Menanam stevia di pot lebih praktis. Ketika ingin menikmatinya tinggal petik daun, seduh bersama bahan lain, dan rasakan manis menyegarkan yang sehat.
Trubus — Josni Kodoati menanam stevia dalam polibag 50 cm x 60 cm di Katulampa, Kota Bogor, Jawa Barat. Demi efisiensi tempat, dalam polibag yang sama ia juga menanam pohon zaitun. Polibag-polibag itu tidak terlindung teduhan. “Stevia memerlukan sinar matahari penuh agar tumbuh baik,” kata pria 33 tahun itu. Stevia menumpang di polibag zaitun lantaran Josni menanam belakangan. Daun manis itu tumbuh baik meski hanya menumpang di polibag tanaman lain.
“Jika penanaman secara tumpang sari saja cukup untuk menumbuhkan stevia, apalagi penanaman tunggal dalam pot,” kata Josni. Ia mengisi polibag itu dengan media tanam terdiri atas campuran tanah, sekam mentah, dan kompos kotoran kambing. Jumlah ketiganya sebanding. Josni lantas menanam bibit stevia setinggi 15—20 cm ke media tanam. Pria kelahiran Medan, Sumatera Utara, itu mengatakan, stevia tergolong bandel. Pindah tanam dari pembibitan ke polibag atau pot tidak tergantung waktu ataupun cuaca. Asal sehat, bibit bisa pindah tanam kapan saja.
Irit pupuk
Setelah pindah tanam pun tanaman bisa langsung diletakkan di bawah sinar matahari penuh. Periset Bangladesh Open University, Farid Hossain dalam “Cultivation and Uses of Stevia: A Review”, yang termuat dalam African Journal of Food, Agriculture, Nutrition, and Developments edisi November 2017, menyatakan intensitas dan fotoperiode matahari vital untuk pertumbuhan vegetatif.
Ketika intensitas atau lama penyinaran berkurang, tanaman beralih ke fase generatif atau memunculkan bunga. “Produksi daun berkurang setelah tanaman berbunga sehingga tidak menguntungkan produsen olahan,” kata bagian produksi Divine Herbal, Yuldi Bongga. Dalam 1—2 pekan pascapindah tanam, stevia mulai bertunas dari ketiak daun lalu tumbuh menjadi cabang-cabang baru. Selang 3 bulan, tanaman menjadi rimbun dan daun siap panen sebelum keburu berbunga.

Kalau telanjur berbunga, tanaman harus diganti baru karena tidak lagi produktif. Stevia tidak rewel. Selama cukup air, tanaman bakal terus menumbuhkan daun. Untuk itu Josni rutin menyiram saat kemarau menyengat seperti Juni—Oktober 2018. Tanaman anggota famili Asteraceae itu juga irit pupuk. Josni hanya memberikan kompos kotoran kambing sebagai pupuk dasar dalam media tanam, selanjutnya ia tidak lagi menambahkan pupuk.
Dalam laporannya, Farid Hossain menyatakan stevia tumbuh optimal kalau mendapat pupuk rendah nitrogen dan kaya fosfor serta kalium. Berbeda dengan Josni, pehobi tanaman di Surakarta, Jawa Tengah, Danna Syakura rutin memupuk tanaman stevia di potnya. Ia menanam stevia di 10 pot berdiameter 25 cm di teras dan samping rumah. Dua pekan sekali, ibu 2 anak itu menyiram tanaman stevia dengan pupuk organik cair. Ia menambahkan butiran pupuk organik setiap bulan.
Semai pasir
Perawatan itu membuat stevia subur sehingga Danna harus kerap memangkas. Seperti Josni, Danna pun mengupayakan agar bunga tidak muncul. “Setelah berbunga tanaman mudah mati, seringnya tiba-tiba kering,” kata Danna. Selain diambil daunnya, panen juga untuk mendapat calon bibit setek. Kriteria tanaman sumber calon bibit setek sama dengan panen. “Batang kokoh dan daun rimbun,” kata Josni. Untuk bibit setek, ia memotong batang sepanjang 10—15 cm.

Kemudian ia menancapkan potongan itu di wadah semai di tempat teduh. Media semai hanya ayakan halus pasir sungai. Josni pernah menggunakan sekam bakar, tapi keberhasilan pembibitan hanya 20—50%. Ia menduga sekam bakar mudah dihinggapi cendawan atau bakteri karena bersifat menyimpan air. Dengan media pasir, keberhasilan setek 100%. Ia menancapkan batang setek tanpa menghilangkan daun. Saat kemarau, ia menyiram setiap 1—2 hari agar media tetap lembap.

Dalam sepekan daun yang semula terkulai tegak kembali. Setelah muncul tunas daun baru—menandakan akar terbentuk—tanaman siap keluar naungan dan pindah ke polibag 10 cm. Sejak tancap batang hingga muncul tunas baru biasanya perlu 20—25 hari. Pasir media semai tidak perlu diganti. Josni membongkar media dalam wadah semai lalu menjemur 1—2 hari.
Alumnus SMK Elektro itu perlu setahun untuk menguasai pembibitan. Waktu selama itu juga untuk menyeleksi bibit yang mampu bertahan di ketinggian Kota Bogor, yang berkisar 300—400 m dpl. “Dulu kematian setekan sampai 50%,” katanya. Josni memperoleh bibit stevia dari rekan di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, pada 2013. Setelah adaptasi setahun, kini stevia mampu tumbuh di dataran rendah maupun tinggi atau pot di teras rumah.
Daun manis masuk tanah air sejak 1977. Namun, kebanyakan menganggap tanaman Stevia rebaudiana itu hanya bisa tumbuh di dataran tinggi berhawa sejuk di ketinggian lebih dari 500 m di atas permukaan laut. Ternyata kerabat bunga aster itu mampu beradaptasi dan hidup di ketinggian permukaan laut. (Argohartono Arie Raharjo)
