Sunday, November 27, 2022

Teman Satwa

Rekomendasi

Satu setengah abad silam, pada 1864, seorang pelukis terkenal, Raden Saleh Syarief Boestaman, membuka Planten en Dierentuin—taman dan kebun hewan pertama di Indonesia.  Sejak 1949 namanya diubah menjadi Kebun Binatang Cikini, arealnya kini menjadi Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Pada 1966, Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, memindahkan hewan-hewan itu ke Jakarta Selatan dan membangun Taman Margasatwa Ragunan (TMR).

Tahun depan, 2014, Gubernur Joko Widodo akan merayakan ulang-tahun ke-150 kebun binatang dan koleksi tanaman itu. Diharapkan, TMR yang merupakan kebun binatang nomor dua terluas dan nomor empat tertua di dunia, dapat dikelola secara lebih profesional. Sekarang, dengan areal 120 hektar  dan koleksi 3000-an satwa dari 300 jenis, hanya dilayani 6 dokter hewan bersama 300-an karyawan.

Kebun binatang sarana pendidikan publik, rekreasi, dan konservasi
Kebun binatang sarana pendidikan publik, rekreasi, dan konservasi

Subsidi silang

Setiap tahun TMR dikunjungi 4-juta wisatawan. Dengan tiket Rp8000 per orang,  pemasukan  dari  berkisar  Rp30-miliar. Padahal, biaya perawatan hewan dan pemeliharaan fasilitasnya, tidak kurang dari Rp50-miliar. Tidak mengherankan kalau TMR selalu memerlukan subsidi dari pemerintah daerah.  Untungnya, masih ada hasil tambahan antara lain dari restribusi warung makan, penyewaan gedung, ongkos parkir, dan penjualan suvenir.

Manajemen bisnis dan industri kebun binatang sebetulnya cukup besar, banyak, dan sudah lama berkembang di Pulau Jawa. Taman Satwa Taru Jurug di Solo, Provinsi Jawa Tengah, bermula dari Taman Sriwedari pada 1878.  Sementara Kebun Binatang Surabaya (KBS) di Wonokromo, dibuka dengan dekrit Gubernur Jenderal pada tahun 916. Hanya dengan luas 6 hektar, KBS pernah menjadi kebun binatang dengan koleksi terlengkap di Asia Tenggara, ketika berhasil merawat 400 macam satwa!

Sayangnya, tenaga ahli untuk mengelola kebun binatang belum disiapkan sebagai mana mestinya. Padahal di luar negeri terdapat berbagai kursus, program diploma, bahkan kesarjanaan untuk zoo & aquarium management.  Di Australia, untuk sebuah kursus perawatan kebun hewan berdiploma biayanya mencapai Rp100- juta per orang. Hasilnya, tentu lebih profesional dan dapat diandalkan.

Itulah sebabnya susah membanding-kan penataan dan hasil pengelolaan kebun binatang kita dengan yang ada di mancanegara. Tenaga pengelola kita harus banyak belajar, kalau perlu harus diberi beasiswa, atau mengundang pelatih yang benar-benar ahli.  Apalagi setelah sering terdengar bahwa pamor kebun binatang di berbagai daerah (Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Bandung, Bukittinggi, Medan) kurang berjaya.

Untungnya ada juga yang hebat seperti Taman Burung di Bali,  Jatim Park di Kotamadya Batu, Jawa Timur, Taman Safari di Cisarua, Jawa Barat, di Prigen, Jawa Timur, serta Gelanggang Samudera di  Ancol, Jakarta.

Fungsi konservasi

Taman margasatwa sebenarnya sarana pendidikan publik.  Wisata yang dikembangkan dalam kebun binatang memberikan asupan pengetahuan untuk Ilmu Biologi, Ekologi, dan berbagai wawasan kehidupan. Klimatologi yang menyangkut perubahan iklim pun bisa diajarkan di kebun hewan. Di Ragunan yang kaya spesies pohon, juga dapat dikembangkan dendrologi.

Jadi peranan utama TMR adalah sebagai penyangga kegiatan riset dan pendidikan masyarakat.  Dengan berkunjung ke taman margasatwa, kita diajar untuk menghormati kehidupan, mencintai hewan dan tumbuhan, memahami masalah-masalah ekologi, ramah lingkungan. Pengunjung kebun hewan mendapat kesempatan untuk belajar disiplin, antre, tidak membuang sampah sembarangan, dan menyalurkan kasih-sayang kepada satwa.

Kebun binatang adalah indikator bahwa seseorang atau sekelompok masyarakat mencintai satwa. Kalau hewan-hewannya sehat, berkembang dengan baik dan lingkungannya terjaga, tandanya masyarakat memang ramah satwa.  Kebun binatang lebih dari sebagai sarana rekreasi, riset, dan pendidikan.

TMR diharapkan menjadi wahana konservasi eksitu–penangkaran di luar habitat aslinya.  Kalau hewan-hewan langka dapat hidup dan berkembang biak di taman margasatwa, maka sarana itu akan lestari.  Jadi, selalu diperlukan upaya dan pembiayaan agar hewan-hewan di kebun binatang mendapatkan keturunan, dan tidak mati tua hanya sebagai tontonan. Kelahiran anak-anak satwa selalu disambut gembira dan menjadi berita besar.

Dalam budi-bahasa Jawa, setiap anak hewan bahkan punya sebutan masing-masing.  Misalnya bledug anak gajah, belo anak kuda, gogor anak macan, tobil anak kadal, kuthuk anak ayam, gudel anak kerbau, blengur anak angsa, dan seterusnya. Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat tradisional kita penyayang satwa, dan selalu gembira menyambut generasi penerus.  Fungsi konservasi merupakan hal yang melekat di seluruh kebun binatang yang besar di seluruh dunia.

Negeri Tiongkok bahkan mengklaim bahwa setiap ekor beruang panda yang lahir di mana pun adalah miliknya. Mengapa? Panda adalah hewan nasional mereka dan setiap ekor panda yang berada di luar negeri diperlakukan sebagai duta besar.  Negara lain boleh memelihara panda dengan memberikan jaminan satu juta dolar setiap ekor, untuk jangka waktu yang disepakati. Hebatnya, Singapura berhasil mendatangkan dua duta besar yaitu Kai Kai dan Jia Jia di kebun binatangnya.

Apakah Indonesia juga mampu memberlakukan jaminan yang sama untuk komodo?  Semakin tinggi jaminannya, tentu semakin serius penanganannya.  Jangan lupa, kesejahteraan satwa merupakan hal paling penting. Inilah yang harus dijamin oleh setiap warga pencinta binatang. Penilaiannya terbuka untuk umum, seperti laporan tahunan Wildlife Reserve Singapore (WRS) – laporan tahunan yang bisa diakses siapa saja.

Dukungan agribisnis

Setiap kebun binatang memerlukan dukungan yang kuat dan berkelanjutan dari agribisnis dan agroindustri.  Perhatikan, berapa banyak sayur-mayur diperlukan oleh gajah, jerapah, zebra, unta, rusa, kuda nil, dan ratusan kijang setiap hari? Berapa ton buah-buahan untuk orangutan, beruk, siamang, monyet, kera, lutung, siamang, dan owa? Berapa banyak pula daging untuk singa, harimau, puma, leopard, ular, dan karnivora lainnya?

Kalau harga daging sapi naik dan kita menghadapi krisis pasokan di lapangan, bagaimana untuk hewan-hewan kita di taman margasatwa? Oleh karena itu, biasanya pemeliharaan ular dan burung hantu harus ditopang dengan peternakan marmut dan tikus. Penangkaran buaya memerlukan berkandang-kandang bebek dan ayam. Singa dan bermacam harimau perlu pasokan sapi, kambing dan babi hutan.  Kadal dan burung memerlukan ternak jangkrik dan seterusnya.

Awal dari kewajiban memberi pakan hewan ini dimulai dari Kebun Binatang London yang dibuka pada1825, dan mewajibkan pengunjung memberi pakan singa setara dengan seekor anjing atau kucing.  Setelah zaman semakin modern, setiap kebun binatang membentuk Friends of the Zoo—sahabat kebun binatang atau mitra satwa. Kini, bahkan persahabatan dengan hewan itu lebih diperinci:  pencinta kelelawar, pencinta beruang, dan pencinta reptil.

Intinya: teman satwa ikut memikirkan koleksi kebun binatang.  Mereka menjadi sukarelawan, konsultan probono, bahkan siap menampung limpahan warga kalau terjadi kelebihan (overpopulasi). Selain itu  setiap margasatwa memerlukan jejaring yang kuat dengan sesama kebun binatang, pemasok pakan, arsitek, pemborong dan pakar sains.

Kerjasama antara kebun binatang membuka peluang ekonomi, sosial, politik, dan teknologi tersendiri.  Pada bagian ini semua komponen masyarakat perlu memberikan kontribusi. Urusan pelestarian satwa memang bukan hanya melulu tugas dokter hewan, ahli lingkungan, dan peternakan. Ahli hukum dan aparat keamanan pun diperlukan untuk menangani masalah perundang-undangan dan menangkal perdagangan satwa ilegal. Ahli asuransi, perbankan, pakar transportasi juga berkepentingan.Itulah yang menjadi pekerjaan rumah para teman satwa setelah diadakan dialog publik menuju bangsa yang ramah satwa di Ragunan, pada Oktober 2013..*** (Eka Budianta)

*) Kolumnis Trubus sejak 2001, pengurus Tirto Utomo Foundation, advisor Jababeka Botanic Gardens

Previous articleNanas Negeri Formosa
Next articleSaatnya Besarkan Betok
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img