Tuesday, November 29, 2022

Teknik Tanam Tanpa Tanah

Rekomendasi

Teknik hidroponik menjadi alternatif berkebun sayuran di lahan sempitTepat memilih metode budidaya, kunci sukses bertanam secara hidroponik.

Pekebun hidroponik di Depok, Jawa Barat, Heru Irianto hampir saja merugi jutaan rupiah. Mesin yang mengalirkan air beserta nutrisi ke kebun letucce seluas 500 m2 tiba-tiba mati. “Saya nyalakan 24 jam terus-menerus tanpa henti,” kata Heru. Dampaknya mesin terlalu panas ketika siang hari. “Saya coba berkali-kali untuk menghidupkan, baru bisa 2 jam kemudian,” kata Heru. Untung saat itu, tanaman hanya layu.

Pengalaman itu melekat di ingatan Heru. Sejak saat itu, ia mengantisipasinya dengan menyediakan pompa cadangan dan genset untuk berjaga-jaga ketika listrik padam. Selain itu, ia memindahkan pompa yang awalnya di tempat terbuka ke lubang di bawah tanah seluas 1 m x 1 m dengan kedalaman 1 m. “Agar pompa tetap dingin, saya letakkan di dalam tanah,” kata Heru. Sejak saat itu, Heru tak pernah lagi mengalami kendala terkait pompa.

 

Mutlak?

Menurut pakar hidroponik dan pupuk di Jakarta, Ir Yos Sutiyoso, penggunaan listrik untuk beberapa teknik hidroponik atau budidaya tanpa tanah lainnya memang mutlak. Yos mencontohkan, pada teknik aeroponik, listrik mati 1—2 jam saja, tanaman akan mati. Sementara pada teknik nutrient film technique (NFT), tanaman bisa bertahan meski listrik mati 2 jam. Di atas 2 jam  tanaman akan mati. “Listrik harus siap 24 jam,” kata Yos.

Pekebun di daerah-daerah yang sering terjadi pemadaman listrik, Yos menyarankan untuk menggunakan metode minim listrik seperti wick system atau sistem sumbu, substrat atau rakit apung. Ketiga sistem itu tidak membutuhkan listrik 24 jam. Seperti sistem sumbu yang hanya membutuhkan listrik untuk “mengucek” air agar nutrisi dan oksigen bisa bersirkulasi.

Bahkan, menurut pekebun hidroponik di Karanganyar, Jawa Tengah, Agus Hendra, “pengucekan” juga bisa dilakukan secara manual menggunakan tangan. Caranya, celupkan dan goyang-goyangkan tangan di dalam air sehari tiga kali. “Bisa tanpa listrik sama sekali,” ujar pria kelahiran 26 Juni 1972 itu.

 

Pompa yang diletakan di lubang bawah tanah mampu menjaga suhu pompa tetap dinginPlus minus

Pada teknik substrat, penggunaan listrik hanya ketika penyiraman. “Sehari bisa tiga kali penyiraman dengan durasi sekitar 30 menit atau menyesuaikan media tanam, iklim, dan kondisi tanaman. Semakin besar tanaman atau ketika cuaca sedang panas, intensitas penyiraman menjadi lebih tinggi,” kata Yos. Namun, jika tetap ingin menggunakan teknik yang membutuhkan listrik 24 jam, pembelian mesin genset dapat menjadi alternatif ketika terjadi pemadaman listrik.

Menurut Agus Hendra, masing-masing teknik budidaya tanpa tanah memiliki plus minus. Pada NFT penyebaran penyakit sangat cepat (lihat boks). Oleh karena itu, Agus menyarankan agar pengontrolan hama dan penyakit  harus intensif, apalagi ketika musim hujan. “Setiap hari harus dicek kondisi tanaman, jika ada satu tanaman yang terserang penyakit harus segera dibuang, begitu juga air dan nutrisi yang mengalir harus segera diganti dengan yang baru,” ujarnya.

Ir Yos Sutiyoso, "Penggunaan listrik pada hidroponik dengan metode NFT dan aeroponik mutlak diperlukan"Pada teknik NFT yang dikembangkan Kunto Herwibowo di Pamulang, Tangerang, penanganannya lebih berat lagi. Kunto mengembangkan teknik NFT tanpa menggunakan penaung atau greenhouse. Teknik itu sangat revolusioner mengingat biaya investasi pembuatan greenhouse terbilang mahal. “Biaya pembuatan greenhouse mencapai 300.000—400.000 per m2,” kata Kunto. Jika luas sebuah rumah tanam 100 m2 , maka dana pembuatannya Rp40.000.000.

Namun, risiko yang dihadapi Kunto menjadi lebih berat dibanding pekebun hidroponik NFT lainnya. Pengendalian hama dan penyakit menjadi superintensif karena tanaman tidak terlindung apa pun, apalagi ketika hujan datang (baca Trubus edisi Agustus 2012: Hidroponik di Bawah Langit). Kunto sanggup mengatasi semua kendala itu. “Kuncinya niat yang kuat, terus berinovasi dan menggali informasi tentang hidroponik,” kata pembicara pelatihan hidroponik yang kerap Trubus adakan itu. (Bondan Setyawan/Peliput: Argohartono Arie Raharjo, Kartika Restu Susilo, dan Pressi Hapsari Fadillah)

 

 

Enam Pilihan

 

Nutrient Film Technique (NFT)

Nutrient film technique (NFT) merupakan teknik hidroponik yang menjadikan akar tanaman tumbuh pada lapisan nutrisi yang dangkal (2—3 mm) dan tersirkulasi secara terus-menerus sehingga tanaman dapat memperoleh air, nutrisi, dan oksigen cukup. Teknik yang dikembangkan oleh Dr AJ Cooper dari Glasshouse Crops Research Institute, Littlehampton, Inggris.

 

Alat : Talang air, stirofoam, pompa, rockwool, pipa polivinil klorida, ember atau wadah air.

Komoditas  : Caisim, letucce, selada, sawi, pakchoy.

Skala  : Hobi dan bisnis.

Skala ekonomis : Pakchoy 500 m2.

Keunggulan : Mudah mengendalikan perakaran tanaman, kebutuhan air

terpenuhi dengan baik, keseragaman nutrisi dan tingkat konsentrasi larutan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman dapat

disesuaikan dengan umur dan jenis tanaman, tanaman dapat diusahakan beberapa kali dengan periode tanam yang pendek.

Kekurangan        : Investasi dan biaya perawatan yang mahal, sangat tergantung listrik, penularan penyakit ke tanaman lain sangat cepat.

Solusi  : Pengamatan hama dan penyakit harus dilakukan secara intensif terutama ketika musim hujan. Penyiapan mesin genset

untuk mengantisipasi listrik mati.

 

NFT tanpa greenhouse

Modifikasi metode NFT tanpa penaung atau greenhouse. Teknik itu sangat revolusioner mengingat biaya investasi pembuatan greenhouse cukup mahal.

 

Alat  : Talang air, stirofoam, pompa, rockwool, pipa polivinil klorida,

ember atau wadah air.

Komoditas          : Caisim, letucce, selada, sawi, pakchoy, kangkung, bayam.

Skala                      : Hobi dan bisnis.

Skala ekonomis : Letucce 500 m2.

Keunggulan        : Menghemat biaya pembuatan greenhouse.

Kekurangan        : Rentan hama dan penyakit, sangat tergantung listrik.

Solusi                    : Pengendalian hama dan penyakit yang superintensif, menanam

tanaman atraktan. Penyediaan mesin genset untuk mengantisipasi listrik padam.

 

Aeroponik atau pengabutan

Aeroponik merupakan metode budidaya tanpa tanah dengan memberikan air dan nutrisi pada tanaman dalam bentuk butiran kecil atau kabut. Pengabutan berasal dari air dari bak penampungan yang disemprotkan menggunakan nozel sehingga nutrisi lebih cepat terserap akar tanaman.

Penyemprotan berdasarkan durasi waktu yang diatur menggunakan pengatur waktu. Penyemprotan ke bagian akar tanaman yang sengaja digantung. Air dan nutrisi yang telah disemprot akan masuk menuju bak penampungan untuk disemprotkan kembali.

 

Alat : Stirofoam, pompa, nozle, pipa polivinil klorida, ember atau wadah air.

Komoditas : Caisim, letucce, selada, sawi, pakchoy, bayam.

Skala : Hobi dan bisnis

Skala ekonomis : Pakchoy atau letucce 700 m2

Keunggulan : Tanaman mendapat pasokan air, oksigen, dan nutrisi secara berkala. Lebih menghemat air dan nutrisi. Tanaman

lebih mudah menyerap nutrisi karena berukuran molekul kecil.

Kekurangan : Investasi mahal dan sangat tergantung listrik.

Solusi : Penyediaan genset dan pompa cadangan.

—————————————————————————————————————–

Substrat atau Drip irrigation

Drip irigation atau substrat merupakan teknik hidroponik yang memberikan air dan nutrisi dalam bentuk tetesan. Tetesan diarahkan tepat pada daerah perakaran tanaman agar tanaman dapat langsung menyerap air dan nutrisi yang diberikan.

 

Alat : Selang air, pot atau polibag, pompa, media tanam (arang sekam, serbuk sabut kelapa, serbuk gergajian kayu), spaghetti cube (selang tetes) dan ember atau wadah air.

Komoditas : Tomat, cabai, paprika, melon.

Skala : Hobi dan bisnis

Skala ekonomis : Tomat 400—500 pot atau polibag

Keunggulan : Tanaman mendapat pasokan air dan nutrisi secara berkala.

Lebih menghemat air dan nutrisi karena diberikan sedikit demi sedikit. Biaya yang dperlukan relatif murah.

Kekurangan : Oksigen di area perakaran sedikit jika media terlalu padat. Nutrisi dan air banyak “hilang” terserap tanaman, tertahan media, dan menguap.

Solusi : Pemilihan media tanam yang tepat seperti arang sekam murni atau dikombinasikan dengan serbuk sabut kelapa. Pengontrolan aliran air dan nutrisi pada selang dan spaghetti cube secara intensif.

—————————————————————————————————————–

Floating hydroponyc system (FHS) atau rakit apung

Floating hidroponic system (FHS) atau rakit apung merupakan teknik hidroponik dengan menanam tanaman pada lubang stirofoam yang mengapung di atas permukaaan larutan nutrisi dalam suatu bak penampung atau kolam sehingga akar tanaman terapung atau terendam dalam larutan nutrisi.

 

Alat : Stirofoam, rockwool, ember atau wadah air.

Komoditas  : Kangkung, caisim, letucce, selada, sawi putih.

Skala : Hobi dan bisnis.

Skala ekonomis : Pada kangkung 300—500 m2.

Keunggulan  : Tanaman mendapat pasokan air dan nutrisi secara terus-

menerus. Lebih menghemat air dan nutrisi. Mempermudah

perawatan karena kita tidak perlu melakukan penyiraman.

Biaya yang cukup murah.

Kekurangan  : Oksigen susah didapatkan tanaman tanpa bantuan alat. Akar tanaman akan lebih rentan busu.

Solusi  : Memasang airstone atau alat pelepas udara di dalam air.

—————————————————————————————————————–

Wick system atau sistem sumbu

Teknik sumbu merupakan teknik hidroponik sederhana yang menghubungkan nutrisi dan media tanam dengan perantara sumbu. Air dan nutrisi akan sampai ke akar tanaman dengan memanfaatkan prinsip daya kapilaritas air. Cara kerjanya mirip kompor minyak tanah.

 

Alat  : Rockwool, sumbu, ember atau wadah air.

Komoditas  : Selada, sawi, pakchoy, caisim.

Skala : Hobi.

Skala ekonomis : –

Keunggulan  : Mudah membuatnya, cocok untuk pemula dan pehobi.

Kekurangan : Nutrisi dan oksigen cepat mengendap atau sulit terserap karena air tidak bergerak.

Solusi : Sering “mengucek” nutrisi minimal sehari 2—3 kali agar nutrisi mudah terserap tanaman dan oksigen tersirkulasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img