Thursday, August 18, 2022

Tingkatkan Mutu Madu

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Meningkatkan mutu madu dengan menurunkan kadar air madu dari 24% menjadi 18%.

Setiap pekan peternak lebah di Talangbakung, Jambi, Budiarto, menampung sekitar 300 kg madu dari petani. Setelah menyaring untuk membuang sisa kotoran, ia menuangkan madu itu ke loyang berukuran 20 cm x 20 cm x 5 cm. Kapasitas setiap loyang sekitar 0,5 kg madu. Selanjutnya ia menata loyang-loyang itu di 3 rak berukuran 1 m x 2 m x 1,8 m. Setiap rak 5 tingkat mampu memuat 150 loyang. Begitu madu dalam loyang tertata di rak, Budi menyalakan pemanas. Kipas listrik berdaya 100 watt mengembuskan udara panas ke dalam ruangan berukuran 2 m x   3 m berkapasitas 225 kg madu itu.

Perlahan, suhu ruangan naik menjadi 40—50°C. Selang 6 jam, kadar air madu turun dari 24% menjadi 22%. Jika proses dehidrasi atau pengurangan kadar air itu lebih lama sampai 12 jam, kadar air akan turun 18—19%. Menurut Ir H Bambang Soekartiko, wakil ketua Asosiasi Perlebahan Indonesia (API), kadar air 22% sesuai ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang kadar air madu kemasan. Sementara standar pasar Uni Eropa mensyaratkan kadar air maksimal 19%.

Mengapa madu perlu didehidrasi? Menurut Hadiono, petani lebah di Magelang, Jawa Tengah, madu berkadar air tinggi: encer, berwarna pucat, dan terasa masam lantaran cepat terfermentasi. “Saat kemarau, madu hasil panen berkadar air 24—26%. Pada musim hujan, angkanya melonjak hingga 28%,” kata Hadiono. Akibatnya daya simpan berkurang sehingga merugikan pengusaha. Itu sebabnya pengusaha membanderol madu berkadar air 25% hanya Rp38.000 per kg. Bandingkan dengan harga madu berkadar air 19% yang mencapai Rp60.000 per kg.

Gas

Menurut Ir Masruki Kabib MT, perancang dan produsen dehidrator madu di Kudus, Jawa Tengah, proses dehidrasi memerlukan udara panas yang bersih. Tujuannya agar madu tidak terkontaminasi abu atau aroma sisa pembakaran. Sumber udara panas berasal dari pembakaran berbagai jenis bahan bakar, mulai dari sekam, kayu, serbuk gergaji, minyak tanah, atau gas. “Pilihan bahan bakar bisa menyesuaikan dengan ketersediaan di daerah sekitar,” kata Masruki. Pemanasan selama 4 jam dengan suhu sekitar 40—50°C dapat menurunkan 1% kadar air dalam madu.

Alat penurun kadar air madu
Alat penurun kadar air madu

Tungku memiliki cerobong untuk membuang asap pembakaran sehingga tidak mengalir ke penyimpanan madu. Dengan cara itu, udara panas yang mendehidrasi madu terbebas dari abu atau bau bahan bakar. Prinsip kerja dehidrator mirip oven, yaitu mengalirkan udara panas ke bilik penyimpanan madu. Api tungku membakar pipa dan memanaskan udara di dalamnya. Kipas di pangkal pipa mendorong udara panas ke ujung pipa, memasuki bilik penyimpanan madu, lalu mengalir keluar lewat cerobong di atas bilik penyimpanan madu.

Untuk mengatur kecepatan kipas, Masruki memasang unit voltage selector. Ia juga melengkapi bilik penyimpanan madu dengan termometer yang ia pantau 1—2 jam sekali. Saat suhu melebihi 50°C, ia memperkecil nyala api sembari mempercepat putaran kipas sehingga udara segar memasuki bilik dan menurunkan suhu.

Masruki merancang dehidrator portabel berdinding baja nirkarat berkapasitas 400 kg madu. Ukuran bilik penyimpanan menyesuaikan keperluan. Jika menginginkan kapasitas lebih besar, bilik bisa diganti dengan ruangan berdinding tembok, seperti yang dilakukan Budiarto. “Yang penting tidak bocor,” kata alumnus Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia itu. Budiarto mengandalkan gas sebagai bahan bakar tungku. “Pembakaran bersih dan pengaturan nyala api mudah,” kata pria berusia 36 tahun itu.

Ia memproses seminggu sekali atau 4—5 kali sebulan. Setiap proses perlu 12 jam. Artinya, dalam sebulan ia hanya memerlukan 1—2 tabung gas ukuran 15 kg dan listrik 4,8—6 kWh untuk menggerakkan kipas. Jika harga gas Rp85.000 per tabung dan harga listrik Rp862 per kWh, total biaya untuk mendehidrasi 1.125 ton madu mencapai Rp175.000. Dengan harga madu 19% Rp60.000 per kg, Budiarto meraup keuntungan lebih banyak ketimbang menjual madu berkadar air 24—28%.

 

Dehumidifier

Nun di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Nurul Wahyuni SHut, periset di Balai Penelitian Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu menggunakan cara berbeda untuk mendehidrasi madu. Ia memanfaatkan bangunan dua ruang. Ruang pertama berukuran 2 m x 3 m berfungsi mendehidrasi madu. Sementara ruang kedua, berukuran 2 m x 1,5 m untuk menimbang dan mengemas madu. “Keduanya dibuat berdampingan agar madu terdehidrasi segera dikemas rapat dalam botol,” kata Nurul.

Maklum, molekul madu bersifat higroskopis alias menyerap partikel air dari udara. “Kontak dengan udara luar setelah dehidrasi bisa menyebabkan kadar air kembali naik. Itu sebabnya pengemasan harus segera dilakukan,” kata Nurul. Menurut Bambang Soekartiko, sifat higroskopis itu menyebabkan madu dari lingkungan dengan kelembapan rendah seperti di negara-negara di Benua Eropa dan Timur Tengah cenderung memiliki kadar air rendah. Sebaliknya, kelembapan tinggi di negara tropis seperti Indonesia dan Amerika Latin bisa menaikkan kadar air madu.

Bilik dehidrator rancangan Nurul mampu menampung 250 kg madu yang disimpan dalam 120 wadah berbentuk balok berukuran 30 cm x 20 cm x 5 cm. Bentuk wadah atau loyang itu bertujuan memperluas permukaan madu sehingga proses dehidrasi lebih cepat. Tinggi permukaan madu di setiap wadah 2 cm sehingga setiap wadah berisi 2 kg madu. Untuk proses dehidrasi, Nurul mengandalkan kipas penyedot, 1 unit dehumidifier berdaya listrik  700 watt, dan 1 unit pendingin ruangan berkekuatan 1 PK alias 800 watt. Untuk mencegah kebocoran, ia melapis dinding dengan busa poliuretan setebal 2—3 cm.

Prinsipnya mengontrol kelembapan ruangan pada 40% dan suhu 25°C. Penurunan kelembapan  menaikkan partikel air ke permukaan madu. Partikel air itu lantas diserap oleh dehumidifier. Sementara pendingin ruangan menjaga suhu pada 25°C. Makin luas bidang kontak antara madu dengan udara pengering, maka makin banyak partikel air terserap sehingga proses dehidrasi lebih cepat. Untuk menurunkan 5% kadar air madu, dehidrator itu membutuhkan 5 hari. Sayang, dehidrator ala Nurul terbilang boros. Bagaimana tidak, pendingin ruangan dan dehumidifier menyala 5 hari alias 96 jam nonstop. Konsumsi listrik mencapai 180 kWh sehingga biayanya mencapai Rp155-ribuan.

Kedua rancangan dehidrator itu mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Meski terbilang berbiaya rendah, dehidrasi dengan pemanas ala Masruki dan Budiarto berpotensi mengurangi kualitas madu. Menurut Bambang, proses dehidrasi dengan suhu lebih dari 40°C bisa memecah struktur enzim, mineral, vitamin, dan karbohidrat dalam madu. Ujung-ujungnya harga turun. Adapun dehidrasi cara Nurul, meski berbiaya tinggi, bisa mempertahankan kualitas madu. Pilihan cara dehidrasi pun terpulang kepada produsen madu. (Pressi Hapsari F)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img