Saturday, August 13, 2022

Teh Sehat dari Halimun

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Kebiasaan Antonius Wijaya hampir tak pernah berubah dalam 20 tahun terakhir. Usai bangun pagi hal pertama yang ia lakukan adalah menyeduh teh. Ia melakukannya sendiri demi memperoleh citarasa yang pas. Jenis teh yang ia seruput pada pagi hari adalah pu er. Pengusaha di Cibubur, Jakarta Timur, itu juga membawa teh ke kantor yang ia nikmati pada jam makan siang dan pukul 14.00—15.00. Setelah tiba kembali di rumah, alumnus Universitas Persada Indonesia itu kembali menyeduh teh. Yang membedakan adalah kini ia menikmati teh organik.

Konsultan manajemen di Jakarta Barat, Ratna Somantri, melakukan hal sama. Alumnus Le Cordon Bleu, Sidney, Australia, itu juga penikmat teh organik. Semula ia hanya sekadar minum daun anggota famili Theaceae itu. Namun, setelah bertemu dengan komunitas pencinta teh, ia mengetahui teh organik—hasil budidaya tanpa pupuk dan pestisida kimiawi. “Itu bagus sekali untuk minum sehari-hari,” ujar perempuan 32 tahun itu. Ia tak keberatan membeli teh organik yang relatif mahal dibanding teh pada umumnya.

Menurut Ratna budidaya teh organik memang tak gampang karena meninggalkan pupuk dan pestisida kimiawi. Lagi pula kandungan senyawa aktif lebih baik sehingga bermanfaat bagi kesehatan. Itulah sebabnya setiap hari sarjana Teknik Industri alumnus Universitas Trisakti itu senantiasa membawa teh dan teko ketika berangkat bekerja. Rutin mengonsumsi teh menyebabkan Antonius Wijaya dan Ratna Somantri tetap bugar.

Rendah kafeina

Menurut Presiden Direktur Teh Cawan, Johanna Nany H, cara menyajikan teh tak dapat disamaratakan. Ia mencontohkan, suhu air untuk menyeduh teh hijau cukup 80oC dengan durasi 10 menit. Namun, ketika hendak menyeduh teh oolong, perlu suhu air 850C selama 2 menit. Sebaliknya penikmat teh hitam silakan menyeduh dengan air bersuhu 1000C selama 2 menit. Johanna mengatakan teh-teh itu hanya diseduh 2—3 kali. Namun, teh pu er dapat diseduh hingga 7 kali.

Dengan cara itu, “Kita bisa menikmati teh, bukan sekadar minum teh,” kata Antonius Wijaya. Selain seduh panas, kini juga marak cara lain, yakni seduh dingin. Menurut Antonius, untuk menyeduh dingin dengan meletakkan sejumput teh di dalam gelas atau botol, tambahkan air matang dingin, dan biarkan hingga 6 jam. Sembari menunggu, kita boleh juga masukkan gelas atau botol ke dalam kulkas.

Baik Ratna maupun Antonius menikmati teh organik jenis oolong. Peneliti di Pusat Penelitian Teh dan Kina, Dadan Rohdiana MSi, mengungkapkan dari segi proses pengolahan teh terdiri atas 3 jenis. Ketiganya adalah tanpa fermentasi seperti teh hijau, fermentasi 100% (teh hitam), dan di antara keduanya terdapat teh oolong yang mengalami semifermentasi 35%. Menurut Dadan penggunaan istilah fermentasi tak sepenuhnya tepat, yang pas adalah oksidasi enzimatis.

Menurut Presiden Direktur PT Harendong Green Farm, Alexander Halim, pada kelembapan 40% dan suhu 180, fermentasi oolong berlangsung kira-kira satu jam. Bandingkan dengan teh hitam yang seharian mengalami fermentasi atau teh hijau yang 0,5 jam. Fermentasi mempengaruhi kadar senyawa aktif di dalam daun anggota famili Puspa-puspaan itu. Semakin lama proses fermentasi, kian turun kadar katekin. Artinya kadar katekin teh hijau paling tinggi dibanding teh hitam dan oolong. Katekin senyawa aktif yang berkhasiat sebagai antioksidan bagi tubuh.

Antioksidan berperan membangun sistem pertahanan dalam tubuh untuk menangkal kerusakan sel tubuh akibat radikal bebas. Radikal bebas merupakan hasil metabolisme makanan berupa molekul oksigen. Di sisi lain, kian lama fermentasi juga meningkatkan kadar polifenol dan arubigin. Kadar polifenol teh hijau hanya 4%; teh hitam, 7%; sedangkan teh oolong 9,70%. Secara umum kadar polifenol teh organik meningkat hingga 80%; nonorganik, 30%.

Menurut Dadan Rohdiana, tren teh organik cenderung meningkat seiring kesadaran masyarakat untuk hidup lebih sehat. Tuti, penjaga sebuah kedai teh organik di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, mengatakan puluhan kursi di kedainya penuh, terutama pada saat makan siang dan akhir pekan. Para penggemar teh organik itu memperoleh khasiat lebih banyak. Dadan mencontohkan kadar kafeina teh oganik jauh lebih rendah daripada teh nonorganik. Sebab, dalam budidaya tanpa pupuk nitrogen. Konsumsi kafeina berlebihan berdampak buruk, antara lain membuat jantung berdebar dan meningkatkan kadar gula darah. Penurunan kadar kafeina teh organik 20%.

Sertifikat organik

Alexander Halim dan Budiharto Halim membuka lahan untuk perkebunan the organik pada akhir 2005. Lokasinya di Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, seluas 200 ha. Dari luasan itu Alexander baru menanam teh di lahan 50 ha secara bertahap dengan populasi masing-masing 20.000 bibit per ha. Kebun di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut itu semula hanya ditumbuhi sengon Paraserianthes falcataria secara sporadis. Lokasinya terlindung di sisi Gunung Halimun berketinggian 1.925 meter di atas permukaan laut. Kebun itu juga jauh dari lahan pertanian lain sehingga relatif aman dari cemaran pestisida.

Mereka tergerak mengebunkan the organik karena dari sisi bisnis, peluang teh organik sangat besar. Alexander, doktor Teknik Mesin alumnus Rheinisch Westfoelische Technishe Hochschule, Jerman, mengatakan negara-negara di Eropa acap kali menolak bahan pangan yang kadar residu pestisidanya tinggi. Oleh karena itu sejak penanaman hingga kini, Alexander memanfaatkan pupuk organik dan pestisida nabati. Hasil pengecekan IMO—lembaga sertifikasi internasional—yang berpusat di Swiss membuktikan bahwa tehteh dari kebun itu memang terbukti organik.

Pantas, jika Alexander memperoleh harga lebih tinggi, yakni Rp800.000—Rp900.000 per kg kering. Itu 50—60% lebih mahal daripada teh nonorganik. Saat ini PT Harendong Green Farm baru memanen rata-rata 500 kg per bulan dari 5 ha lahan yang telah berproduksi. Sebagian produksi, 300 kg dikirim ke Taiwan. Oleh karena itu permintaan rutin Jepang sebanyak 500 kg belum terpenuhi. PT Harendong Green Farm juga memasarkan teh organik di pasar domestik. (Sardi Duryatmo)

Keterangan foto

  1. Kebun teh organik di Lebak, Provinsi Banten
  2. Teh oolong organik, makin tren di Indonesia
  3. Antonius Wijaya rutin konsumsi teh organik
  4. Kadar kafeina teh organik lebih rendah
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img