Wednesday, August 10, 2022

Terpesona Naga Awan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Kumonryu hasil ternakan Trisna berkualitas primaKualitas kumonryu lokal bersaing dengan impor.

Trisna Usna Perlaya senang bukan kepalang saat kumonryu miliknya menjadi kampiun di kategori ukuran 18 cm pada 2nd All Indonesia Breeder Koi Show 2012 di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Itu kontes perdana Trisna dalam adu cantik-cantikan ikan samurai. Sang naga awan—makna kumonryu—menundukkan 30 koi lain saat lomba.

Kumonryu yang turun di kelas   kawarimono itu istimewa karena silangan lokal dari induk sesama kumonryu. Kini Trisna memiliki 4 kumonryu berukuran 40  cm dari total 100 ikan. Koi lain merupakan jenis kohaku, showa sanshoku, dan sanke. “Mayoritas pehobi masih menganggap koi Jepang lebih berkualitas daripada lokal. Padahal itu tidak seluruhnya benar. Buktinya banyak koi lokal jadi juara di lomba,” tutur penangkar koi di Bandung, Jawa Barat, Handrie Agoestiana.

Di tengah kota

Kemenangan kumonryu Trisna terus berlanjut. Pada 7th KOI-S Festival 2013 di Kuningan, Jakarta Selatan, 5 naga awan milik pria berkacamata itu sukses menjadi pemenang masing-masing di ukuran 15 cm, 22 cm, 27 cm, 35 cm, dan 45 cm. Sukses itu membuat Trisna sohor sebagai salah satu penangkar kumonryu berkualitas. “Bisa memijahkan dan menghasilkan kumonryu berkualitas itu bagus,” ujar Handrie.

Sejatinya Trisna pehobi koi murni. Artinya ia memelihara koi untuk kesenangan pribadi, bukan untuk menjual. Trisna menuturkan ia semula tidak berniat memijahkan koi. Pemijahan berawal pada 2004 saat salah satu kohaku berukuran 25  cm terlihat bunting. “Saya kaget ada koi yang bunting,” kata Trisna. Trisna merawat kohaku itu di kolam semen berukuran 1 m x 1m berkedalaman 0,5 m di depan rumahnya di Cepete, Jakarta Selatan.

Sayang saat kohaku itu bertelur 100% burayak mati termasuk sang indukan. Penyebabnya Trisna tidak memberi kakaban di kolam. Belajar dari pengalaman itu ia mulai serius mempelajari cara memijahkan koi dari pehobi dan buku. Setelah berulang-ulang gagal baru pada pemijahan ke-35 kali ia berhasil. Pada 2007 pemilik Doama Koi itu memanen 1.800 burayak dari sepasang kohaku.

Trisna mulai memijahkan kumonryu sejak 2011 di kolam semen. Ia tertarik memijahkan koi jenis itu karena berwarna unik. “Lazimnya koi berwarna cerah seperti merah, sedangkan kumon berwarna hitam dan berpola serta tidak memiliki sisik,” tutur pria yang hobi bermain drum di waktu luang itu. Menurut Trisna membiakkan kumonryu relatif mudah.

Supaya berhasil memijahkan kumonryu, Trisna menyiapkan kolam beton berukuran 3,5 m x 3,5 m berkedalaman 0,5 m. “Kolam itu untuk koi berukuran di atas 60 cm,” katanya. Sementara induk sepanjang kurang dari 60 cm dipijahkan di kolam fiber selebar 2 m berkedalaman 40 cm. Namun, Trisna lebih menyukai memijahkan kumonryu di kolam beton karena kualitas air lebih bagus.

Pria 54 tahun itu mengisi kolam beton itu dengan air ledeng yang telah diendapkan selama 2 hari untuk menghilangkan senyawa beracun. Sembari menunggu kolam siap pakai, Trisna mengecek calon induk berukuran panjang di atas 60 cm dengan pola hitam dan putih yang solid. Induk di atas 60 cm menurut Handrie matang gonad dan matang tubuh sehingga peluang menghasilkan koi berkualitas lebih tinggi. Betina matang gonad terlihat berperut buncit. Sementara jantan siap pijah bercirikan bagian pipi dan sirip depan kasar dan akan mengeluarkan sperma bila alat kelaminnya diurut.

Setelah kolam siap, Trisna memasukkan kakaban—ijuk yang dijepit dengan bilah bambu yang dipaku—ke kolam serta memasukkan induk jantan dan betina dengan perbandingan 3 : 1. Jantan lebih banyak untuk menghindari gagal membuahi betina. Fungsi kakaban sebagai tempat menempelnya telur koi biar menyebar dan tidak menumpuk.

Sukses

Trisna memijahkan koi pada malam hari. Keesokan hari ia mengangkat semua indukan dan meletakkan ke kolam lain yang dilengkapi pemanas yang disetel pada suhu 25—270C agar tingkat tetas telur tinggi di atas 90%. Telur menetas secara bertahap setelah 3—5 hari. Selanjutnya Trisna melakukan sortasi saat ikan berumur 3 pekan.

Dari sepasang induk Trisna memperoleh 500 ikan berkualitas. Ciri ikan berkualitas tubuh proporsional serta berwarna hitam dan putih cerah. “Yang kualitas super berjumlah 50 ekor.  Sepuluh dari jumlah itu disimpan sebagian calon induk,” ucap pria kelahiran 14 Desember 1959 itu. Kini  rata-rata dalam sebulan Trisna menjual  500  kumonryu seharga Rp250.000—Rp2,5-juta per ekor tergantung ukuran.

Menurut Handrie memijahkan koi di tengah kota seperti dilakukan Trisna memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan memijahkan koi di tengah kota antara lain si penangkar mudah memantau pemijahan dan menekan gangguan predator seperti burung dan linsang. Kekurangan membudidayakan koi di kota membutuhkan biaya besar untuk pembuatan kolam semen dan biaya listrik. Trisna mengeluarkan dana hingga Rp30-juta untuk kolam berukuran 3,5 m x 3,5 m.

Harap mafhum sangat sulit membuat kolam tanah di Jakarta karena terbatasnya tanah lapang. Lebih lanjut Handrie menuturkan waktu yang dibutuhkan agar koi siap jual di kolam semen lebih lama. “Jika di kolam tanah koi pada umur 4 bulan koi bisa berukuran 20—25 cm, di kolam tembok untuk ukuran itu dicapai berumur 6 bulan,” tutur Handrie.

Kunci keberhasilan pemijahan di kolam semen menurut pemilik Hanura Koi itu pada kemampuan menjaga suhu air 23—250C agar pertumbuhan koi maksimal. Selain itu menurut pehobi koi di Bogor, Jawa Barat, Roni Putra, induk menjadi kunci sukses lain memijahkan koi. “Induk bagus diperoleh dari koi asal Jepang,” kata pemilik Kabuki Koi Gallery itu. Kedua kunci itu yang membuat Trisna sukses memijahkan kumonryu. (Riefza Vebriansyah)

 

FOTO:

  1. Kumonryu hasil ternakan Trisna berkualitas prima
  2. Trisna Usna P sukses memijahkan kumonryu di Jakarta
  3. Kumonryu jawara lahir dari kolam sederhana di depan rumah
  4. Anakan koi di dalam bak fiber
  5. Kolam koi milik Hendrie di Bandung, Jawa Barat
Previous articleKolam Hijau
Next articleRezeki Monyet
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img