Ekstrak kayu secang dan jahe merah terbukti secara ilmiah berefek antiplatelet yang secara tidak langsung melindungi jantung
Rasa sakit yang tidak terperikan di bagian dada sebelah kiri mendera Ayi Nur Lubis. Napasnya juga terasa seperti sesak.
Tak tahan dengan sakitnya itu, pria asal Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, itu meminta sang istri untuk mengantar ke rumah sakit terdekat demi mendapatkan pertolongan pertama.
Setibanya di sana, Ayi langsung mendapatkan pertolongan dari Unit Gawat Darurat (UGD). Setelah mendapat pemeriksaan, sang dokter mengatakan Ayi terkena gejala penyakit jantung dan harus memperoleh perawatan yang lebih intensif.
Dokter lantas merujuk ke rumah sakit di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, agar Ayi mendapat perawatan yang lebih lengkap. Karena khawatir berdampak buruk, ia pun menuruti.
Keesokan hari ia menuju rumah sakit yang dirujuk di Kota Bandung. Ternyata benar, setelah pemeriksaan dilakukan ternyata pembuluh darah ke jantung terdapat penyumbatan hingga 90%.
Akibatnya, sang dokter menyarankan Ayi untuk menjalani operasi pemasangan ring. Sayangnya, ia harus menunggu antrian untuk operasi.
“Nanti pihak rumah sakit akan memberi kabar tentang jadwal operasi,” kata Ayi.
Dokter pun hanya bisa memberi obat-obatan untuk meringankan gejala yang dialami. Setelah 10 hari dirawat di rumah sakit, ia pun diperbolehkan pulang dengan bekal seabrek obat-obatan.
Setiap bulan ia juga mesti pemeriksaan rutin dan memperoleh obat-obatan untuk bulan berikutnya. Menurut dosen Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr.rer.nat. Nanang Fakhrudin, S.F., M.Si., Apt., dalam situs Universitas Gadjah Mada penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab kematian tertinggi.
Penyakit itu dapat disebabkan oleh ketidaknormalan platelet atau dikenal sebagai trombosit atau keping darah. Inflamasi di dinding vaskuler menyebabkan radang kronis dan memicu agregasi platelet.
Inflamasi itu merupakan salah satu penyebab terjadinya aterosklerosis. Aterosklerosis adalah penyakit pengerasan dan penyempitan pembuluh darah arteri akibat penumpukan plak (lemak, kolesterol, dan zat lain) di dinding pembuluh darah.
Kondisi itu bersifat kronis, berkembang perlahan, dan dapat menyebabkan komplikasi serius. Misal serangan jantung karena terhambatnya aliran darah.
Saat ini aspirin dan kombinasinya menjadi obat pilihan antiplatelet. Namun, pengobatan itu memiliki efek samping.
Oleh karena itu, penemuan obat baru yang memiliki aktivitas antiplatelet sangat dibutuhkan. Hal itulah yang mendorong dosen dan peneliti dari Bidang Farmakologi, Fakultas Farmasi, Universitas Indonesia (FF UI), apt. Meidi Utami Puteri, S.Farm., M.Sc., Ph.D., melakukan penelitian untuk mengeksplorasi efek antiplatelet dari bahan alam.
Salah satunya dari ekstrak kombinasi kayu secang (Caesalpinia sappan) dan jahe merah (Zingiber officinale var. Rubrum). Penelitian itu juga mempertimbangkan peningkatan potensi terapeutiknya ketika kedua ekstrak berfungsi sinergis.
Ia memilih kedua tanaman itu karena kombinasi tanaman ini telah digunakan dalam wedang uwuh. Produk itu merupakan minuman tradisional khas Jawa dan diketahui memberikan banyak manfaat kesehatan.
Dalam penelitian itu, Meidi menggunakan tikus Wistar jantan berumur tiga bulan dengan bobot 200—300 g. Ia mengelompokkan tikus-tikus itu menjadi enam kelompok, masing-masing berisi tiga tikus.
Kelompok I sebagai kelompok kontrol yang mendapat diet normal selama total 10 minggu dan 0,5% CMC 3 ml/200 g bobot badan/hari secara oral selama 2 minggu. Kelompok II menjadi kelompok negatif yang memperoleh diet tinggi lemak (HFD) selama 8 minggu dan 0,5% CMC 3 ml/200 g bobot badan/hari secara oral selama 2 minggu.
Adapun kelompok III merupakan kelompok positif yang diberi diet tinggi lemak (HFD) selama 8 minggu dan suspensi aspirin 1,5 mg/200 g bobot badan/hari secara oral selama 2 minggu.
Pada kelompok IV Meidi memberikan diet tinggi lemak (HFD) selama 8 minggu dan kombinasi 50 mg ekstrak kayu secang + 200 mg ekstrak jahe merah selama 2 minggu.
Tikus pada kelompok V mendapatkan diet tinggi lemak (HFD) selama 8 minggu dan kombinasi 100 mg ekstrak kayu secang + 400 mg ekstrak jahe merah selama 2 minggu.
Pada kelompok VI ia memberikan diet tinggi lemak (HFD) selama 8 minggu dan kombinasi 200 mg ekstrak kayu secang + 800 mg ekstrak jahe merah selama 2 minggu.
Hasil penelitian menunjukkan, seperti yang tercantum dalam jurnal yang diterbitkan Scopus nomor 5543717 volume 2024, hipertrigliseridemia dan hiperkolesterolemia yang diet tinggi lemak (HFD) secara sinergis meningkatkan hiperaktivitas trombosit setelah 8 minggu induksi.
Menariknya pemberian semua dosis kombinasi ekstrak kayu secang dan jahe merah selama 2 minggu secara signifikan menurunkan penanda aktivasi trombosit. Untuk lebih memahami hubungan aktivasi trombosit dan efek antiplatelet dari kombinasi ekstrak, Meidi menganalisis kadar plasma RANTES, P-selectin, PF-4, TxA2, dan PCSK9.
Selain itu, kombinasi ekstrak kayu secang dan jahe merah pada dosis 200 mg ekstrak kayu secang + 800 mg ekstrak jahe merah secara signifikan memperlambat waktu perdarahan tikus dibandingkan dengan kontrol negatif. Dengan hasil itu disimpulkan bahwa kombinasi ekstrak kayu secang dan jahe merah berpotensi sebagai agen antiplatelet alami.
Menurut Meidi keampuhan kayu secang dan jahe merah sebagai antiplatelet alami karena kedua bahan itu mengandung senyawa fenolik. Kayu secang memiliki efek kardioprotektif.
Beberapa metabolit seperti brazilin, brazilein, dan sappanone, telah diisolasi dan diidentifikasi dari ekstrak kayu secang. Senyawa brazilin dari kayu secang menunjukkan aktivitas antitrombotik.
Aktivitas itu adalah kemampuan suatu zat atau obat untuk mencegah atau mengobati pembentukan trombus (gumpalan darah) dengan cara menghambat agregasi platelet (pembekuan darah) yang berlebihan.
Selain efek antiinflamasi dan antioksidannya, jahe telah dikenal memiliki efek antiplatelet karena mengandung gingerol dan shogaol. Menariknya, jahe merah dilaporkan mengandung senyawa (6)-gingerol, (6)-shogaol, dan gingerdione dengan konsentrasi tinggi yang diyakini berkontribusi pada efek farmakologisnya.
Dosen dan ahli herbal dari Fakultas Farmasi, Universitas Ahmad Dahlan, Dr. apt. Kintoko, M.Sc., belum pernah menggunakan kayu secang dan jahe merah untuk antiplatelet. “Saya biasanya pakai kapulaga, kunyit, dan spirulina,” ujar peraih gelar doktor dari Guangxi Medical University itu.
Cukup rebus masing-masing 5 g kapulaga dan kunyit dalam 3 gelas air hingga tersisa 1 gelas, lalu minum bersama 2 kapsul spirulina 500 mg. Ramuan itu diminum 3 kali sehari.
Duduk perkara ketiga bahan alam itu menghambat agregasi trombosit dengan cara menghambat jalur aktivasi, yaitu dengan mengganggu sinyal biokimia yang membuat trombosit aktif. Ketiga herbal itu juga ampuh mencegah trombosit menempel pada dinding pembuluh darah, serta mengurangi efektivitas bahan kimia (seperti trombin) yang memicu penggumpalan. (Imam Wiguna)
