Wednesday, September 28, 2022

Tuna Tumbuh di Jaring Apung

Rekomendasi
Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP) Gondol, Bali, sukses membenihkan tuna untuk kali pertama di Indonesia.
Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP) Gondol, Bali, sukses membenihkan tuna untuk kali pertama di Indonesia.

Sukses budidaya tuna untuk mengantisipasi berkurangnya tuna di alam.

Permukaan air laut yang semula tenang dalam sekejap menjadi “gaduh” ketika salah satu pekerja di Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Keluatan dan Perikanan (BRSDMKP) Gondol, Provinsi Bali, melemparkan ikan rucah ke dalam sebuah keramba. Menjelang pukul 13.00 WITA itu memang waktu pemberian pakan. Ikan di dalam keramba menyambar umpan dengan ganas.

Harap mafhum penghuni keramba berbentuk lingkaran itu sekitar 100 tuna sirip kuning berbobot masing-masing 60 kg. Yang paling istimewa ikan anggota famili Scombridae itu hasil pembesaran BRSDMKP Gondol dari benih tuna berbobot 0,5 kg. Kepala BRSDMKP, Ir. Bambang Susanto, M.Si., mengatakan tuna komoditas ekspor bernilai ekonomis tinggi.

Tangkapan menurun
Sayangnya, “Tuna dieksploitasi di alam dan populasi ikan itu menurun dari tahun ke tahun,” kata Bambang. Nelayan asal Desa Melaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali, Ahmad Zaid, heran tangkapan tuna di perairan Jembrana, Bali, terutama bagian timur, berkurang sejak 2014. Buktinya pada Agustus—September 2016 Zaid hanya memperoleh sekitar 15 ekor berbobot 1—2 kg.

Direktur PT Gani Arta Dwitunggal, Andi Jayaprawira Sunadim, “Masa penggunaan KJA Aquatec lebih dari 30 tahun.” (Foto: Jayaprawira Sunadim)
Direktur PT Gani Arta Dwitunggal, Andi Jayaprawira Sunadim, “Masa penggunaan KJA Aquatec lebih dari 30 tahun.” (Foto: Jayaprawira Sunadim)

Sementara pada Agustus—September 2013 ia mendapatkan sekitar 20 tuna berbobot 3—4 kg. Menurut Zaid Agustus dan September memang musim tuna. Artinya banyak kihada—sebutan tuna sirip kuning di Jepang—berkeliaran di lautan. “Teman-teman nelayan lain juga mengeluhkan berkurangnya hasil tangkapan tuna,” kata pria yang menjadi nelayan sejak 1989 itu.

Anggota staf pengajar di Program Studi Budidaya Kelautan, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali, Kadek Lila Antara, S.Pi., M.P., mengatakan, salah satu faktor anjloknya hasil tangkapan tuna yaitu populasi ikan yang menjadi pakan seperti sarden pun menurun. Kualitas air laut, polutan, dan pemanasan global beberapa faktor pemicu berkurangnya sarden.

Oleh karena itu, pemerintah Indonesia melalui BRSDMKP Gondol menjalin kerja sama dengan Jepang dalam bentuk penelitian pembenihan tuna sirip kuning pada 2001—2010. Hasil penelitian itu tim berhasil mengembangkan teknik penangkapan, transportasi, aklimatisasi calon induk, pemeliharaan induk, pemijahan, dan pemeliharaan larva tuna.

Pada 2008—2010 BRSDMKP Gondol juga bekerja sama dengan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR). Hasilnya diperoleh peningkatan efisiensi teknik penangkapan dan transportasi calon induk. Intinya hasil penelitian menunjukkan BRSDMKP Gondol berhasil membenihkan tuna kali pertama di Indonesia. Rencananya prestasi itu akan diabadikan dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).

Pembesaran tuna sirip dalam keramba berasal dari tuna berbobot 0,5 kg. Lokasi pengambilan tuna muda sekitar 24 kilometer di perairan lepas pantai Bali Utara pada 2013. Petugas menggunakan pancing ulur dan umpan buatan untuk memperoleh ikan kerabat tuna sirip biru selatan Thunnus maccoyii itu. Menurut peneliti tuna di BRSDMKP Gondol, Ananto Setiadi, waktu pemancingan tuna maksimal 2 jam. Lebih dari itu tuna berisiko mati.

Keramba

Petugas memberikan ikan rucah sebagai pakan untuk indukan tuna.
Petugas memberikan ikan rucah sebagai pakan untuk indukan tuna.

Ananto dan tim mendapat 3—5 ekor dalam sekali perjalanan. Mereka menempatkan tuna sirip kuning dalam bak berbentuk oval dan bervolume 2 m3. Bak juga dialiri air laut dan oksigen terus-menerus. Sebelumnya tim peneliti menyasar tuna berbobot lebih 5 kg sebagai calon indukan. Pencarian tidak dilanjutkan karena ikan yang diidentifikasi pada 1788 itu mati saat di perjalanan pulang. Setelah itu tim mengambil tuna berbobot 1—2 kg.

Hasilnya sama. Tuna sirip kuning mati ketika di bak penampungan. Menurut koordinator peneliti utama bidang teknologi budidaya laut, Drs. Bejo Slamet, M.Si., bobot 0,5 kg ideal untuk pembesaran calon induk. Bejo dan Ananto memberikan ikan rucah seperti lemuru dan layang sebagai pakan. Frekuensi pemberian pakan sekali sehari. Jumlah pakan yang diberikan 3—5% dari total bobot ikan.

Di keramba terdapat sekitar 100 tuna berbobot 60 kg. Artinya total biomassa ikan 6 ton sehingga tuna mendapat 180—300 kg ikan rucah. Menurut Bejo pemilihan lemuru dan layang karena kandungan omega 3 yang bagus untuk pembentukan telur tuna. Tuna mulai bertelur pada 2015. Pembenihan dan pendederan ikan kerabat tuna sirip biru atlantik Thunnus thynnus itu masih dalam penelitan.

Kepala BRSDMKP, Ir. Bambang Susanto, M.Si.
Kepala BRSDMKP, Ir. Bambang Susanto, M.Si.

Tuna asal telur hasil pemijahan di keramba paling besar berbobot lebih dari 1 kg. Bambang berharap pada 2020 sudah ada upaya pendederan dan penggemukan tuna. Pemeliharaan tuna di dalam keramba jaring apung (KJA) pun hal baru di Indonesia. Lazimnya nelayan dan kapal penangkap ikan mendapatkan Thunnus albacares di tengah laut. Dr. Ono Kurnaen Sumadhiharga, M.Sc., dalam buku Ikan Tuna, menyatakan, tuna termasuk ikan epipelagis yang menghuni lapisan atas perairan samudera.

Cegah benturan
Yellowfin tuna—sebutan tuna sirip kuning di Inggris—menghabiskan 85% waktunya di kedalaman kurang dari 75 m. Pemasangan keramba oleh BRSDMKP dilakukan di perairan lepas pantai berkedalaman air 30—50 m. KJA terdiri alat pelampung berupa pipa berbahan high density polyethylene (HDPE). Jaring HDPE bermata jaring 3,5 inci, dan 12 jangkar besi agar keramba tidak bergerak.

Menurut Bejo KJA cocok untuk memelihara tuna. Musababnya risiko kematian tuna sirip kuning karena membentur dinding bak pemeliharaan berkurang. Pada awal penelitian tim mengembangkan tuna dalam tangki pemeliharaan berdiameter 18 m dan kedalaman 6 m. Air yang digunakan saat itu menggunakan sistem resirkulasi. Ketika air terkontaminasi parasit telur tuna pun tidak selamat sehingga pembenihan gagal.

Drs. Bejo Slamet M.Si (tengah) dan Ananto Setiadi (kanan) peneliti tuna di BRSDMKP Gondol, Bali.
Drs. Bejo Slamet M.Si (tengah) dan Ananto Setiadi (kanan) peneliti tuna di BRSDMKP Gondol, Bali.

Kendala itu teratasi ketika budidaya tuna di KJA berdiamater 50 m karena parasit tidak tahan dengan arus besar. Menurut Direktur PT Gani Arta Dwitunggal, Andi Jayaprawira Sunadim, KJA yang digunakan BRSDMKP Gondol adalah produknya dengan merek Aquatec. “Kelebihan lain KJA Aquatec itu yakni ramah lingkungan, dapat dipasang di laut lepas, tahan ombak 4 meter, serta mudah dan cepat dirangkai di lapangan,” kata Andi.

Masa penggunaan KJA Aquatec itu lebih dari 30 tahun, sedangkan masa pakai jaring 8—10 tahun. Produk itu kreasi anak negeri dan dijamin berkualitas prima. Buktinya PT Gani Arta Dwitunggal mengekspor KJA bundar submersible offshore ke Tiongkok pada Juni 2017. Keramba submersible offshore berdiameter 25 m itu dapat ditenggelamkan sedalam 15 m ketika badai datang dan diapungkan kembali ketika badai reda. KJA itu juga mampu menghadapi ombak setinggi 11 m.

KJA cocok untuk budidaya tuna.
KJA cocok untuk budidaya tuna.

Menurut Andi teknologi keramba submersible offshore buatan Aquatec adalah yang pertama di Asia. Inovasi lain perusahaan yang berdiri pada 1972 itu yakni produk tuna pakan mandiri (TPM). Produk itu hasil kerjasama dengan Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. TPM adalah sarana keramba apung bongkar pasang yang dilengkapi teknologi atraktor. Tujuannya menarik perhatian tuna dan ikan makanan tuna masuk ke dalam perangkap. Teknologi ini mampu mengurangi kebutuhan konsumsi ikan tuna 30—50%. (Riefza Vebriansyah)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Radio Kayu dan Sepeda Bambu Kreasi Alumni ITB

Trubus.id — Singgih Susilo, alumni Desain Produk Institut Teknologi Bandung (ITB 86) membuat kreasi unik berbahan dasar kayu dan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img