Trubus.id — Asparagus memiliki harga jual tinggi yakni Rp60.000 per kilogram. Itu menjadi salah satu alasan masyarakat di Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali, banyak membudidayakan asparagus. Hingga akhirnya Desa Palaga dikenal sebagai sentra asparagus.
I Nyoman Sudarta, salah seorang warga, rutin memanen 15 kilogram asparagus Asparagus officinalis setiap hari. Harga jual asparagus Rp30.000 per kilogram sehingga omzet Sudarta Rp450.000 per hari. Artinya, omzet saban bulan mencapai Rp13,5 juta.
“Pasar asparagus masih terbuka luas dengan harga yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan komoditas hortikultura lainnya,” kata Sudarta.
Ia membudidayakan asparagus di lahan 6.000 m2, semula hanya 500 m2. Sudarta menanam asparagus varietas UC 157. Asparagus menyukai tanah lempung berpasir. Sudarta menanam asparagus berjarak tanam 30–40 cm dan jarak antarbedeng 1,5 meter.
Ia mengandalkan pupuk kandang ayam petelur dan sapi. Pupuk kandang ayam berasal dari Tabanan, sedangkan pupuk kandang sapi dari Desa Pelaga. Kebutuhan pupuk 2–3 truk yang masing-masing berkapasitas 3 ton.
Menurutnya, total kebutuhan pupuk 6–9 ton per hektare. Ia merawat asparagus sepenuh hati. Saat musim hujan pada Desember serangan cendawan meningkat. Langkah mengantisipasinya dengan memasang sungkup atau atap plastik setinggi 170–180 cm dari permukaan tanah.
Sayangnya, hujan deras dan angin kencang kerap merusak atap plastik. Pria kelahiran Badung itu pun menggunakan fungisida berbahan aktif azoxystrobin dan difenoconazole berkonsentrasi 0,5 cc per liter air untuk mengatasi cendawan.
Sudarta memanen asparagus perdana pada 6–9 bulan setelah penanaman. Selanjutnya, ia menuai rebung tanaman anggota famili Asparagaceae itu 1,5 bulan kemudian. Terhitung, ia bisa memanen 3–4 kali dalam setahun. Sudarta terbilang setia mengembangkan asparagus, sebab sudah sejak 2010 ia terjun di dunia asparagus.
Di Desa Pelaga terdapat sekitar 5 hektare lahan yang ditanami asparagus. I Gusti Ayu Putu Putri, pengawas koperasi di Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kabupaten Badung, menjelaskan, Desa Pelaga terkenal sebagai sentra asparagus di Pulau Bali. Tepatnya di Dusun Bukian, Kiadan, Sidan, dan Auman.
Pengembangan program satu desa satu produk (one village one product) untuk komoditas asparagus merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Taiwan, Kementerian Pertanian, serta Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah yang dilakukan sejak 2009.
