Kebutuhan pasar dunia meningkat dan sentra besar Madagaskar rusak karena topan ditengarai memicu naiknya harga vanili hingga Rp4 juta per kg. Peluang besar bagi pekebun di Indonesia untuk merebut pasar dunia.
Magori atau panen perdana menggembirakan Aventinus Sadip. Pekebun di Desa Golopaku, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, itu menuai 30 kg vanili kering—hasil penjemuran 120 kg polong segar. Pengepul memborong vanili itu dengan harga fantastis, Rp4,2 juta per kg pada Agustus 2018. Omzet ayah 6 anak itu Rp126 juta. Sebulan kemudian, ia mengunjungi salah satu anaknya di Denpasar, Provinsi Bali.
Sadip menanyakan harga kepada salah satu pedagang. Ia terkejut karena harga di sana Rp5,8 juta per kg. “Selisih harga sekilogram saja cukup untuk ongkos pergi pulang Manggarai-Denpasar,” ujarnya. Kepala Urusan Pemerintahan Desa Golopaku itu yakin panen mendatang meningkat seiring pertambahan umur tanaman. Harap mafhum, tanaman vanili Sadip baru berumur 2 tahun.
Polong segar

Aventinus Sadip membudidayakan vanili pada 2016. Di belakang rumahnya ia menanam 120 tanaman anggota famili Orchidaceae itu. Tanaman merambati pokok gamal. Ketika berumur 2 tahun itulah sebuah tanaman memberikan masing-masing 1 kg segar polong harum. Pada Mei 2018, ia memetik 120 kg buah vanili segar umur 8 bulan dari 120 tanaman.
Di Kota Palopo, Sulawesi Selatan, Suhayyah berumrah setelah menjual 100 kg lebih vanili kering. Dengan harga Rp2,2 juta pada 2016, perempuan 48 tahun itu menangguk penghasilan Rp220 juta. Tahun berikutnya ia berangkat ke tanah suci dan menyandang gelar “haji vanili” sepulang ke tanah air. Di Jawa, pekebun belum sempat mengeringkan polong ketika pengepul mendesak untuk menjualnya.
Itulah sebabnya mereka menjual polong segar. Pekebun di Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Misbah, pada akhir April 2018 menjual 62 kg segar kepada pengepul. Tengkulak asal Malang, Jawa Timur, membayar Rp300.000 per kg sehingga Misbah hanya mendapat Rp18,6 juta. Menurut Misbah 1 kg kering berasal dari 6—7 kg polong segar.
Harsubeno—bukan nama sebenarnya—pengepul di perbatasan Jember—Bondowoso—mengantongi omzet Rp90 juta hanya dengan menjadi perantara. Ia membeli polong segar dari petani lantas mengirimkan ke pedagang pengolah. Harsubeno “hanya” mengutip laba Rp30.000 per kg.
Pemodal besar memilih jalur lain. Pedagang di Provinsi Bangka Belitung, sebut saja Jayanto (bukan nama sebenarnya). Pria kelahiran Jayapura, Papua, yang menjadi pengusaha konstruksi di Bangka itu bertransaksi langsung dengan pekebun di Papuanugini. Modal yang ia bawa cukup untuk membeli 700 kg vanili kering jenis tahiti Vanilla tahitensis.

Jayanto memilah (grading) sendiri vanili itu berdasarkan kualitas menjadi 3 kategori, kelas 2 (kadar air 25% lebih), kelas 1 (kadar air 20—25%), dan kualitas gourmet (polong utuh, lurus, berminyak tampak mengilap, tanpa cacat). Ia memanfaatkan rumah milik keluarga di Jayapura sebagai tempat pemilahan. Jayanto lantas menawarkan secara daring (online) melalui media sosial dan meraup omzet total Rp5,64 miliar dengan modal minim.
Informasi dari berbagai laman maya menyebutkan harga vanili kelas gourmet di tingkat dunia mencapai US$600 per kg kini setara Rp8,7 juta dengan kurs US$14.500. Namun, harga itu berfluktuasi setiap bulan mengikuti pasokan dan permintaan.
Tertinggi sepanjang sejarah
Tingginya harga menyebabkan laba bersih pekebun juga terdongkrak. Menurut Aventinus biaya produksi mengebunkan vaili sejatinya relatif kecil. Ia hanya mengandalkan seresah daun atau kayu dari kebun untuk pupuk. Pria 56 tahun itu tidak menyewa tenaga, ia mengerjakan sendiri sepulang bertugas di Kantor Desa Golopaku, Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat. Ia juga mampu mengawinkan sendiri. Jika produktivitas 0,4—0,7 kg per tanaman berumur 3 tahun, per 100 tanaman pekebun hanya perlu mengeluarkan kurang dari Rp1.000. per kg segar.

Biaya pengeringan rata-rata Rp3.000 per kg segar untuk membuat rak dan membeli serta menjahit kain pembungkus. “Biaya produksi vanili di sini rendah sekali. Sebut sajalah, Rp10.000 per kg vanili kering. Pekebun masih untung banyak,” kata Aventinus. Kenaikan harga yang luar biasa itu mulai terjadi sejak tahun lalu. Semula harga tertinggi “hanya” Rp2 juta pada 2016. Namun, harga jual polong kerabat anggrek itu terus membubung.
John S. Tumiwa yang rutin mengekspor vanili malah membeli polong pada para petani mitra Rp5 juta per kg kering. “Sepanjang sejarah inilah rekor harga tertinggi vanili,” ujar John S. Tumiwa kepada reporter Trubus, Tiffani Dias Anggraeni. John mengekspor hingga 200 kg vanili kering per tahun ke Amerika Serikat dan Eropa. Sejatinya permintaan dari pembeli di mancanegara lebih besar daripada itu.
“Pembeli terus meminta kiriman, tetapi kami tidak berani menyanggupi karena pasokan dari daerah tidak menentu jumlah maupun mutunya,” kata John. Ia mengirim vanili untuk memasok pasar ekspor dengan standar mutu panjang polong minimal 20 cm, kadar air maksimal 12%, dan warna cokelat gelap. Ia memperoleh pasokan rutin dari para petani mitra yang tesebar di Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Sejak 2016 direktur PT Dwipa Jaya Spices itu membuat kesepakatan atau kontrak dengan para petani agar menanam berkesinambungan. Jadi, meski harga turun, petani tetap bergairah merawat tanaman asal Meksiko itu. Harap mafhum, John membeli vanili lebih tinggi daripada harga pasaran. Sebagai gambaran, kini saat harga polong segar rata-rata 500.000 per kg, John membeli Rp800.000. Adapun harga polong kering hingga Rp5 juta, bahkan menyentuh Rp6 juta per kg.
“Hal itu diterapkan agar semua mitra mendapatkan keuntungan yang layak atas kerja kerasnya,” kata John yang rutin mengekspor vanili sejak 1986 itu. Begitu pula ketika harga jual anjlok, John tetap membeli vanili dari para petani dengan harga lebih tinggi daripada harga pasaran.

Eksportir lain PT Agri Spice Indonesia (PT ASI) di Klaten, Jawa Tengah, merasakan sulitnya bersaing mencari polong vanili. Banyak perusahaan lain yang juga ingin mendapatkan polong harum itu. “Permintaan belum terpenuhi, produksi di Indonesia kurang,” kata manajer pengolahan PT ASI, Ahmad. Sayang ia enggan mengungkap angka-angka rinci. Ia hanya menyebutkan tujuan pengiriman ke Amerika dan Eropa tanpa berkenan menyebutkan secara detail.
Hingga 10 tahun
John S. Tumiwa memprediksi harga bagus itu akan bertahan hingga 5—10 tahun. John mengatakan, kebutuhan vanili dunia terus meningkat. Industri membutuhkan polong harum itu sebagai bahan baku es krim atau berbagai jenis roti. Industri parfum menyuling polong sebagai bahan baku wewangian kelas dunia. Beberapa faktor lain juga memicu kenaikan harga itu. Menurut John komoditas bahan alam mempunyai siklus tertentu.

Ia menggolongkan vanili memiliki siklus 10 tahunan, artinya setiap periode itu terjadi ledakan harga. Merujuk kepada kondisi saat ini, selain karena siklus 10 tahunan, gejolak harga juga dipengaruhi perubahan iklim. Pada Maret 2018 badai kembali menghantam Madagaskar yang memicu banjir akibat hujan lebat.
Menurut direktur Authentic Products—pemasar vanili organik asal negara-negara Pasifik dan Madagaskar yang berpusat di Bordeaux, Perancis—Laurence Cailler, iklim Madagaskar kini mengkhawatirkan. Selain badai, musim hujan yang tidak menentu pun mempengaruhi produksi vanili. Musim hujan berkepanjangan pada 2015 membuat banyak vanili gagal berbunga.
Akibatnya produksi vanili anjlok menjadi hanya 1.300 ton dari biasanya yang melebihi 2.900 ton (baca: “Harga Bagus Hingga 2028” halaman 24). Meski demikian bukan berarti para pekebun melenggang begitu saja untuk menggemukkan rekening. Mereka menghadapi berbagai problem sejak di lahan hingga pemasaran (baca: “Aral Vanili Tiada Akhir” halaman 18).
Posisi yang terpisah di barat benua Afrika membuat Madagaskar rentan badai. Madagaskar memasok 70% vanili dunia. Artinya, Madagaskar terancam tidak lagi bisa mempertahankan dominasinya sebagai pemasok terbesar vanili dunia. Itu menjadi peluang besar bagi petani vanili di Indonesia untuk mengisi ceruk pasar. Saat ini, dengan harga mencapai Rp4 juta per kg kering, banyak pekebun tergiur menanam.
Gairah budidaya
Pekebun di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Rudy Ginting, menghimpun pekebun dari seluruh Indonesia dalam wadah Perkumpulan Petani Vanili Indonesia (PPVI). Mereka mengupayakan perhatian pemerintah kepada vanili. Menurut Rudy budidaya vinili bisa dilakukan di lahan sempit. Kepemilikan lahan pekebun rata-rata 1.000—5.000 m².

Selain itu petani juga dapat membudidayakan vanili di pot dengan produksi melimpah. Kondisi itu memungkinkan masyarakat perkotaan untuk membudidayakan vanili.
Ginting menyarankan agar calon pekebun selektif memilih spesies vanili. Genus Vanilla terdiri atas 110 spesies. Namun, tak semua spesies itu laku di pasaran. Menurut Ahmad pasar meminta polong Vanilla planifolia dan V. tahitensis. Salah memilih spesies berdampak buruk karena jenis dan bibit merupakan investasi jangka panjang. Apalagi banyak beredar bibit dari vanili liar yang tumbuh di hutan, V. albida. Buah vanili hutan itu tidak wangi, baunya justru merusak aroma ketika dicampur dengan polong vanili.
Ketika masyarakat bergairah menanam vanili, muncul spekulan bibit. Menurut pekebun di Cilacap, Arie Cahyadi, idealnya harga bibit berkisar Rp5.000—Rp7.000 per batang. Banyak penjual memasarkan bibit Rp10.000 per batang. “Kalau bibit mahal, orang yang bisa menanam terbatas,” katanya. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Hanna Hutagaol dan Tiffani Dias Anggraeni)
