Friday, May 24, 2024

Teh Tayu Warisan Pulau Timah Tumbuh di Dataran Rendah

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Masyarakat Tayu, utamanya etnis Tionghoa, menanam teh sejak Belanda mendatangkan leluhur mereka sebagai kuli pertambangan timah pada abad ke-18. Menurut Pegiat teh Bangka Barat, Sugia Kam, teh salah satu komponen peribadatan.

Itu sebabnya biji teh menjadi salah satu barang bawaan wajib imigran Tiongkok zaman dahulu. Mereka menanam biji-biji itu di tempat baru untuk memenuhi kebutuhan ibadah. Kebutuhan ibadah sedikit sehingga teh itu lantas menjadi bagian konsumsi harian.

Jenis sinensis cocok menjadi teh hijau. Li Po On atau akrab dipanggil Aon kerap memetik hanya dua daun per pohon. “Daun ketiga kadang juga saya ambil tapi nanti prosesnya dipisah karena kualitasnya berbeda,” katanya.

Uniknya teh tayu itu  dapat tumbuh subur di dataran rendah. Kebun Aon misalnya bukan di kaki gunung seperti lazimnya kebun teh lain di tanah air. Lahan tempatnya menanam teh berjarak tidak sampai 10 km dari garis pantai Pulau Timah itu.

Ketinggian tempat itu 0—10 m di atas permukaan laut, Aon bukan satu-satunya orang yang menanam teh varietas sinensis itu. Soal rasa, menurut Sugia, lebih enak ketimbang semua teh yang pernah dicicipinya.

Pehobi piknik yang pernah magang dua pekan di sebuah kafe di Inggris itu mencicipi teh di Amerika, Malaysia, Singapura, dan London. “Orang Inggris yang punya budaya minum teh saja keenakan setelah saya persilakan mencicipi,” kata alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Trisakti itu

Menurut tea entrepreneur dan juara National Tea Championship 2019, Galung Atri, penanaman di dataran rendah menjadikan rasa teh lebih kuat di bagian body alias ketebalan sedangkan rasa dan aroma tidak sekuat teh dataran tinggi. Walau demikian, teh warisan etnis Tionghoa Hakka itu menjadi pilihan utama warga Tayu untuk ngeteh.

Dokter umum di Kota Pangkalpinang, pegiat sosial kemasyarakatan, sekaligus pehobi durian, dr. Ase Ardianto menyatakan secangkir teh tayu efektif meredakan mabuk durian. Aktivis gerakan Durian Traveler itu kerap mengajak pehobi durian dari seluruh Indonesia untuk menikmati durian cumasi khas Bangka.

“Pernah ada pehobi yang makan durian berlebih sampai mabuk tidak bisa berdiri. Setengah jam setelah saya beri teh tayu, ia pulih,” katanya.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Sukses Budidaya Ikan Dewa dengan Teknik Segmentasi

Trubus.id—Masyarakat Indonesia belum terbiasa memelihara ikan dalam waktu lama seperti pada budidaya ikan dewa. Pembudidaya memerlukan waktu lebih dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img