1

 

Hasil biji (t/ha)

 

2.47

 

2.39

 

2.22

 

2

 

Umur masak (hari)

 

73

 

82

 

78

 

3

 

Bobot 100 biji (g)

 

11.92

 

10.88

 

14.14

 

4

 

Kerusakan daun oleh ulat grayak 16 hst (%)

 

54.39

 

64.06

 

 

5

 

Polong terserang pengisap polong 84 hst (%)

 

21.00

 

25.67

 

21.67

 

6

 

Biji terserang pengisap polong 84 hst (%)

 

11.58

 

8.98

 

15.47

 

7

 

Polong terserang penggerek polong (%)

 

16.55

 

41.13

 

 

8

 

Biji terserang penggerek polong (%)

 

15.98

 

37.47

 

 

9

 

Intensitas serangan penyakit CMMV

 

71.00

 

65.50

 

 

 

 

 

^       Ukuran biji gema tergolong sedang 11,92 gram/100 biji

<       Gema tahan hama dan penyakit

V        Di lahan kering seperti di Ngawi, umur panen gema hanya 69 hari

^       Kedelai gema ideal diolah menjadi tempe

^^     Varietas gema (tengah) siap panen pada umur 73 hari setelah tanam, wilis (kiri) 84 hari setelah tanam

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img