Monday, August 15, 2022

Kopi Jawa Berubah Wajah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Sosok buah kopi itu amat mungil, seukuran kacang hijau yang terbagi dua. Para pekebun di lereng Gunung Merapi berketinggian 800 meter di atas permukaan laut menyebutnya kopi menir. Dalam bahasa setempat menir berarti pecahan beras berukuran kecil dalam proses penggilingan. Namun, citarasa kopi itu khas: ringan dan sedikit masam. Pelancong dari Belanda menyukai citarasa kopi menir.

“Banyak warga Belanda membawa kopi menir sebagai buah tangan,” kata Sumijo, ketua Koperasi Usaha Bersama (KUB) Kebun Makmur di Kaliurang, Yogyakarta. Dari merekalah kopi asal lereng Merapi itu menyebar hingga Eropa. Mereka menyebutnya java coffee alias kopi jawa. Menurut ahli kopi dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Dr Sri Mulato, dulu kopi itu mungkin disebut kopi jawa. Namun, saat ini sebutan kopi jawa identik dengan kopi dari kaki Gunung Ijen, Jawa Timur.

Sambung arabika

Sumijo mengatakan masyarakat setempat membudidayakan kopi menir sejak zaman penjajahan Belanda. Sayang, karena buah mungil, produktivitas pohon anggota famili Rubiaceae itu rendah, hanya 2 kg buah segar per tahun ketika berumur 6 tahun. Bandingkan dengan produktivitas kopi arabika yang rata-rata 6–10 kg buah segar per tahun saat berumur sama. Meski lezat, warga tidak tertarik merawat sehingga populasi kopi menir itu makin menyusut. Sebelum Merapi meletus pada Oktober 2010, populasi kopi menir di Yogyakarta sekitar 1.000 pohon. Namun, kini kondisi menir memprihatinkan karena terbakar dan sebagian tertimbun material gunung. Hanya beberapa pohon yang tersisa di kawasan Kaliurang dan Cangkringan.

Mulato mengatakan peluang pohon kopi menir tumbuh kembali sangat kecil. Sebab, seluruh pohon yang terkena awan panas dan tertimbun material gunung gosong. Jauh sebelum erupsi Merapi, pada 1992 pemerintah Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta, memperkenalkan kopi arabika. Saat itu banyak warga beralih menanam arabika. Ukuran buah kopi introduksi itu lebih besar, setara biji kedelai. Apalagi harga buah kopi segar saat itu menggiurkan, yakni Rp1.000/kg. Sejak itu banyak pekebun di lereng Merapi yang menebang kopi menir dan mengganti dengan arabika.

Namun, banyak juga yang melakukan top working. Mereka memangkas tajuk kopi menir, lalu menyambung dengan arabika. Artinya, batang bawah tetap menir, arabika sebagai batang atas. Areal tanam arabika dengan cepat meluas ke berbagai daerah di lereng Merapi seperti Kaliurang, Kinahrejo, Rangkah, Pangurejo, Kaliadem, Petung, Jambu, dan Kopeng. Kawasan itu menjadi sentra baru kopi arabika. Pohon sambungan itu berproduksi 3 tahun kemudian atau pada 1995.

Produktivitas kopi arabika hasil sambung pucuk alias top working mencapai 6–10 kg buah segar per pohon. Sedangkan kopi arabika tanpa sambung baru berproduksi pada umur 4–5 tahun. Meski begitu konsumen tetap menggemari kopi dari daerah itu yang kini berganti nama menjadi kopi merapi.

Apalagi para pekebun kopi merapi kini juga membudidayakan pohon kerabat mengkudu itu secara organik. “Wisatawan asing menyukai kopi organik karena citarasanya lebih enak dan sehat,” kata Sumijo. Ia memiliki 500 pohon di lahan 3.000 m2. Dari pohon-pohon berumur 6 tahun, ia menuai total 5 ton buah segar per tahun. Ia menjual kopi segar Rp3.000 per kg kepada Koperasi Usaha Bersama Kebun Makmur di Yogyakarta.

Pasar eksklusif

Kawasan di kaki Gunung Merapi yang lebih rendah seperti Turi, Pakem, dan Cangkringan, Yogyakarta, lebih dulu sohor sebagai sentra kopi robusta. Pemerintah Kabupaten Sleman mengembangkan kopi yang adaptif di dataran rendah itu pada 1980. Luas areal tanam mencapai 120 ha. Untuk membantu pemasaran komoditas itu, Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman membentuk asosiasi petani kopi. Dengan asosiasi itu diharapkan petani memiliki posisi tawar tinggi.

Selain itu, “Petani lebih mudah menjalin kerja sama dengan pasar yang lebih besar,” kata Heru Yoga Pancaka, anggota staf pengawas mutu hasil pertanian Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman. Pada 2004 akhirnya berdiri Koperasi Usaha Bersama (KUB) Kebun Makmur. Koperasi menampung biji mentah dari pekebun, lalu mengolah sesuai permintaan pasar. Sejak itu para petani kopi tak lagi bergantung pada pengepul.

Koperasi membeli hasil panen dengan harga tinggi, yaitu Rp2.000–Rp3.000 per kg buah segar atau Rp12.000 per kg kering. Satu kilogram kering berasal dari 3–5 kg buah segar. Harga tinggi itu tentu saja berkah bagi pekebun. Jupri yang mengelola 1.000 tanaman berumur 6 tahun, memanen 6–10 ton buah segar per tahun. Omzet pekebun di Desa Glagahrejo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, itu Rp12-juta–Rp30-juta/tahun.

“Dengan harga tinggi para petani kembali bersemangat merawat kopi. Jadi kopinya tidak ditebang. Kalau ditebang, maka ciri khas kopi merapi lambat laun akan hilang,” ujar Sumijo. Koperasi juga membidik pasar eksklusif seperti kafe-kafe di daerah-daerah wisata dan sebagai buah tangan untuk para pelancong. Harga jual kopi robusta Rp48.000; arabika Rp80.000 per kg. Harga itu hampir dua kali lipat harga kopi biasa. KUB Kebun Makmur menjual rata-rata 10 kg untuk melayani permintaan kafe, 20 kg untuk terapi spa, dan 30 kg sebagai buah tangan per bulan.

Sayang, baru saja koperasi berjalan dua tahun, terjadi bencana erupsi Gunung Merapi pada 2006. Akibatnya, puluhan hektar lahan kopi arabika di lereng Merapi seperti di Desa Petung luluh–lantak. Setelah erupsi mereda, koperasi lalu melakukan penanaman ulang seluas 1,6 ha. Belum juga membuahkan hasil, erupsi yang lebih besar kembali terjadi pada akhir 2010. Hampir seluruh populasi arabika dan 30% populasi robusta di kawasan Cangkringan hancur akibat awan panas.

“Kemungkinan arabika habis karena tumbuh di lereng. Yang masih tersisa robusta di kawasan Cangkringan, Pakem, dan Turi,” kata Sumijo. Pascabencana para pekebun menanam di areal baru seperti di Desa Glagahrejo untuk memulihkan populasi. Dengan begitu diharapkan pamor kopi merapi kembali bangkit. (Imam Wiguna)

Keterangan foto

  1. Batang kopi menir yang disambung dengan robusta. Umurnya diperkirakan ratusan tahun
  2. Kopi menir kini bersalin wajah menjadi robusta dan arabika
  3. Kopi merapi organik kini hanya didapatkan di pasar eksklusif seperti di hotel dan kafe
  4. Ribuan kopi menir dan puluhan hektar kopi arabika luluh–lantak akibat awan panas dan tertimbun material letusan Gunung Merapi

Pascaerupsi Gunung Merapi yang tersisa hanya robusta

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img