Sayuran kemudian dicuci, disortir, dan dimasukkan ke plastik ukuran 1 kg. Menjelang sore, kumpulan plastik itu sudah tertata rapi dalam styrofoam berisi es batu siap kirim ke Jakarta.
Sekitar 10 jenis sayuran dibudidayakan di rak bertingkat alias vertikultur di kebun 750 m2 itu. Delapan baris rak terbuat dari bambu sepanjang 7,5 m berjajar rapi. Setiap rak terdiri dari 2 tingkat selebar 60 cm. Di atasnya berderet bungkusan berwarna putih berisi sabut kelapa atau cocopeat yang sudah dipadatkan sebagai media tanam. Dari situlah tumbuh beraneka jenis sayuran daun.
Di bagian atas rak dipasang atap plastik berbingkai bambu berukuran panjang 1 m dan lebar 60 cm. Di setiap ujung atap ditambahkan tali berwarna jingga. Untuk menyesuaikan sirkulasi udara dan sinar matahari, pada saat tertentu tali dimainkan untuk mengatur posisi kemiringan atap. Dengan atap yang bisa digerakkan, kelembapan udara dapat dikontrol. Kemiringan bisa disesuaikan dengan arah angin, sehingga sirkulasi udara lancar. Dengan demikian serangan cendawan dapat dicegah.
Penanaman memakai sistem tumpangsari, sehingga setiap Sabtu dan Minggu selalu ada jenis yang dipanen. Produk organik asal lereng Gunung Burangrang itu dijual ke Jakarta. Karena baru berproduksi selama 6 bulan, pemasaran sayuran berlabel Royal Sun Garden itu masih terbatas. Konsumen baru bisa menjumpainya di sebuah gerai organik di kawasan Jakarta Barat. Sebuah kemasan berbobot 2 ons dijual Rp25.000—Rp30.000. Setiap pekan Sunandi mengirim 40—50 kg sayuran, masing masing 10 kg per item. Produk itu langsung tandas dalam 2 hari.
Pengalaman pribadi
Ide vertikultur organik didasari pengalaman pribadi. Akhir 1990, Erni Kertawijaya, istri Sunandi, sering terserang penyakit kulit. Setiap selesai mengkonsumsi sayuran dari pasar, timbul bentol-bentol merah di sekujur tubuh. Kulit Erni sangat sensitif terhadap residu kimia dalam sayuran itu. Maka mau tidak mau keluarga berputri 2 itu harus mengubah makanan yang dikonsumsi. Sayuran diusahakan berasal dari penanaman alami. Sayang, saat itu sulit sekali mendapatkan sayuran organik. Akhirnya pekarangan di belakang rumah menjadi tempat uji coba Sunandi dan istrinya. Vertikultur menjadi pilihan lantaran luas halaman terbatas.
Makin lama keasyikan berkebun organik kian terasa. Bersama istrinya lelaki kelahiran Subang, 28 Agustus 1953 itu lantas mengembangkan sayap, menjadi pekebun organik skala luas. Ada 3 lokasi yang dipilih; Ciater, Kabupaten Subang, Lembang, dan Cisarua. Ketiganya ada di daerah Bandung, Jawa Barat. Ketinggian lokasi berkisar 1.200—1.400 m dpl. Jenis tanaman disesuaikan ketinggian tempat. Di Lembang ditanam stroberi dan sayuran di Ciater dan Cisarua. “Semuanya di lahan dengan luas kurang dari 1.000 m2,“ ujar Sunandi. Untuk alasan ekonomis, kerangka vertikultur dibuat dari bambu.
Media sengaja dipilih dari cocopeat. Pasalnya, tanah rentan digunakan untuk budidaya organik. “Tetap ada residu bahan kimia dalam tanah, kecuali setelah diistirahatkan selama beberapa tahun,” ungkap Sunandi. Akhirnya setelah mencari referensi dan berdiskusi dengan kolega, pilihan jatuh pada cocopeat.
Bioorganik
Selain alasan menjaga keaslian organik, cocopeat punya beberapa kelebihan. Media yang dijuluki bioorganik itu tidak merusak alam, limbahnya bisa digunakan lagi, mudah didapat, dan bisa menjadi habitat mikrobamikroba berguna.
Dibanding tanah, cocopeat menyimpan kadar oksigen lebih tinggi, mencapai 50%. Tanah hanya 2—3%. Ini terjadi karena struktur cocopeat yang penuh rongga kapiler. Pada kapasitas penuh, media bisa menahan air hingga 6 kali bobotnya. Media bisa digunakan terus selama 1 tahun. Setelah itu media usang, sehingga perlu diganti. Sisa media tidak terbuang percuma, ia bisa dibenamkan ke dalam tanah sebagai penambah hara.
Di sebuah pabrik di Tasikmalaya, Jawa Barat, sabut kelapa diproses menjadi cocopeat berukuran 15 cm x 15 cm x 55 cm setebal 2,5 kg. Di bagian atas diberi 3 atau 4 lubang berdiameter 6 cm untuk tempat tumbuh tanaman dan tempat menyiram.
Tanaman di media itu ternyata tumbuh subur. Daun hijau lebat dan sehat. Pupuk organik diberikan dalam bentuk granular. Hara terbuat dari bungkil kedelai, tulang ikan, dan limbah organik lain. “Bisa juga ditambahkan EM4 atau pupuk organik cair,” lanjut Sunandi. Setiap hari 5 liter air dialirkan melalui corong bekas kemasan air mineral yang dipasang di salah satu lubang cocopeat.
Di bagian bawah rak—cahaya tidak bisa optimal masuk—digunakan untuk menanam kailan, pakcoy, dan horenso. Media yang digunakan bukan cocopeat seperti rak di atasnya, melainkan campuran ampas media jamur, sabut kelapa, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 3:3:2:2.
Dengan perpaduan sistem vertikultur dan organik, kualitas dan kuantitas sayuran yang dihasilkan meningkat. Tak heran jika permintaan dari konsumen di Jakarta kian melambung. Sunandi dan istrinya pun bisa bernafas lega menatap hijaunya hasil vertikultur organik. (Laksita Wijayanti)
