Sunday, August 14, 2022

Tubuh Bagus Ikan Gabus

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Channa asiatica white spot ukuran baby. Gabus hias asal Tiongkok.

Tren gabus hias mulai meningkat. Sosok yang menarik dan perawatan mudah menjadi alasan pehobi jatuh cinta.

Channa aurantimaculata tampil mencolok. Sosok gabus itu berwarna kuning bermotif titik-titik cokelat di bagian punggung. Di bagian sirip muncul warna biru. Paduan beragam warna itu amat seronok. Itulah gabus hias koleksi salah satu koleksi Kevin Hilarius. Pehobi ikan hias di Jakarta Barat, itu mendatangkannya dari Barata, India. Gabus elok itu memiliki karakter yang agfresif, ukuran tubuhnya dapat mencapai 8—55 cm.

Pehobi dan pebisnis gabus hias di Jakarta Barat, Kevin Hilarius.

Memelihara gabus hias itu menjadi tantangan tersendiri bagi Kevin karena berasal dari negara dengan empat musim. Agar dapat bertahan hidup, gabus harus beradaptasi dahulu selama 1—2 pekan. Menurut Kevin  ada juga gabus hias asal Indonesia. Biasanya berasal dari perairan Pulau Kalimantan dan Sumatera, tetapi warnanya kurang mencolok. Itu sebabnya peminat masih lebih tertarik pada gabus hias impor.

Permintaan melonjak

Menurut Kevin, pehobi perlu memperhatikan karakter jika hendak memelihara gabus hias. Adapun ukuran tubuh maksimal untuk menyesuaikan kebutuhan akuarium. Beberapa jenis membutuhkan kondisi dingin sehingga membutuhkan bantuan kipas atau ruangan berpendingin. Kevin Hilarius rutin mendatangkan gabus hias dari mancanegara sejak 2015. Satwa itu sejatinya jenis ikan konsumsi berubah menjadi ikan hias karena bersosok seronok.

Kevin tertarik berniaga ikan anggota famili Channidae itu karena perawatannya tergolong mudah. Pria 34 tahun itu mengatakan, pemeliharaan gabus tidak membutuhkan bantuan aerator. “Sebenarnya sejak 2010 gabus hias dari luar sudah banyak masuk, tapi belum booming,” kata Kevin.

Pria kelahiran 28 Desember 1986 itu mengatakan permintaan semakin meningkat. Pandemi virus korona pun menjadi salah satu penyebab. Pria 34 tahun itu mengatakan, setidaknya permintaan meningkat hingga 200%. Agar permintaan dapat terpenuhi, Kevin menambah volume impor. Semula 100—200 ekor setiap pekan. Kini meningkat 5 kali lipat setara 500—1000 ekor setiap kali mendatangkan ikan dalam sepekan.

Channa fire and ice, gabus hias asal Myanmar.

Ayah tiga anak itu mendatangkan gabus hias dari berbagai negara yakni Singapura, India, Myanmar, Thailand, Cina, dan negara-negara di Afrika. Setiap negara asal memiliki karakter gabus tersendiri. Berbeda musim di suatu negara memengaruhi ketersediaan gabus. Kevin menjual dengan harga Rp300.000—Rp45 juta tergantung jenis dan ukuran. Pembeli datang dari Indonesia maupun mancanegara.

Gabus hias Channa bleheri berasal dari India yang banyak digermari karena ukurannya yang kecil.

Pakan alami

Menurut Kevin, “Karena masih sulit untuk ditangkarkan, peminat banyak datang dari kalangan pehobi.” Pehobi lain asal Jakarta Timur, Yanuar Bayu, S.T., juga jatuh hati pada gabus hias. Pertama kali ia membeli sepasang Channa blue pulchra Rp600.000 pada pertengahan 2017. Pada akhir 2018 akhirnya ikan itu bertelur dan menghasilkan 700 burayak. Namun, hanya bertahan sekitar 160 ekor yang tumbuh hingga dewasa.

Pehobi gabus hias asal Jakarta Timur, Yanuar Bayu, S.T.

Blue pulchra berasal dari Myanmar. Sosoknya abu-abu kebiruan dengan bintik jingga. Pada sirip bawah berwarna biru solid dengan garis hitam di tepinya. Bagi Bayu memelihara gabus hias harus menjaga agresivitasya. Adapun caranya dengan pemberian pakan alami seperti cacing tanah, ulat jerman, ulat hongkong, kecoak, hingga ikan emas. “Pemberian pakan cukup 2—3 hari sekali. “Kalau terlalu berlebih khawatir jadi obesitas.” Kata pria kelahiran 18 Januari 1990 itu.

Menurut peneliti di Balai Riset Budidaya Ikan Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan, Dr. Adang Saputra, S.Pi., M.Si., terdapat sekitar 33 jenis gabus di dunia. 5—8 jenis di antaranya terdapat di Indonesia. Kini tren gabus hias meningkat karena ukurannya yang lebih kecil dan warna yang menarik. Karakternya tidak terlalu agresif seperti gabus konsumsi. Itu sebabnya keindahan sosok gabus hias lebih dapat dinikmati.

Doktor alumnus Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor itu mengatakan, di pasaran gabus hias dapat mencapai Rp35 juta bahkan lebih. Sudah banyak pehobi yang berusaha mengembangkan. Akan tetapi karena masih berupa tangkapan alam, butuh waktu lebih untuk adaptasi. “Riset terkait gabus hias pun masih minim, pemberian pakan juga harus banyak dicoba. Karena berbeda jenis pakan, berbeda kandungan,  yang bisa mempengaruhi pertumbuhan dan warna yang dihasilkan,” kata Adang. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img