Wednesday, June 17, 2026

Aren Genjah, Si Emas Hijau yang Panen Lebih Cepat

Rekomendasi

Trubus.id-Tanaman aren (Arenga pinnata) kini tak lagi identik dengan pohon tinggi di hutan. Varietas genjah yang lebih pendek dan cepat berbuah kini menjadi primadona baru para pekebun.

Di Kabupaten Deliserdang, Sumatra Utara, Ilham Saputra, S.E., mengembangkan aren genjah di kebun percontohan miliknya. Tanaman ini hanya tumbuh setinggi 3–5 meter, namun sudah mampu menghasilkan mayang dan nira.

Ilham mulai menanam 300 bibit aren genjah varietas Kutim—akronim dari Kutai Timur, Kalimantan Timur—sejak tahun 2012. Saat ini, semua tanamannya sudah memasuki usia produktif antara 5 hingga 10 tahun.

“Semua jenis aren genjah,” kata Ilham, yang juga lulusan Universitas Sumatera Utara. Dari satu tanaman, ia memanen 5–15 liter nira per hari, dengan masa sadap sekitar 2,5 bulan per mayang.

Awalnya, Ilham hanya menanam aren sebagai pembatas kebun durian. Namun sejak panen perdana tahun 2017, ia terpikat dengan hasil dan kecepatan panennya.

“Mengetahui panennya bisa setiap hari, makin tertarik mengembangkan,” ujar Ilham, yang kini mengekspor gula aren ke Turki. Ia telah mengembangkan hingga 5.000 pohon aren genjah di atas lahan 6 hektare.

Melalui kemitraan di seluruh Indonesia, ekspansi Ilham sudah mencakup 250.000 tanaman sejak 2019. Waktu panen yang hanya 5 tahun jauh lebih cepat dibandingkan aren hutan yang bisa mencapai 12–20 tahun.

Tinggi tanaman yang hanya 5–7 meter juga memudahkan penderes dalam memanen nira. Sebagai perbandingan, aren hutan bisa tumbuh hingga 20 meter.

Aren lokal atau hutan memang memiliki keunggulan dari segi produksi nira yang tinggi, yakni 20–30 liter per hari. Namun, waktu tunggu panen yang lama membuat aren genjah lebih menguntungkan untuk dibudidayakan.

Contoh lain datang dari Arinal Hayat Sitepu, pekebun di Kota Medan. Ia menanam 200 tanaman aren genjah secara bertahap di lahan 3.000 m² sejak 2013 hingga 2020.

Bibit didatangkan dari Kalimantan Timur dan mulai berproduksi dalam 5 tahun. Saat ini, baru 20% dari total tanaman yang sudah panen, dengan hasil 5–12 liter nira per tanaman per hari.

Peneliti aren dari BRIN, Ir. Elsje Tineke Tenda, M.S., menyebut beberapa varietas unggulan lain yang potensial dikembangkan. Di antaranya akel tomuung, parasi, dan smulen ST1.

Akel tomuung memiliki hasil tinggi dan masa produksi lebih lama, yakni 25–30 liter per hari selama 4 bulan. Sementara aren konvensional hanya menghasilkan 15–20 liter selama 2 bulan.

Varietas parasi tergolong semigenjah, dengan tinggi hanya 7 meter dan produksi 13–15 liter per hari. Masa sadapnya pun cukup lama, sekitar 2–4 bulan.

Adapun Smulen ST1 unggul dari sisi produktivitas, yakni 15 liter per mayang per hari, lebih tinggi dibandingkan genjah biasa. Elsje menyarankan petani menanam secara bertahap agar panen berlangsung berkelanjutan.

Dengan banyaknya pilihan varietas unggul, petani kini punya lebih banyak opsi untuk mengembangkan si emas hijau ini. Budidaya aren pun semakin menjanjikan sebagai sumber nira dan bahan baku gula berkualitas tinggi.


Artikel Terbaru

Kementan Mulai Salurkan Benih Tebu Unggul untuk Pengembangan Kebun Rakyat

Kementerian Pertanian mulai menyalurkan benih tebu unggul asal Kebun Benih Datar (KBD) secara berjenjang melalui mitra penangkar. Program itu...

More Articles Like This