Wednesday, August 10, 2022

Energi Berbasis Nabati

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Produksi kendaraan bermotor meningkat menuntut ketersediaan bahan bakar
Produksi kendaraan bermotor meningkat menuntut ketersediaan bahan bakar

Kebijakan Pemerintah menaikkan kadar biodiesel dalam solar bisa menjadi momen peralihan  sistem energi, dari sumberdaya fosil menuju sumberdaya terbarukan. Pada 1 September 2013, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengeluarkan peraturan baru lewat Peraturan Menteri Nomor 25 Tahun 2013. Peraturan Menteri  tentang penyediaan, pemanfaatan, dan tataniaga bahan bakar nabati  (BBN) terkait penggunaan biodiesel untuk solar itu sebenarnya merevisi peraturan menteri sebelumnya, yang dikeluarkan pada 2008. Sebelumnya, pencampuran solar dengan bahan bakar nabati masih 95% berbanding 5%, baik bioetanol maupun biodiesel. Artinya 5% biodiesel dicampur dengan 95% solar atau biasa disebut B5. Melalui peraturan baru itu, angka pencampuran dinaikkan menjadi 10% atau B10.

Kebijakan itu dibuat untuk menanggulangi konsumsi bahan bakar minyak. Pertambahan penduduk tahunan yang mencapai 1,3% ternyata dibarengi peningkatan jumlah kendaraan bermotor hingga 6% per tahun. Data Gabungan Industri Kendaraan bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, pada 2012, dari 1,1-juta unit mobil yang terjual, sebanyak 24% atau hampir 270.000 unit di antaranya merupakan mobil diesel.

Kurs dolar Amerika yang melambung hingga Rp11.290 juga menjadi alasan penting di balik penambahan BBN ke bahan bakar minyak. Menurut Faisal Basri dalam Seminar Outlook Industri Kimia, Februari 2013, ketergantungan terhadap bahan bakar minyak dan minyak mentah impor telah menjadikan neraca perdagangan Indonesia defisit. Itu untuk pertama kali dalam 50 tahun terakhir. Sementara Wakil Menteri ESDM, Susilo Siswoutomo menyatakan, produksi biodiesel mencapai 4,3-juta kiloliter dan mampu mensubsitusi 10% konsumsi bahan bakar transportasi dan pembangkit listrik. Menurut Susilo, pemanfaatan biodiesel itu bisa memangkas impor BBM hingga 80.000 barel per hari.

 

Pahang menghasilkan rendemen 40%
Pahang menghasilkan rendemen 40%

Lima kategori

Pemanfaatan bioenergi menjadi transisi sistem energi, yang semula mengandalkan sumberdaya fosil menjadi berbasis sumberdaya terbarukan. Dengan sendirinya, pengembangan industri bioenergi menjadi keharusan. Indonesia dengan keanekaragaman hayati yang tinggi potensial penghasil bahan bakar nabati. Ada 5 kategori tanaman energi. Kategori 1 adalah tanaman pangan dengan hasil samping biomassa berjumlah banyak. Misalnya kelapa sawit, kelapa, sagu, tebu, sorgum manis, jagung, dan hanjeli alias jali. Dari kategori itu, hanya sawit yang paling siap untuk diolah menjadi biodiesel. Sorgum manis dan hanjeli belum dikembangkan.

Tanaman kategori 2 menghasilkan bahan pangan dan cepat tumbuh seperti pohon kayu-bakar atau short-rotation coppice. Contoh kelor Moringa oleifera, kacang hiris Cajanus cajan, dan sukun Artocarpus altilis. Tepung buah sukun berpotensi mengganti tepung gandum, adapun kacang hiris berpotensi untuk bahan tahu dan tempe.

Ciri tanaman kategori 3 menghasilkan minyak-lemak nonpangan, tumbuh cepat, dan menghasilkan bahan-bahan kimia bioaktif. Contohnya pahang Pongamia pinnata, mimba Azadirachta indica, bidara Ziziphus mauritiana, dan nyamplung Calophyllum inophyllum. Pahang potensial lantaran rendemen minyak 30—40%, sehingga potensi produksi biosolar mencapai 5 ton/ha setahun. Tanaman yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia itu toleran air asin dan mampu mengikat nitrogen dari udara bebas. Selain itu, daun pahang bisa menjadi pakan ternak, sedangkan kayunya untuk perabot dan bahan bangunan. Bunga pahang juga menghasilkan madu dan kulit batangnya berkhasiat obat.

Kategori 4 menghasilkan lateks atau serat dan juga minyak-lemak nonpangan. Contohnya karet, guta-perca Palaquium gutta, dan randu Ceiba pentandra. Kategori 5 produktif menghasilkan minyak-lemak nonpangan dan dapat berfungsi untuk penghijauan, misal kemiri sunan Aleurites trisperma dan kemiri Aleurites moluccana. Untuk menghindari kompetisi pangan dan energi, periset mengembangkan bahan bakar nabati dari biomassa lignoselulosik seperti kayu, jerami, bagas, rumput-rumputan, dan tandan sawit kosong.

 

Hidrokarbon

Asam-asam lemak dan minyak-minyak lemak sebenarnya mengandung 85—90% hidrokarbon. Hidrokarbon adalah komponen utama penyusun solar. Itu sebabnya pengembangan teknologi untuk mengonversi minyak-minyak lemak menjadi hidrokarbon cair lebih mudah. Teknologi pengolahan minyak lemak lebih dahulu mencapai tahap komersial dan menjadi tulang punggung kelahiran industri biohidrokarbon alias hidrokarbon terbarukan.

Kini beberapa negara maju membangun kilang-kilang pengolah minyak-lemak nabati menjadi biohidrokarbon. Di Porvoo, Finlandia beroperasi pabrik biohidrokarbon berkapasitas 170.000 ton per tahun; Rotterdam, Belanda, 800.000 ton per tahun; dan Singapura 800.000 ton per tahun. Semua menggunakan teknologi dari Neste Oil, Finlandia. Sementara di Louisiana, Amerika Serikat, dengan teknologi dari UOP/Eni Ecofining (Amerika/Italia) mampu menghasilkan biohidrokarbon 300.000 ton per tahun.

Dr Tatang Hernas Soerawidjaja
Dr Tatang Hernas Soerawidjaja

Bagaimana dengan Indonesia? Wilmar Nabati Indonesia bekerja sama dengan Elevance Renewable Science asal Amerika Serikat tengah membangun pabrik berkapasitas 180.000 ton di Gresik, Jawa Timur. Salah satu produknya ialah bioavtur dengan teknologi metatesis olefin, yang memanfaatkan bahan baku dari pohon potensial penghasil minyak-lemak nabati non-pangan. *** (Dr Tatang Hernas Soerawidjaja)

*) Periset Pusat Penelitian Pendayagunaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Lingkungan, Institut Teknologi Bandung

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img