
Para pehobi jatuh hati pada sosok tarantula yang berbisa. Mereka menyelenggarakan kontes kali kedua.
Mitos tarantula satwa mematikan tak berlaku para pehobi. Mereka justru jatuh hati pada serangga anggota famili Theraposidae itu. Para pehobi di berbagai daerah bergabung dalam Tarantula Keeper Indonesia (TKI) itu menyelenggarakan kontes laba-laba di ajang Indo Pet Expo 2018. Acara berlangsung di Indonesia Convention and Exhibition Bumi Serpong Damai, Kota Tangerang Selatan, Banten, 6—8 September 2018.
Panitia membagi kontes menjadi 5 kategori, yaitu open arboreal untuk tarantula yang hidup di atas pepohonan, open terrestrial (tarantula yang hidup di atas permukaan tanah), juvenile-up enclosure (kelompok remaja berukuran 4—8 cm), the biggest tarantula (ukuran terbesar), dan sling enclosure (rumah anak tarantula). Banyak pengunjung antusias menyaksikan proses penilaian kontes untuk kali kedua itu.
Lima kelas
Tarantula Poecilotheria tigrinawesseli menjadi yang terbaik di kelas open arboreal. Pemilik satwa anggota famili Theraphosidae itu Geri Ahmad Dechya dari Jakarta. Juri kontes, Imunk, mengatakan, “Penilaian ini difokuskan pada postur tarantula arboreal yang proporsional khususnya di bagian tubuh yang meliputi mata, taring, dan pertemuan segmen dari delapan kaki tarantula yang disebut dengan karapas.”
Tarantula berukuran 10 cm itu berhabitat asli di Andhrapradesh, India. Geri jatuh hati pada sosok itu sejak 2014. Menurut Geri tarantula Poecilotheria tigrinawesseli tidak membutuhkan perawatan khusus sehingga cocok bagi masyarakat yang ingin memiliki hobi baru dan tidak ingin repot. “Pemberian pakan cukup sekali sepekan, tidak mengeluarkan aroma tidak sedap, dan tidak butuh ruang yang luas,” papar Melany selaku anggota aktif TKI.
Sepekan sebelum kontes, Geri memberi pakan berupa jangkrik. Di rumahnya, ia menempatkan tarantula itu di kandang (enclosure) akrilik. Adapun jawara kelas open terrestrial adalah Brachypelma hamorii. Spesies itu berasal dari Meksiko. Pemilik juga tidak melalukan perawatan berarti, hanya memberi pakan rutin berupa jangkrik atau ulat hongkong. Pengunjung paling antusias menyaksikan peserta kontes di kelas biggest. Harap mafhum, sosok tarantula di kelas itu sangat jumbo.
Tercatat ada 20 tarantula yang bersaing untuk menjadi yang terbaik. Menurut juri, penilaian kelas biggest bukan sekadar ukuran atau bobot yang besar. Namun, juri juga melihat panjang kaki, tubuh dan keterangan terkait nama, asal, tipe dan tingkat venom tarantula yang dikonteskan. Tarantula dengan sosok yang amat khas dengan warna hitam pekat, Grammostola pulchra asal Brasil menjadi yang terbaik di kelas itu.
Sosialisasi tarantula

Pada ajang pameran itu, panitia juga memberi informasi kepada para pengunjung. Menurut Melany tingkat venom atau bisa tarantula terbagi menjadi 3 tingkat, yaitu tingkat rendah, medium, dan tinggi. Venom rendah setara dengan gigitan semut. Spesies bervenom rendah misalnya dari keluarga Brachypelma atau Grammostola pulchripes. Venom medium setara dengan sengatan lebah dengan efek samping pembengkakan dan rasa nyeri di daerah gigitan. Contoh tarantula jawa Selenocosmia javanensis.
Sementara itu bisa tingkat tinggi setara gigitan kalajengking. Contoh spesies bervenom tingkat tinggi Pelinobius muticus dan Poecilotheria miranda. Dampak racun tingkat tinggi berupa pembengkakan hingga peningkatan suhu tubuh. “Meskipun terdengar ekstrem, bisa tarantula tidak mematikan. Tarantula juga tidak beracun sehingga selama tidak terjadi gigitan tidak akan ada efek samping yang berbahaya,” kata Melany.
TKI mengusung tema Tarantula Brotherhood and Unity pada pameran itu. Para pehobi menginginkan kecintaan terhadap tarantula menjadi pemersatu atas perbedaan seluruh anggota, baik profesi maupun karakter. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

