Monday, November 28, 2022

Sutjipto Gunawan Bandul Laba Bernama Keprok

Rekomendasi

 

Malang, Jawa Timur, pada era 1983 – 1996 adalah surga bagi pekebun apel. Manalagi, romebeauty, ana, dan granny smith-nya tengah jadi primadona. Permintaan banyak, harganya layak. Maklum buahnya besarbesar, banyak air tapi kalau digigit terdengar bunyi kres, dan rasa manis asam segar. Rumah-rumah mentereng para pekebun pun cepat bermunculan. Kendaraan roda 4 segera mengisi halaman.

Sutjipto Gunawan ada di antara para pekebun apel itu. Dari lahan seluas 10,5 ha di Karangploso, dan 21 ha di Oro Ombo setiap panen raya selama Maret – April dan Agustus – September Cipto menuai 200 ton apel. Itu dari populasi 10.000 pohon manalagi (90%) dan romebeauty

Dengan harga apel pada 1983 Rp750 per kg, penggemar musik country itu mengantongi pendapatan Rp150-juta per tahun. Biaya produksi hanya Rp250 per kg. Artinya laba lelaki asli Malang itu mencapai Rp100-juta per tahun. Maka keputusan Cipto membeli sebuah kebun apel telantar pada 1982 benar adanya. ‘Waktu itu surat kabar ramai membicarakan rencana pemerintah membatasi impor. Ini sebuah peluang,’ kata pria kelahiran Juni 1953 itu.

Terbukti ketika pemerintah mengumumkan pembatasan buah impor pada Februari 1983 permintaan dan harga apel malang terdongkrak. Bulan madu pun menghampiri pria yang pernah membantu pamannya sebagai penyalur pupuk itu. Dari apel Cipto bisa membeli tanah, rumah, dan kendaraan lebih dari cukup.

Putar setir

Namun, kerikil tajam mulai mengusik bulan madu itu. Memasuki akhir 90-an tanamantanaman apel kian menua dan produksinya mulai turun. Pada umur 8 tahun – masa produktif – hasil panen bisa 50 kg per pohon. Umur di atas 20 tahun, produktivitas menurun 10 – 20%. Celakanya biaya produksi justru membengkak. Belum lagi perubahan iklim yang kian tak menentu. Hitung-hitungan Cipto, jika ngotot mempertahankan apel bisa-bisa rugi yang dituai

Ia pun melirik komoditas lain: jeruk java baby dan keprok batu 55. ‘Biaya perawatannya lebih ekonomis,’ kata Cipto. Ketika itu banyak pekebun di seputaran Malang mengembangkan java baby karena harganya bagus. Sementara harga batu 55 lebih mahal lagi.

Sebanyak 3.000 pohon jeruk java baby dan 1.000 batu 55 ditanam pada 1995. Penanamannya menggantikan apel-apel tua tak produktif di kebun di Karangploso. Penanaman terus ditambah secara bertahap hingga populasi masing-masing mencapai 6.000 pohon. Hampir berbarengan dengan itu ia mengoleksi 10 pohon mandarin conmune – keprok pendatang asal Spanyol.

Panen perdana java baby pada 1999 sungguh menggembirakan. Produktivitas total 30 ton per musim pada Agustus – September. Cipto menerima harga Rp6.000 per kg – harga yang sangat mahal untuk ukuran saat itu. Padahal ongkos produksi hanya Rp2.000 – Rp2.500 per kg. Pundi-pundinya juga bertambah dari panen batu 55 yang pada umur produktif di atas 8 tahun menghasilkan minimal 70 ton buah per pohon per tahun.

Hasil panen pun dengan cepat diserap habis toko-toko langganan di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Denpasar. Pria yang gemar mengenakan topi koboi itu gampang memasarkan jeruk dengan memanfaatkan jejaring distribusi apel yang digeluti selama 20 tahun

Saingi impor

Sebuah perhelatan di Balitjestro pada 2005 membuat Cipto makin terbenam dalam bisnis jeruk. Meski tanpa persiapan, jeruk mandarin conmune dari pohon koleksi di Oro Ombo menyabet gelar juara ke-2 pada Kontes Keprok Nasional 2005. Juara pertama, keprok batu 55 – juga dari kebunnya. Maklum penampilan conmune layaknya keprok mandarin impor: kulit jingga cerah. Rasanya manis – hingga 15o briks – dengan sedikit kecut yang menyegarkan. ‘Ini punya peluang untuk menyaingi impor,’ kata Cipto

Pascakemenangan itu pemilik Diplomat Apple & Orange Plantation itu membongkar sebagian lahan apel dan men-topworking 650 pohon jeruk baby java-nya dengan conmune. Total populasi 1.000 conmune yang ditanam bertahap. Pada 2008 conmune mulai panen. Hasilnya 10 ton pada Juni – Agustus, bulan ketika jeruk impor kosong. Panen ke-2 pada 2009 melonjak 2 kali lipat. Buah-buah conmune dikirim ke gerai toko langganan di Denpasar, Bali.

Kini kebun apik dengan pengelolaan intensif di Karangploso dan Oro Ombo dipenuhi 6.000 pohon jeruk baby java, 1.000 pohon conmune, 6.000 pohon batu 55, plus 9.000 apel manalagi dan 700 rome beauty. Apel memang tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Di tangan Cipto, dengan strategi tepat berkebun apel masih menjanjikan. Pada akhirnya jeruk dan apel jadi pengisi timbangan laba Sutjipto Gunawan. (Evy Syariefa/Peliput: Nesia Artdiyasa, Lastioro Anmi Tambunan, & Rosy N Apriyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img