
Dalam perjalanan ke dunia hilang itu mereka diserang pterodactyl, hewan purba yang bisa terbang. Ajang pembuktian berubah menjadi pertaruhan hidup dan mati.

Cerita itu lahir saat Arthur terinspirasi perjalanan seorang penjelajah ke Gunung Roraima, sebuah tepui di dataran tinggi Guyana. Tepui adalah gunung yang puncaknya datar seperti meja. Sejak ditemukan Walter Raleigh pada akhir abad ke-16 belum ada yang berhasil mencapai puncak tepui. Dari 100 tepui yang terbentang sepanjang dataran tinggi Guyana-wilayahnya terdiri dari Venezuela di Selatan, Guyana di Barat, dan Brazil di Utara-hanya 4 yang mudah didaki, sisanya hanya bisa dikunjungi dengan helikopter. Pendaki menyerah karena tepui dikeliling tebing hingga ketinggian 1.000 m.

Baru pada abad ke-19 seorang penjelajah berhasil mencapai puncak dan mengupas wilayah yang belum pernah terjamah manusia itu. Tak heran bila kemudian tepui disebut sebagai dunia hilang. Namun, di puncak Gunung Roraima itu bukan dinosaurus yang ditemukan seperti kisah dalam novel The Lost World, tapi tanaman spektakuler yang tidak ditemukan di daerah lain. Sekitar 33% tanaman di masing-masing dataran tinggi itu endemik.

Ekstrim

Puncak tepui rata-rata berada di ketinggian 2.000-3.000 m dpl. Wilayah di ketinggian itu dingin dan kondisinya berkabut. Suhu siang hari berfluktuasi 6-250C dengan curah hujan tahunan minimal 9.000 mm. Pada malam hari suhu turun hingga beberapa derajat di bawah titik beku. Meski begitu tak satu pun dataran tinggi di sana tertutup es.
Curah hujan tinggi menyebabkan tanah tererosi dari puncak gunung sehingga tanah beserta nutrisi dan mineral di dalamnya hilang secara permanen. Akumulasi tanah hanya ditemui di area yang ternaungi hujan. Akibatnya sekitar 95% area puncak terdiri dari batu dan hanya ditutupi beberapa vegetasi. Hara terbatas membuat tanaman harus berkompetisi untuk bertahan. Tak ada satu individu pun yang dominan.
Iklim yang ekstrim juga menyebabkan pertumbuhan sebagian besar tanaman di tepui sangat lambat. Contohnya semak dari genus Bonnetia yang dalam klasifikasi tanaman merupakan tanaman tertinggi di puncak tepui. Namun, mereka justru tumbuh sebagai tanaman kecil seperti bonsai berumur hingga ratusan tahun.
Tanaman karnivora
Lingkungan miskin hara membuat tanaman karnivora paling banyak berkembang di puncak tepui. Tanaman karnivora bertahan hidup dengan cara menjebak mangsa sebagai pengganti nutrisi dari tanah. Tercatat ada 6 genera tanaman karnivora yang tumbuh di puncak tepui, yaitu Brocchinia, Catopsis, Drosera, Genlisea, Heliamphora, dan Utricularia. Dari ke-6 genera itu, Heliamphora merupakan yang paling besar dan paling spektakuler.
Heliamphora memproduksi daun berbentuk corong yang berisi air. Jenis terbesar panjangnya mencapai 45 cm. Daunnya indah berwarna kuning, jingga, ungu, dan hijau. Sebagian besar jenis heliamphora secara rutin menjebak semut, lebah, nyamuk, kupu-kupu, dan moth masuk ke dalam kantong lalu mengurainya jadi sumber hara.
Drosera juga banyak dijumpai di puncak tepui. Tercatat 8 jenis ditemukan tumbuh di Guyana. Semua embun matahari itu memproduksi daun berwarna merah tua yang dilengkapi tentakel bergerak yang ujungnya berair lengket seperti lem. Bila terkena sinar matahari, air tersebut berkilau sehingga serangga tertarik. Begitu serangga menyentuhnya mereka langsung terjebak di tentakel.
Gerakan untuk membebaskan diri malah mendorong daun menggulung perlahan hingga akhirnya membungkus serangga hingga mati kelelahan.
Tubuh kecil serangga terjebak di daun hingga beberapa hari. Saat itulah enzim yang disekresi dari kelenjar khusus di permukaan tentakel merusak tubuh korban dan langsung menyerap nutrisinya.
Dua genera dari bromeliads yang memiliki tangki air, Brocchinia dan Catopsis, beradaptasi seperti heliamphora dalam menjebak mangsa. Daun dari tank bromeliad karnivora secara kolektif membentuk corong berisi air yang dilengkapi aroma manis dan warna mencolok. Serangga tertarik pada daun roset, tapi permukaan daun berlilin dan diselimuti bedak putih. Akibatnya serangga terpeleset dan jatuh ke dalam daun dan tidak bisa kabur.
Anggrek
Selain tanaman karnivora, anggrek juga tumbuh di tepui. Jumlahnya sekitar 400 jenis endemik tepui. Umumnya mereka beradaptasi dengan tumbuh terestrial di permukaan tanah tipis atau langsung di batu. Padahal sebagian besar jenis anggrek tropis Amerika Selatan tumbuh epifit.
Cara unik dilakukan anggrek untuk bertahan di puncak tepui yang miskin hara. Mereka menjalin hubungan simbiosis dengan jamur mikroskopis-tumbuh di akar anggrek-yang secara aktif menyerap nutrisi langsung dari tanah atau batu. Hubungan ini memudahkan anggrek mendapat nutrisi. Sebagai balasan, jamur menerima karbohidrat dan komponen lain yang diproduksi anggrek melalui fotosintesis.
Akar anggrek sulit mendapat air karena batu atau substrat tipis tempatnya menempel tidak mampu menahan air. Untuk mengatasinya banyak jenis anggrek di tepui yang memiliki pseudobulbs sebagai tempat cadangan air ketika air langka. Akar juga diselimuti sel mati tebal atau velamen yang melindungi bagian dalam akar dari kekeringan. Velamen juga berfungsi mempercepat penyerapan air saat hujan.
Anggrek di tepui, memiliki daun kuat yang tahan embusan angin dan perubahan suhu yang cepat. Daun umumnya berwarna hitam atau ungu sehingga tahan terhadap sinar ultraviolet yang ekstrim sebagai komponen sinar matahari di dataran tinggi.
Pantas anggrek mudah ditemukan di puncak tepui. Bahkan sering mendominasi saat jenis tanaman lain tak mampu bertahan. Di lingkungan yang tak ada pesaing, populasi anggrek mencapai 40% dari jumlah total tanaman yang ada. Anggota famili Orchidaceae itu menjadi yang tercantik dan berbunga indah di tengah-tengah pemandangan tepui yang suram dan terpencil. ***
