Tuesday, November 29, 2022

Sumber Biodiesel di Pekarangan

Rekomendasi

Beberapa tahun ke depan biji Persea americana pasti bakal jadi rebutan. Ekstrak biji alpukat mengandung fatty acid methyl esters yang berpotensi sebagai bahan bakar alternatif; avocado biodiesel.

Sebutir buah sejuta manfaat sesaat lagi bakal disandang alpukat. Ketebalan buah yang menggiurkan berpadu dengan kegunaan biji sebagai bahan bakar alias bio energi. Kelak bukan mustahil mobil berbahan bakar minyak alpukat akan melintas di jalanan layaknya mobil biasa.

Itu sudah terjadi di Amerika Serikat sejak akhir 2004. Serombongan ekolog yang dipimpin Zak Zaidman melakukan perjalanan dari California ke Costarica berkendaraan bus berbahan bakar biodiesel alpukat. Bus keluaran sebuah pabrik di Amerika Serikat tahun 1974 itu diisi 130 l minyak alpukat.

Bus melintasi Guatemala, El Salvador, Honduras, Nicaragua, dan terakhir Costarica dengan bahan bakar tersisa 55 l. Itu karena kadar belerang dalam Persea americana kurang dari 15 ppm (kadar belerang solar umumnya 1.500—4.100 ppm) sehingga pembakaran berlangsung sempurna. Emisi CO dan CO2 bisa ditekan sehingga polusi udara pun bisa dikurangi.

Beragam penelitian mendukung penggunaan minyak alpukat sebagai biodiesel. Th e National Biodiesel Foundation (NBF), telah meneliti potensi buah persea sebagai bahan bakar sejak 1994. “Alpukat mengandung lemak nabati yang tersusun dari senyawa alkyl esters,” papar Joe Jobe, executive director NBF. Bahan esters itu memiliki komposisi sama dengan bahan bakar diesel solar, bahkan lebih baik nilai cetanenya dibandingkan solar. Pantas bila gas buangannya pun lebih ramah lingkungan.

Banyak pilihan

Tak hanya alpukat yang bisa diekstrak menjadi biodiesel. Beragam tanaman lain berpotensi serupa. Sebut saja kelapa sawit Elaeis guineensis. Hasil perasannya mengandung senyawa yang tergolong monoalkil ester atau metil ester dengan panjang rantai karbon 12—20. Itulah yang membedakannya dengan petroleum diesel (solar) yang komponen utamanya karbon.

Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI), Bogor, Jawa Barat, mengujicobakan mesin palm biodiesel sejak 1992. “Dengan kecepatan konstan, konsumsi mesin, baik dengan solar maupun biodiesel hampir sama,” ujar Tjahjono Herawan dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit LRPI. Bahkan penggunaan minyak sawit mampu mengurangi emisi karbon monoksida dan yang pasti bebas sulfur. Sebab, minyak sawit tidak mengandung sulfur dan tanpa karbondioksida.

Zea mays alias jagung juga berpotensi diperas sebagai biodiesel. Selain biji, kulit dan batangnya mengandung etanol. Unsur itu dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan atau untuk pencampur bensin sehingga dihasilkan gasohol.

Etanol istimewa lantaran tingkat oktannya lebih tinggi (104 RON) dibandingkan dengan bensin biasa (95—98 RON). Saat dicampur dengan bensin, maka kadar oktan bensin akan meningkat tiga angka, hasilnya kinerja mesin juga akan meningkat. Selain itu, penggunaan gasohol juga membuat busi dan pelumas mesin tetap bersih karena pembakarannya lebih sempurna.

Kementrian Riset dan Teknologi (RISTEK) turut mengeluarkan bahan bakar minyak alternatif guna menekan penggunaan BBM. Hanya saja gasohol dari kementrian RISTEK menggunakan singkong sebagai bahan dasar.

Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT, Wahono Sumaryono, menjelaskan, bahan gasohol adalah singkong yang diproses menjadi ethanol anhydrous 99% atau bioetanol fuel grade (FGE). FGE dapat dicampur bensin hingga 20%, sebagai aditif atau pengganti bahan bakar otomotif tanpa harus mengubah mesin yang sudah ada.

“Beberapa negara yang telah lama mengaplikasikan gasohol antara lain Amerika Serikat, Kanada, India, Cina, dan Th ailand, serta Brazil dengan etanol murni,” ujarnya. Guna memperlancar produksi biodiesel itu, diperlukan kepastian ketersediaan singkong secara terus-menurus. Namun, hingga saat ini belum ada pabrik etanol di Indonesia yang mampu memproduksi FGE.

Selain singkong, kelezatan kakaoTh eobroma cacao ternyata selezat manfaat yang didapat. Selain sehat bijinya mengandung 54—58% minyak lemak dari bobot kering. Sama halnya dengan jagung, minyak biji kakao mengandung etanol yang juga berpotensi sebagai bioenergi.

 

Tanaman lain yang bisa diekstrak sebagai biodiesel: mimba Azadirachta indica yang 50% daging bijinya mengandung minyak lemak. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Laut dan Terestrial bekerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Institut Teknologi Bandung, melakukan ekstraksi alkohol pada daging biji nimba. Hasil ekstraksi berupa bungkil alkohol bila diperah menghasilkan minyak nimba. Melalui proses metalonisis atau etalonisis alias penghancuran alkohol akan dihasilkan biodiesel yang berkualitas.

Alkoholisis

Senyawa asam lemak dalam biodiesel dibuat melalui alkoholisis atau transesterifi kasi trigliserida dengan metanol/etanol. Tiap molekul trigliserida mengandung tiga gugus asam lemak. Jadi, setiap mol trigliserida yang terkonversi atau termetanolisis akan dikonsumsi tiga mol metanol, dan menghasilkan satu mol gliserin, serta tiga mol ester metil asam-asam lemak. Asam-asam lemak itulah yang bisa digunakan sebagai bahan bakar.

Produk biodiesel mentah yang dihasilkan dari proses metanolisis biasanya harus dimurnikan dari pengotor-pengotor seperti sisa-sisa metanol, katalis, dan gliserin. Itu dilakukan dengan menempatkan biodiesel mentah dalam wadah, disemprot air perlahanlahan dari bagian atas. Selanjutnya tetesan air itu akan bergerak ke bawah sambil membersihkan biodiesel dari pengotorpengotor itu. Jadi, bersiap-siaplah untuk segera mengendarai mobil berenergi biodiesel yang ramah lingkungan. (Hanni Sofi a)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mencetak Petani Milenial, untuk Mengimbangi Perkembangan Pertanian Modern

Trubus.id — Perkembangan pertanian modern di Indonesia harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dalam hal ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img