Monday, August 15, 2022

Fakta Ilmiah Herbal Versus Korona

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Riset ilmiah membuktikan lima herbal berkhasiat mengatasi virus korona.

Lebah klanceng banyak memproduksi propolis untuk mengamankan koloni. (Foto : Majalah Trubus )

“Orang Indonesia, begitu merasa masuk angin, langsung mencari minuman hangat dengan jeruk nipis, jahe, atau campuran ketiganya,” kata dr. Prapti Utami, M.S. Saat tidak kunjung membaik, barulah mereka memeriksakan diri ke klinik atau rumah sakit. Hal serupa terbukti ketika pandemi korona melanda Indonesia. Pada Maret 2020, rimpang bahan jamu seperti temulawak atau jahe merah menjadi buruan masyarakat sampai harganya melambung.

Temulawak yang harga biasanya tidak sampai Rp10.000 per kg melonjak menjadi Rp15.000 bahkan Rp25.000 per kg. Jahe merah yang semula harganya Rp20.000 per kg melambung hingga Rp55.000 per kg di pasar eceran. Harga rimpang Zingiber officinale itu perlahan terkoreksi, lalu bertahan tinggi. Pada Februari 2021, harga rimpang jahe merah di Pasar Cisalak, Kota Depok, Jawa Barat Rp36.000 per kg. Salah satu pemicunya adalah peningkatan konsumsi akibat pagebluk korona yang tak juga reda. Fenomena itu membuktikan kebenaran pernyataan Prapti.

Bebas efek samping

Pemerintah Indonesia pun memberi lampu hijau kepada para periset untuk mengkaji potensi jahe merah guna mengatasi virus korona. Sejak Juni 2020, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bekerja sama dengan tim dokter Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat dan berbagai pihak lain melakukan uji klinis di Wisma Atlet. Mereka mengujikan dua kandidat obat, salah satunya adalah racikan yang berisi jahe merah, meniran, sambilata, dan daun sembung.

Jahe merah menghangatkan tubuh sekaligus menghambat virus pemicu covid. (Foto : Majalah Trubus)

Koordinator uji klinis dan peneliti bioteknologi dari LIPI, Masteria Yunovilsa Putra, S.Si., M.Si., Ph.D. menyatakan bahwa herbal-herbal itu berkhasiat memperbaiki kinerja sistem kekebalan tubuh atau imunomodulator. Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan spesialis penyakit dalam, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia menyatakan, bahan imunomodulator meningkatkan respons sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi patogen. Jika sistem imun ibarat tentara, imunomodulator berperan mengajari pasukan tentara itu untuk mengenali musuh.

Hampir setahun berlalu, pandemi virus korona tak kunjung reda sementara penelitian pun tidak bisa dipercepat. Masteria menyatakan, “Sementara jahe merah masih diarahkan untuk memperkuat daya tahan tubuh, perlu riset lebih lanjut atau uji klinis untuk spesifik Covid-19 di Indonesia.” Bukti dari pengalaman empiris justru datang duluan. Studi literatur oleh periset dari Universitas Islam Negeri Mataram, Nusa Tenggara Barat, Yuli Kusuma Dewi dan Baiq Amelia Yulandari mengungkap pemanfaatan jahe merah untuk virus korona.

Gingerol dalam jahe merah “mengikat” berbagai protein virus Covid-19 seperti protease, pengikat asam ribonukleat (RNA), dan protein spike (baca Jahe Merah untuk Virus Korona hal 26—29). Saat protein-protein yang menjadi “tangan” virus terikat, makhluk patogen itu tidak bisa menyerang. Kemampuan serupa juga ditunjukkan minyak kayu putih. Periset di Universitas Hue, Vietnam, Dr. Tran Thi Ai My dan rekan mengungkap terpineol, guaiol, dan linalool yang menyerang protein virus (baca Kayuputih Versus Korona hal 22—25).

Upaya “memborgol” protein virus pemicu korona juga dilakukan guru besar Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Surabaya, Prof. Dr. apt. Sukardiman, M.S., dan rekan. Mereka menguji potensi fitokonstituen sambilata Andrographis paniculata sebagai penghambat virus korona. Pengujian itu mengungkap setidaknya tiga zat yang potensial menghambat pelekatan virus korona. Ketiganya aman dan relatif bebas efek samping.

Zat lengket

Penganjur herbal di Bintaro, dr. Prapti Utami. (Foto : Majalah Trubus )

Prapti Utami lebih dulu meyakini khasiat sambilata. Dokter alumnus Universitas Diponegoro itu mengolahnya menjadi kapsul. Konsumen tidak perlu mengerenyit menahan sensasi pahit daunnya. Konsumsi kapsul sambilata—plus berbagai herbal lain dan makanan sehat—efektif membalik hasil uji usap dari positif menjadi negatif dalam lima hari (baca Sambilata Lawan Korona hal 10—13). Tidak hanya manusia yang memerlukan kemampuan mencegah virus.

Lebah nirsengat pun menghadapi ancaman virus sehingga mereka mengembangkan kemampuan memproduksi sendiri zat antivirus. Klanceng membentengi sarangnya dengan zat lengket bernama propolis yang berbahan getah tanaman. Ternyata manusia pengidap covid pun sembuh lebih cepat kalau mengonsumsi propolis. Asupan 800 mg propolis mempersingkat masa opname pengidap covid di rumah sakit Sao Rafael, Bahia, Brasil. Muhamad Sahlan dan tim dari Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia mengungkap zat glyasperin A dan broussoflavonol F dalam propolis dari klanceng di Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

Pengajar di Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang, Prof. Dr. Apt. Almahdy, mengatakan setidaknya ada tiga khasiat propolis, yaitu antioksidan, antiperadangan, dan antivirus. “Di mana pun propolis itu berada, fungsinya untuk melindungi pupa dengan sifat antibakteri, antivirus, antifungi, dan antiprotozoa,” kata Almahdy. Sifat lengketnya menjebak predator yang menyusup ke dalam sarang. Selagi menanti giliran menerima vaksin, konsumsi herbal-herbal tersebut dapat membantu menangkal covid. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: M Fajar Ramadan, Riefza Vebriansyah, & Sinta Herian Pawestri)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img