Sunday, November 27, 2022

Wang Shun Te : Cerita Pilu Penemuan Cryptomonadales

Rekomendasi

Betapa tidak, guru besar Pingtung Technology University-perguruan bergengsi di Taiwan selatan-itu meninggalkan kampus dan meriset untuk menemukan alga baru. Pada awal riset, rata-rata Wang menghabiskan waktu hingga 12 jam sehari. Ia tak mengenal hari libur. Meski demikian banyak koleganya pesimistis. Para dosen berkomentar, ‘Pekerjaan sia-sia karena mencari sesuatu yang tidak akan berhasil. Kalau berhasil menemukan pun, belum tentu orang mau coba dan belum tentu ada manfaatnya bagi orang.’ Namun, pendirian Wang teguh. ‘Saya mempunyai tekad bulat sehingga kalau belum berhasil saya akan coba terus.’

Selama 30 tahun meneliti alga sejak 1977, tak terbilang dana yang dihabiskan Wang. Angka persis memang tak ada. Yang ia ingat, dana US$16.000 dibenamkan untuk membangun perusahaan, Chlorella International Co Ltd di bilangan Changhua, 4 jam perjalanan ke arah selatan Taipei. Namun, menurut perkiraannya lebih dari ratusan juta NT. Satu NT setara Rp270. Saking banyaknya uang yang dihabiskan, sampai-sampai ayahnya berujar, ‘Anak saya bukan cuma kamu. Kamu jangan habiskan semuanya, nanti saudara yang lain tidak kebagian,’ kata Wang mengulangi ucapan sang ayah. Ayahnya pengusaha properti di Taipei, Taiwan, yang sukses.

Ditinggal anak

Mengetahui ayahnya mati-matian meneliti alga, Chin Yang-sang anak-berniat membantu. Ia yang baru saja menyelesaikan pendidikan pascasarjana di Amerika Serikat segera pulang ke Taiwan. Hasrat menempuh pendidikan doktor dihentikan. Namun, sepekan di tanah kelahiran, prahara berupa badai menyapu Taiwan hingga menjemput ajal. Sebuah tiang listrik roboh dan menghantam Chin Yang hingga meninggal dunia. Tragedi itu terjadi ketika Wang hampir saja merampungkan riset sehingga menggoreskan kesedihan mendalam baginya. Anak satu-satunya itu pergi ke pangkuan Yang Esa.

‘Bila saya tidak tergila-gila dengan cryptomonadales, anak saya mungkin masih hidup,’ ujarnya pilu kepada Trubus pada penghujung musim semi yang menggigilkan tubuh itu. Tak lama berselang, riset 3 dasawarsa itu menghasilkan cryptomonadales Chlorella sorokiniana. Alga berukuran supermini, 4 mikron, itu sesuai dengan yang diharapkan. Kandungan senyawa aktif amat lengkap seperti fikosianin, CGF alias chlorella growth factor, dan Peroxisome Proliferator Activated Reseptors (PPARs).

Semua berfaedah bagi sistem kekebalan tubuh. Belum lagi kandungan mineral dan vitamin yang tak kalah lengkap. Toh, kehebatan itu tak serta-merta mudah diterima konsumen dan pedagang. Buktinya, saat ia menawarkan temuannya, seorang pedagang justru mengusirnya. Padahal, sebelum dipasarkan chlorella itu melalui uji ilmiah seperti invitro dan invivo.

Telanjur melangkah, mantan dosen Biomedical itu memberikan gratis produknya selama 6-12 bulan kepada beberapa agen. Setelah merasakan khasiat Chlorella sorokiniana, konsumen akhirnya menerimanya. Pria kelahiran 6 Oktober 1937 itu mencoba peruntungan di mancanegara. Negara pertama yang ia sasar adalah Korea Selatan. Seperti di Taiwan, konsumen negeri Ginseng itu juga semula menolak chlorella. Namun, 6 bulan berselang produknya dapat diterima sehingga memberikan omzet US$500.000. Pendapatannya dari negeri jiran itu melambung menjadi US$1-juta hasil penjualan tablet chlorella dan ekstrak PPARs.

Kini hasil temuan Wang itu tersebar di 21 negara di 4 benua, seperti Indonesia, India, Australia, Jerman, Inggris, Amerika Serikat, dan Meksiko. Total produksinya mencapai 10-14 ton pada musim panas; 2 ton, musim dingin. Wang yang bertubuh mungil itu membiakkan alga di kolam-kolam berbentuk bundar dengan diameter 20-30 m. Kedalamannya 50 cm. Dari kolam itulah ia menangguk omzet rata-rata US$100-juta pada 2006-2007 setara Rp910-miliar per tahun.

Paman Sam

Selain 2 produk utama, tablet dan ekstrak PPARs, Wang kini mengolah alga menjadi beragam produk kebersihan seperti sabun, sampo, dan krim wajah. Ada lagi produk terbarunya: etanol cairan hasil fermentasi. Produk yang terakhir disebut itu diminati industri bahan bakar nabati asal Amerika Serikat. Hasil fermentasi itu memang berpotensi besar menjadi bahan bakar kendaraan bermotor.

Belum lama ini perusahaan di negeri Paman Sam itu menawar teknologi penemuan bahan bakar dengan harga US$500-juta setara Rp4.500-miliar. Namun, pria 70 tahun yang tetap energik itu menolak. Penolakan itu karena, ‘Saya ingin mengusahakan sendiri karena takut perusahaan besar itu memakan perusahaan yang kecil,’ ujarnya. Alasan lain, ‘Saya ingin menunjukkan, Taiwan itu kecil, tapi dari segi teknologi, dunia tidak merendahkannya.’

Menurut Wang produksi bahan bakar asal alga lebih cepat ketimbang tebu yang baru dipanen pada umur 12 bulan. Sekarang setelah kesuksesan ia raih, banyak orang mendekatinya. ‘Semua mau bekerja sama dengan saya,’ katanya. Hal yang lumrah karena rekeningnya kian gemuk seiring dengan diterima temuannya di berbagai negara. Menurut Wei Chi Liang, mitra kerjanya, pemberian nama Wang Shun Te memang tepat. Wang bermakna raja, shun beruntung atau lancar, dan Te berarti moralitas.

Sikap-sikap itu ada pada sang penemu yang dianggap bodoh dan gila. Lihatlah sikapnya yang rendah hati: sebagian laba perusahaannya disisihkan untuk Yayasan Chin Yang-diambil dari nama almarhum anak semata wayangnya-untuk kegiatan sosial. Orangtuanya tak salah memberikan nama yang indah itu: Wang Shun Te. (Sardi Duryatmo)

href=’http://infokit.trubus-online.com/’>infokit

CRYPTOMONADALES
SI RAJA ALGA

Cryptomonadales terbukti dapat menyembuhkan diabetes, hipertensi, antikolesterol, dan antikanker.
Bukti sang Raja memang Istimewa
Cryptomonadales Makhluk Mini Kaya Gizi


Hub:

Yemi

081575251048 / 024-70298822

 

e-mail

Yemi

 

3 Agustus 2007

3 Agustus 2008

 

 

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img