Monday, January 26, 2026

Cara Muda Kerek Harga

Rekomendasi
- Advertisement -
Sabrina Mustopo membuat Krakakoa berbahan kakao lokal. (Dok. Krakakoa)

Banyak orang muda menerjuni kakao. Pekebun menikmati harga tinggi.

Trubus — Enam tahun Sabrina Mustopo menikmati karier sebagai konsultan di sebuah perusahaan multinasional. Pekerjaan itu membawanya ke berbagai negara di dunia. Alumnus International Agriculture Development, Cornell University, Amerika Serikat, itu menjadi tahu, Indonesia produsen kakao nomor 3 terbanyak di dunia. Ironisnya, kualitas kakao tanah air berada di kelas bawah.

Kondisi itu membuat Sabrina penasaran. Itulah sebabnya, perempuan 33 tahun itu menyelami berbagai literatur dan menemukan bahwa pemicunya adalah rendahnya harga kakao yang diterima pekebun. “Karena harga murah mereka merawat setengah hati. Tanpa perawatan yang baik, mutu biji rendah dan harganya murah,” kata Sabrina.

Geser tengkulak

Tengkulak mendominasi perdagangan kakao. Itu membuat pekebun harus pasrah terhadap harga yang dipatok tengkulak. “Padahal pekebun adalah produsen utama. Tanpa kakao dari pekebun, tidak ada industri maupun perdagangan cokelat,” kata Sabrina. Sebanyak 95% pasokan kakao berasal dari kebun rakyat, tapi pekebun kakao justru paling sedikit menikmati nilai tambah. Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian mencatat, produksi biji kakao Indonesia pada 2017 688.345 ton.

Menyasar kelas premium, Krakakoa mengutamakan penampilan cantik.

Itu menjadikan Indonesia sebagai produsen kakao ke-3 terbesar dunia setelah Pantaigading dan Ghana. Sabrina tergerak melihat ketidakadilan itu. Oleh karena itu, pada 2013, Sabrina menerjuni bisnis cokelat dengan merek Kakoa. Ia membekali diri dengan belajar pengolahan cokelat di Belgia.

Sebelum mendirikan Kakoa, ia datang langsung ke lahan untuk berbicara dengan pekebun. “Saya bilang, ‘Saya mau membayar lebih mahal kalau Anda memproduksi kakao bermutu’. Tentu mereka tidak percaya,” ujar Sabrina. Bekerja sama dengan badan konservasi lingkungan dunia World Wildlife Fund (WWF), pada 2014 ia mengadakan pelatihan bagi 60 pekebun kakao di Lampung selama hampir 2 bulan.

Minuman instan menjadi pembeda cokelat Nglanggeran. (Dok. Sugeng H)

Sejak itu pekebun percaya. Proses pascapanen menjadi hal terpenting. “Cara mengeringkan dan fermentasi biji kakao berpengaruh besar terhadap rasa cokelat,” kata Sabrina. Tidak sekadar bicara, Sabrina membeli biji hasil fermentasi terstandar itu 2 kali lipat harga biji konvensional.

Ia juga membayar lebih mahal pekebun atau tenaga pengolah yang memanen atau memproses biji. Kini Krakakoa—perusahaan milik Sabrina— menampung produk dari 250 pekebun mitra. Pada 2016, Sabrina melakukan rebranding Kakoa menjadi Krakakoa, penghormatan kepada gunung Krakatau di antara Jawa dan Sumatera. Ia merekrut personil baru untuk menangani pemasaran, kendali mutu, dan media sosial.

Dodol dan minuman

Sugeng Handoko, S.T., penggagas industri cokelat Nglanggeran. (Dok. Sugeng H)

Pembalikan pola pikir pekebun kakao juga dilakukan pegiat wisata lokal di Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta, Sugeng Handoko, S.T. Kakao ditanam di sana sejak 1985, tapi masyarakat hanya bisa menjual kepada 1 industri pengolah.

“Kakao tumbuh di hampir semua pekarangan rumah di Patuk,” kata Sugeng. Namun, dengan kepemilikan rata-rata kurang dari 100 batang, kakao tidak banyak menyumbang pendapatan pekebun meski digadang-gadang sebagai produk unggulan. Sejak 2014, desa itu menjadi tujuan pelancong.

Sugeng ingin memanfaatkan arus wisatawan untuk meningkatkan perekonomian warga desa. Alumnus jurusan Teknik Industri Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta itu mengajak pekebun mengolah alih-alih menjual biji kering. Dengan pendekatan kepada ketua kelompok tani atau tokoh masyarakat, pekebun mengikuti sarannya. Apalagi mereka melihat derasnya arus pelancong yang datang berpelesir, terutama saat libur panjang.

Di belakang Griya Cokelat Nglanggeran ada 600 pekebun dan 15 pekerja.

Bekerja sama dengan Dinas Perkebunan, LIPI, dan Bank Indonesia, pada akhir 2016 hadir etalase cokelat bernama Griya Cokelat Nglanggeran. Sugeng juga menggagas paket wisata pengolahan cokelat berbasis masyarakat dengan mengandalkan rumah warga sebagai rumah inap. Produk andalan mereka utamanya dodol cokelat dan minuman cokelat instan, sebagai pembeda dari industri besar.

Sugeng menyatakan, “Budidaya, pengolahan pascapanen, produksi olahan, dan penjualan dilakukan masyarakat,” ujarnya. Kini 600 pekebun kakao Nglanggeran menikmati peningkatan pemasukan. Itu belum termasuk 15 pegawai di pengolahan dan penjualan. Harga biji kakao asalan hanya Rp12.000—Rp15.000, pascafermentasi menjadi Rp23.000—Rp30.000 per kg.

Sabrina Mustopo dan Sugeng Handoko hanya 2 dari banyak orang muda dan berpendidikan tinggi yang menerjuni industri kakao dan meningkatkan penghasilan pekebun. Presiden ke-1 RI Ir. Soekarno mengatakan, Beri aku 10 pemuda, akan kuguncang dunia.” Saat kaum muda turun tangan, perubahan pasti terjadi. (Argohartono Arie Raharjo)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img